Senin, 04 Mei 2026

Pencabulan Masal Salah Satu Pesantren Di Pati: Runtuhnya Pagar Moral di Hari Pendidikan Nasional Saatnya Kembali ke Jalan Ki Hadjar Dewantara

 

Oleh: Indria Febriansyah

(Pengamat Politik, Analis Kebijakan Publik Generasi Muda Tamansiswa, Mantan Aktivis Mahasiswa, Pendiri Forum BEM DIY, Ketua Umum Kabeh Sedulur Tamansiswa Indonesia, Pendiri Koperasi Barisan Alumni Tamansiswa Nusantara, Penggagas Revitalisasi Pemuda Tamansiswa, Koordinator Aliansi Masyarakat Pendukung Presiden Prabowo, Sekretaris Ikatan Relawan Prabowo Merah Putih Se-Indonesia)

-----------------------------

Setiap tanggal 2 Mei, bangsa ini memperingati Hari Pendidikan Nasional sebagai momentum refleksi. Namun tahun ini, peringatan tersebut terasa getir. Alih-alih merayakan kemajuan, kita justru dihadapkan pada tragedi runtuhnya moral di dunia pendidikan kasus dugaan pencabulan massal di sebuah pesantren di Pati menjadi tamparan keras yang tidak bisa lagi ditutup dengan retorika.

Ini bukan sekadar kejahatan individu. Ini adalah kegagalan sistemik. Ini adalah bukti bahwa pendidikan kita, dalam banyak aspek, telah kehilangan ruhnya.

Dan di titik inilah, nama besar Ki Hadjar Dewantara tidak boleh hanya menjadi slogan seremonial tahunan. Ia harus kembali menjadi jalan pulang.

Pendidikan yang Kehilangan Arah Dari Memanusiakan Menjadi Membungkam

Ajaran Ki Hadjar Dewantara dibangun di atas prinsip besar memanusiakan manusia. Namun tragedi ini justru menunjukkan kebalikannya pendidikan dijadikan alat dominasi, bukan pembebasan.

Dimensi Cipta (IQ) yang seharusnya melahirkan kemerdekaan berpikir, justru dimatikan. Santri tidak dididik untuk bertanya, tetapi dipaksa untuk tunduk. Doktrin menyimpang dijadikan alat legitimasi. Ini bukan pendidikan ini adalah penjajahan intelektual dalam wajah baru.

Jika nalar dibungkam, maka manusia akan kehilangan kemampuan paling mendasar: membedakan kebenaran dan kebohongan.

Ketika Rasa Mati, Kekuasaan Menjadi Predator

Dimensi Rasa (EQ) dalam ajaran Ki Hadjar menuntut empati, kehalusan budi, dan kasih sayang. Namun yang terjadi justru sebaliknya: relasi pendidikan berubah menjadi relasi kuasa yang eksploitatif.

Korban yang berasal dari latar belakang rentan justru dijadikan sasaran. Ketakutan dimanfaatkan. Ketergantungan dieksploitasi.

Di sini kita melihat fakta pahit tanpa empati, ilmu setinggi apa pun hanya akan melahirkan manusia yang berbahaya.

Spiritualitas yang Menyimpang: Agama Tanpa Budi Pekerti

Dimensi Karsa (SQ/Budi Pekerti) adalah puncak pendidikan menurut Ki Hadjar Dewantara. Namun tragedi ini menunjukkan bagaimana spiritualitas bisa dipelintir menjadi alat pembenaran kebejatan.

Ketika agama dijadikan tameng untuk menipu, ketika moral bisa ditukar dengan uang, maka yang hancur bukan hanya individu tetapi kepercayaan publik terhadap institusi pendidikan itu sendiri.

Inilah krisis terdalam kita: kehilangan budi pekerti dalam sistem yang mengaku mendidik moral.

Hari Pendidikan Nasional Tidak Boleh Berhenti di Upacara

Momentum Hari Pendidikan Nasional harus menjadi garis tegas kita tidak bisa lagi menunda pembenahan.

Negara tidak boleh lambat. Aparat penegak hukum tidak boleh ragu. Siapa pun pelakunya, sekuat apa pun jaringannya, harus diproses secara transparan dan tegas.

Lebih dari itu, kita harus berani melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pendidikan termasuk pendidikan berbasis keagamaan tanpa stigma, tetapi dengan keberanian moral.

Karena jika tidak, kita sedang membiarkan bom waktu sosial terus berdetak.

Kembali ke Ki Hadjar Bukan Nostalgia, Tapi Revolusi

Kembali ke ajaran Ki Hadjar Dewantara bukan berarti mundur ke masa lalu. Justru sebaliknya ini adalah langkah revolusioner untuk menyelamatkan masa depan.

Kita membutuhkan pendidikan yang:

Memerdekakan pikiran (Cipta) → agar generasi tidak mudah dimanipulasi

Menghidupkan empati (Rasa) → agar kekuasaan tidak berubah menjadi penindasan

Menegakkan integritas (Karsa) → agar moral tidak bisa dibeli

Inilah trilogi pendidikan sejati yang harus dihidupkan kembali bukan di buku teks, tetapi dalam praktik nyata.

Jangan Biarkan Pendidikan Menjadi Topeng Kejahatan

Tragedi ini adalah peringatan keras: lembaga pendidikan tanpa budi pekerti adalah ancaman bagi peradaban.

Hari Pendidikan Nasional tidak boleh lagi sekadar seremoni penuh slogan. Ia harus menjadi titik balik momentum nasional untuk membersihkan dunia pendidikan dari penyimpangan, sekaligus meneguhkan kembali arah yang benar.

Jika kita gagal mengambil pelajaran hari ini, maka kita sedang mempertaruhkan masa depan generasi bangsa.

Dan jika pendidikan tidak lagi memanusiakan manusia, maka yang tersisa hanyalah sistem tanpa jiwa yang suatu saat akan runtuh oleh kebusukannya sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

terima kasih atas komentar anda