Senin, 18 Mei 2026

Kapitalis Akan Menjerit, Nasionalis-Sosialis Akan Menanam


Oleh: Indria Febriansyah

Ketika rupiah terdepresiasi terhadap dolar, publik biasanya langsung panik. Berita televisi dipenuhi grafik merah, media sosial dipenuhi komentar bahwa ekonomi sedang tidak baik-baik saja, dan sebagian kalangan mulai menyalahkan pemerintah. Tetapi di balik kepanikan itu ada pertanyaan yang lebih menarik apa yang sebenarnya dilakukan oleh kelompok kapitalis, dan apa yang dilakukan oleh kelompok nasionalis-sosialis ketika rupiah melemah?
Jawabannya sering kali memperlihatkan perbedaan cara pandang yang sangat mendasar.
Kaum kapitalis pada dasarnya bergerak mengikuti logika pasar dan keuntungan. Ketika rupiah melemah terhadap dolar, perhatian pertama mereka bukan tanah, petani, atau kemandirian ekonomi bangsa. Yang pertama mereka lihat adalah grafik, kurs, margin, serta potensi untung-rugi bisnis.

Importir akan menghitung ulang biaya produksi. Pelaku industri yang bergantung pada bahan baku luar negeri mulai cemas karena biaya meningkat. Pedagang produk impor khawatir karena harga barang naik dan daya beli turun. Investor jangka pendek memindahkan aset ke instrumen yang dianggap aman. Sebagian bahkan menukar rupiah ke dolar untuk mengamankan nilai kekayaan mereka.

Logika kapitalisme sangat sederhana lindungi modal, cari keuntungan, minimalkan risiko.

Karena itu dalam banyak peristiwa krisis, modal bergerak sangat cepat meninggalkan sektor yang dianggap berbahaya. Kita pernah melihat bagaimana saat gejolak ekonomi melanda, uang dapat keluar dari pasar lebih cepat daripada kemampuan negara menenangkan keadaan.

Bagi kapitalis murni, depresiasi mata uang sering dibaca sebagai ancaman terhadap stabilitas bisnis.

Tetapi nasionalis-sosialis memandangnya dari sudut yang berbeda.

Nasionalis-sosialis bertanya mengapa bangsa ini harus terus bergantung pada dolar? Mengapa negara kaya tanah subur justru terlalu takut pada gejolak kurs? Mengapa bangsa agraris bergantung pada impor pangan, impor bahan baku, bahkan impor barang yang sebenarnya bisa diproduksi sendiri?

Di saat kapitalis sibuk menghitung kerugian kurs, nasionalis-sosialis justru berpikir bagaimana memperkuat produksi dalam negeri.

Ketika rupiah melemah, nasionalis-sosialis akan mendorong penguatan petani, nelayan, UMKM, koperasi, industri lokal, serta hilirisasi hasil bumi.

Mereka berpikir kalau impor mahal, berarti inilah saatnya memperkuat produksi nasional.

Kalau bahan baku luar negeri naik, berarti bangsa ini harus belajar memproduksi sendiri.

Kalau dolar menjadi terlalu dominan, berarti perlu dibangun ekonomi yang tidak seluruh napasnya bergantung pada dolar.

Kaum nasionalis-sosialis tidak melihat krisis hanya sebagai ancaman. Mereka melihatnya sebagai momentum koreksi arah pembangunan.

Karena itu responsnya sering berbeda. Kapitalis mungkin menunggu stabilitas pasar. Nasionalis-sosialis akan mulai menanam. Kapitalis mungkin memindahkan uang. Nasionalis-sosialis menggerakkan produksi. Kapitalis mungkin bertanya bagaimana menyelamatkan modal. Nasionalis-sosialis bertanya bagaimana menyelamatkan rakyat.

Lihat negara-negara yang berhasil bertahan menghadapi tekanan global. Banyak di antaranya membangun ketahanan pangan, industri nasional, dan perlindungan terhadap produksi domestik. Mereka tidak sepenuhnya menyerahkan nasib bangsa pada mekanisme pasar.

Tentu tulisan ini bukan berarti kapitalisme sepenuhnya buruk atau sosialisme sepenuhnya benar. Dunia modern membutuhkan pasar, investasi, dan inovasi. Tetapi negara juga membutuhkan keberpihakan.

Karena bangsa tidak bisa hanya hidup dari spekulasi grafik dan angka kurs.

Bangsa yang kuat berdiri di atas sawah yang produktif, kebun yang menghasilkan, pabrik yang bekerja, koperasi yang hidup, dan rakyat yang mampu memenuhi kebutuhannya sendiri.

Mungkin karena itu ketika rupiah melemah, pertanyaan terpenting bukan “berapa harga dolar hari ini?” Tetapi apa yang sedang kita tanam untuk masa depan bangsa?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

terima kasih atas komentar anda