Minggu, 10 Mei 2026

Relawan Prabowo: Mending Jadi Lawan Politik Lebih Dihargai Prabowo Daripada Relawan Loyalis

 

Relawan Prabowo Non-Partai: Pejuang Kemenangan yang Terlupakan

Oleh: Anak Lanang

Kemenangan politik selalu melahirkan dua kelompok.

Kelompok pertama adalah mereka yang berada di panggung saat kemenangan diumumkan.

Kelompok kedua adalah mereka yang sejak awal berdarah-darah di jalanan, tetapi perlahan dilupakan setelah kekuasaan benar-benar berdiri.

Hari ini, banyak relawan non-partai pendukung Prabowo Subianto mulai merasakan kenyataan pahit itu.

Mereka melihat satu per satu posisi strategis diisi oleh:

kader partai,

elite koalisi,

mantan lawan politik,

relawan “instan” yang muncul menjelang pemilu,

hingga jaringan lama kekuasaan era Joko Widodo.

Sementara relawan akar rumput yang bertahun-tahun menjaga Prabowo ketika dihina, dicaci, difitnah, bahkan dianggap ancaman negara, justru banyak yang tetap berdiri di luar pagar kekuasaan.

Inilah yang mulai melahirkan kekecewaan diam-diam di bawah.

Bukan semata karena jabatan.

Tetapi karena merasa perjuangan mereka dianggap tidak memiliki nilai politik.

Relawan non-partai sesungguhnya adalah kelompok paling unik dalam perjalanan politik Prabowo. Mereka bergerak bukan karena struktur partai, bukan karena kontrak kekuasaan, bahkan banyak yang bergerak dengan biaya pribadi, menghadapi tekanan sosial, cibiran, hingga risiko ekonomi.

Mereka adalah orang-orang yang dulu tetap memasang baliho ketika Prabowo kalah.

Tetap membuat narasi ketika media menyerang.

Tetap berdiri ketika banyak elite mulai menjauh.

Tetapi setelah kemenangan datang, peta kekuasaan berubah.

Yang lebih dominan justru:

elite partai,

jaringan birokrasi,

kelompok transaksional,

dan relawan yang punya akses langsung ke lingkar kekuasaan.

Di sinilah muncul kalimat sinis yang mulai beredar di akar rumput:

 “Relawan di kubu Prabowo tidak dipandang.”

Kalimat itu keras, tetapi lahir dari rasa kecewa yang nyata.

Karena sebagian relawan merasa bahwa loyalitas panjang ternyata kalah penting dibanding kedekatan struktural dan kemampuan membangun akses politik.

Mereka membandingkan situasi ini dengan era relawan Jokowi.

Pada masa Joko Widodo, banyak relawan berhasil naik kelas menjadi:

komisaris,

staf khusus,

deputi,

pejabat BUMN,

bahkan menteri.

Sementara di era Prabowo, banyak relawan non-partai merasa proses akomodasi berjalan jauh lebih lambat dan lebih selektif.

Mengapa itu terjadi?

Karena pemerintahan Prabowo hari ini sangat bertumpu pada konsolidasi partai koalisi. Stabilitas pemerintahan membutuhkan pembagian ruang kepada:

Gerindra,

Golkar,

Demokrat,

PAN,

PSI,

dan jaringan kekuasaan lama.

Akibatnya, relawan non-partai sering tidak memiliki kendaraan politik yang cukup kuat untuk menekan atau menegosiasikan posisi.

Mereka punya loyalitas, tetapi tidak punya struktur.

Mereka punya militansi, tetapi tidak punya bargaining politik.

Dan dalam politik modern, kekuasaan sering kali lebih menghitung kekuatan organisasi dibanding romantisme perjuangan.

Namun pemerintahan Prabowo juga perlu memahami satu hal penting:

Relawan akar rumput bukan sekadar alat kampanye lima tahunan.

Mereka adalah energi sosial yang menjaga legitimasi moral seorang pemimpin.

Jika kelompok ini terus merasa diabaikan, maka perlahan akan lahir apatisme politik di kalangan basis loyalis sendiri. Mereka mungkin tidak akan melawan, tetapi mereka bisa berhenti percaya.

Dan ketika relawan mulai kehilangan keyakinan, maka kekuasaan kehilangan fondasi emosionalnya.

Karena sesungguhnya kemenangan Prabowo bukan hanya dibangun oleh elite partai.

Kemenangan itu juga dibangun oleh:

orang-orang kecil yang bertahan sejak 2014,

relawan yang tidak pernah masuk televisi,

pejuang digital yang bekerja tanpa bayaran,

serta kelompok akar rumput yang menjaga nama Prabowo di tengah badai politik panjang.

Mereka mungkin tidak meminta semua diberi jabatan.

Tetapi mereka ingin dihargai sebagai bagian dari sejarah perjuangan itu sendiri.

Jika tidak, maka akan muncul ironi politik terbesar orang-orang yang paling lama menjaga api perjuangan justru menjadi kelompok terakhir yang merasakan hangatnya kemenangan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

terima kasih atas komentar anda