KANAN DIHAJAR HUTANG, KIRI DIHAJAR PIKIRAN, MAJU DIHAJAR MASA DEPAN, MUNDUR DIHAJAR OMONGAN ORANG
Di sudut sebuah posko sederhana, seorang relawan menatap kosong secangkir kopi yang mulai dingin. Wajahnya tampak lelah, bukan karena kurang tidur semata, tetapi karena terlalu lama memikul harapan. Dua kali pemilihan presiden ia lalui dengan semangat yang menyala memasang spanduk, membuat posko, turun ke masyarakat, berdebat di media sosial, bahkan mengorbankan waktu, tenaga, dan isi dompet.
Ia percaya perjuangan bukan soal untung-rugi. Ia percaya pada sosok yang didukungnya: Presiden Prabowo. Baginya, perjuangan adalah soal keyakinan.
Namun keyakinan sering diuji dengan cara yang keras.
Pilpres pertama, kalah.
Pilpres kedua, kalah lagi.
Yang kalah bukan hanya kandidat yang didukung. Para relawan juga ikut kalah. Kalah waktu. Kalah tenaga. Kalah kesempatan bersama keluarga. Bahkan ada yang kalah secara ekonomi. Tidak sedikit yang menjual motor, memakai tabungan, atau berhutang demi bergeraknya mesin perjuangan.
Kanan dihajar hutang.
Tagihan datang satu per satu. Uang pinjaman teman belum lunas. Biaya perjalanan belum terganti. Kebutuhan rumah semakin menumpuk. Saat orang lain melihat relawan hanya datang membawa bendera, mereka tidak melihat berapa banyak yang diam-diam menggadaikan kenyamanan hidupnya demi sebuah cita-cita politik.
Kiri dihajar pikiran.
Malam-malam menjadi semakin panjang. Muncul pertanyaan yang mengganggu: "Apa perjuangan ini sia-sia?" "Apa aku terlalu naif?" "Apa aku hanya dimanfaatkan?" Pikiran mulai memukul lebih keras daripada kenyataan.
Lalu akhirnya waktu bergulir.
Pilpres berikutnya datang.
Dan untuk pertama kalinya menang.
Tangis haru pecah di mana-mana. Orang-orang sujud syukur. Jalanan penuh konvoi. Bendera berkibar. Rasanya seperti mimpi yang akhirnya menjadi nyata.
Tetapi rupanya kemenangan tidak selalu terasa menang bagi semua orang.
Hari berganti minggu. Minggu berganti bulan.
Satu demi satu nama bermunculan mengisi jabatan. Orang-orang baru datang mengelilingi lingkar kekuasaan. Sebagian bahkan dulu tidak terlihat saat masa perjuangan.
Relawan lama mulai saling bertanya dalam diam:
"Kita di mana?"
Maju dihajar masa depan.
Karena setelah pesta usai, hidup kembali berjalan. Anak harus sekolah. Cicilan harus dibayar. Dapur tetap harus mengepul. Sementara masa depan tampak semakin samar.
Lalu yang paling menyakitkan datang dari arah belakang.
Mundur dihajar omongan orang.
"Katanya relawan inti?"
"Katanya pejuang dari awal?"
"Mana hasil perjuangannya?"
"Percuma saja dulu mati-matian."
Kalimat-kalimat itu mungkin pendek. Tetapi sering kali lebih tajam daripada luka kekalahan.
Dan di titik itulah seorang relawan memahami sesuatu.
Perjuangan ternyata bukan hanya tentang memenangkan seseorang menjadi presiden. Kadang perjuangan adalah memenangkan diri sendiri agar tidak berubah menjadi pahit.
Karena jika sejak awal perjuangan dibangun atas dasar keyakinan untuk Indonesia yang lebih baik, maka apresiasi, jabatan, atau tempat di pemerintahan bukan satu-satunya ukuran kemenangan.
Tetapi bukan berarti rasa kecewa tidak boleh ada.
Relawan juga manusia.
Mereka ingin dihargai.
Mereka ingin diingat.
Karena di balik foto-foto kampanye, di balik ribuan langkah di jalanan, ada orang-orang yang ikut jatuh, ikut terluka, ikut menanggung beban.
Mereka pernah dua kali ikut merasakan kekalahan. Dan saat sekali merasakan kemenangan, sebagian justru masih menyimpan rasa kalah.
Namun barangkali hidup memang seperti itu.
Kanan dihajar hutang. Kiri dihajar pikiran. Maju dihajar masa depan. Mundur dihajar omongan orang.
Lalu satu-satunya pilihan yang tersisa:
Tetap berjalan.
Sebab orang yang berhenti karena kecewa, akan selesai oleh keadaan. Tetapi orang yang tetap berjalan, mungkin suatu hari akan menemukan arti perjuangan yang lebih besar daripada sekadar jabatan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
terima kasih atas komentar anda