Idul Adha di Pemukiman Kumuh Jakarta
Di depan sebuah masjid kecil, saya duduk bersama beberapa warga. Saya bertanya ringan kepada seorang bapak yang akrab dipanggil Bang.
"Bang, Idul Adha kali ini kok sepi ya?"
Ia tersenyum kecil. Senyum yang lebih mirip menutupi kesedihan.
"Iya, Bang... beda sama tahun-tahun lalu."
"Lho, kenapa?"
Beliau menatap ke arah halaman masjid.
"Biasanya banyak yang kurban. Sekarang sedikit sekali."
Saya diam.
Beliau melanjutkan pelan.
"Jujur saja Bang... buat orang seperti kami, Idul Adha itu bukan sekadar hari raya. Kami nunggu daging segar. Setahun bisa jadi cuma sekali ngerasain."
Kalimat itu menghantam hati saya.
Ternyata bagi sebagian orang, yang bagi sebagian lainnya adalah rutinitas ibadah tahunan, bagi mereka adalah momen besar yang ditunggu. Kesempatan anak-anak merasakan lauk lebih baik. Kesempatan keluarga makan sedikit lebih layak.
Saya terdiam lama.
Di titik itu saya tidak sanggup bicara tentang teori ekonomi. Tidak sanggup bicara angka pertumbuhan, indeks, statistik, atau debat politik di televisi.
Saya menyalakan sebatang rokok.
Asap saya hembuskan jauh ke depan.
Lalu dalam hati saya berbisik:
"Ya Allah... berat sekali menjadi rakyat kecil di negeri yang kaya ini."
Saya memahami satu hal. Di negeri ini sedang ada pertarungan besar. Pertarungan tentang arah ekonomi bangsa. Pertarungan tentang siapa yang menguasai kekayaan negeri; rakyat atau segelintir kelompok yang sudah terlalu lama nyaman menikmati sistem yang tidak adil.
Saya percaya Presiden Prabowo Subianto memiliki niat baik membangunkan semangat Pasal 33 UUD 1945: bumi, air, dan kekayaan alam untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
Namun saya juga percaya, perubahan besar tidak pernah datang tanpa perlawanan.
Ada kepentingan besar yang terusik. Ada mafia, oligarki, para pemburu rente, dan birokrasi yang selama ini terbiasa hidup nyaman dari sistem lama. Saat ada upaya membenahi keadaan, gesekan itu pasti terjadi.
Tetapi saat duduk di pinggir kali itu, saya mendengar suara lain di hati saya:
"Mereka tidak sedang memikirkan teori pertarungan itu."
Mereka hanya ingin makan hari ini.
Mereka hanya ingin anaknya tersenyum.
Mereka hanya ingin perut kenyang dan dahaga terobati.
Saya menoleh kepada Bang tadi.
"Bang, sabar ya."
Beliau tersenyum kecil.
"Sabar gimana Bang?"
Saya memegang pundaknya.
"Kita berdiri tegak sebentar lagi. Kalau perubahan ini memang untuk rakyat, jangan sampai kita menyerah di tengah jalan."
Beliau diam.
Saya melanjutkan:
"Kalau rakyat bersatu, kalau kita kuat berdiri bersama, insyaAllah kemenangan kepentingan rakyat akan datang. Tapi perjuangan memang kadang meminta kita bertahan dulu."
Saya melihat anak-anak kecil berlarian di gang sempit. Sebagian masih membawa kantong plastik kecil berisi daging yang mereka dapat.
Saya tersenyum.
Di tengah keterbatasan, harapan ternyata masih hidup.
Dan saya percaya, kemenangan rakyat tidak lahir dari kemarahan semata. Kemenangan lahir dari persatuan, kesabaran, dan keyakinan bahwa negeri ini terlalu besar untuk dikuasai segelintir kepentingan.
Idul Adha di pinggir kali Maphar mengajarkan saya satu hal:
Perjuangan kedaulatan ekonomi bukan sekadar soal kebijakan negara. Di ujungnya ada wajah rakyat kecil yang nasibnya dipertaruhkan.
Dan selama masih ada rakyat yang bertahan dengan harapan, kita tidak boleh berhenti berjuang.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
terima kasih atas komentar anda