Ongkos Ekonomi yang Berdaulat
Oleh: Indria Febriansyah
Pernah merasa saat mulai belajar mandiri, justru mulai dijauhi oleh kelompok yang selama ini paling dominan? Kira-kira seperti itulah gambaran posisi Indonesia hari ini jika dibaca melalui perspektif paralelisme sejarah ekonomi.
Ada sebuah pandangan yang menyebut bahwa dinamika pasar Indonesia saat ini memiliki pola yang mengingatkan pada krisis 1998. Istilah sederhananya sejarah terkadang tidak benar-benar terulang, tetapi ia sering muncul dengan pola yang mirip. Tokohnya boleh berganti, panggungnya boleh berubah, tetapi alur ceritanya kadang terasa akrab.
Pada tahun 1998, Indonesia berada dalam tekanan besar. Krisis ekonomi menghantam, IMF datang membawa paket bantuan beserta syarat-syarat yang harus dipenuhi. Foto ikonik ketika pemimpin IMF berdiri bersedekap saat Presiden Soeharto menandatangani kesepakatan menjadi simbol yang hingga hari ini masih menyisakan perdebatan apakah itu bantuan, atau sebuah bentuk tekanan dalam kondisi terjepit?
Kini, situasinya tentu berbeda. Indonesia bukan negara tahun 1998. Tetapi sebagian orang melihat pola yang menarik saat Indonesia mulai aktif memperluas kerja sama pertahanan ke berbagai negara, memperkuat hubungan ekonomi alternatif, bergabung dalam forum internasional baru, dan mulai mengurangi ketergantungan terhadap sistem ekonomi lama, muncul pula berbagai respons dari luar.
Indonesia mulai menunjukkan keinginan untuk berdiri lebih mandiri. Tidak hanya bergantung pada satu poros kekuatan, tetapi mencoba memainkan peran dengan kepentingannya sendiri. Dan dalam politik internasional, pilihan untuk mandiri sering kali tidak pernah benar-benar gratis.
Pasar keuangan global adalah arena yang sensitif. Ketika arah kebijakan berubah, modal bisa bergerak cepat. Investor dapat masuk dengan antusias, tetapi juga keluar dengan kecepatan yang sama. Ketika pasar melemah, rupiah bergejolak, atau sentimen asing berubah, sebagian orang melihatnya sekadar mekanisme ekonomi. Sebagian lain menganggap ada pertarungan kepentingan yang lebih besar di belakang layar.
Pertanyaannya kemudian sederhana apakah kemandirian ekonomi memang memiliki harga?
Bisa jadi iya. Sebab menjadi negara berdaulat tidak selalu berarti perjalanan yang mulus. Kadang ada konsekuensi jangka pendek yang terasa tidak nyaman. Kadang ada tekanan, kritik, bahkan keraguan dari luar.
Namun sejarah juga menunjukkan bahwa bangsa besar tidak lahir hanya dari kenyamanan. Ada fase ketika sebuah negara harus memilih terus berjalan di jalur aman yang sudah disiapkan orang lain, atau mulai membuka jalan sendiri meski medannya lebih terjal.
Karena pada akhirnya, kedaulatan bukan sekadar soal bendera berkibar atau pidato yang terdengar gagah. Kedaulatan juga bicara tentang keberanian menentukan arah sendiri meskipun ongkosnya kadang terasa mahal.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
terima kasih atas komentar anda