Senin, 11 Mei 2026

Puisi Indria F : Jejak Yang Diburu

 

“Jejak yang Diburu”
Oleh: Indria Febriansyah, S.E., M.H.

Di lorong negeri yang penuh baliho janji,
aku melihat mata-mata berdasi
menyusuri jejak anak-anak kritis
yang tak mau menjual nurani.

Mereka bilang negeri ini demokrasi,
tapi suara yang berbeda
dipelototi seperti pengkhianat revolusi.

Aku adalah anak dari sekolah perjuangan,
rahim Tamansiswa melahirkan keyakinan
bahwa ilmu bukan alat menjilat kekuasaan,
melainkan obor untuk menampar kegelapan.

Para pendahulu kami
membangun republik dengan darah dan pengasingan,
bukan dengan buzzer dan intimidasi murahan.
Mereka mengajar kami berdiri tegak,
meski di depan moncong ancaman.

Kini aku melihat wajah-wajah baru kekuasaan,
tertawa di balik meja-meja tinggi,
sementara rakyat kecil
mengeja lapar setiap pagi.

Kalian menyebut diri penjaga negeri,
namun sibuk memburu suara sendiri.
Kalian kirim pesan untuk menghancurkan mental,
kalian kirim tangan-tangan gelap
agar kritik tampak kriminal.

Aku dengar namaku dibisikkan
di ruang-ruang penuh ketakutan.
“Cari dia…”
“Bungkam dia…”
“Jangan biarkan kata-katanya menyala…”

Karena satu puisi lebih menakutkan
daripada seribu senjata
jika ia lahir dari luka rakyat jelata.

Hei faksi tirani,
jangan kira kami gentar oleh ancaman.
Tubuh boleh kalian kejar,
tapi pikiran tak akan pernah kalian penjarakan.

Kami generasi muda Tamansiswa,
mewarisi api yang tak tunduk pada singgasana.
Jika hari ini kami dianggap salah,
itu karena kami masih punya keberanian
menyebut yang bengkok sebagai kesalahan.

Dan bila suatu malam
aku hilang dalam sunyi,
ditelan gelap operasi tanpa nama,
maka catatlah satu hal:

lelaki boleh dibungkam,
tetapi sejarah
selalu menemukan jalan
untuk mengadili tirani.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

terima kasih atas komentar anda