Senin, 11 Mei 2026

Indria Febriansyah: Kesetiaan yang Tidak Selalu Mendapat Tempat


Oleh: Indria Febriansyah, S.E., M.H.

Saya bukan pendukung yang datang ketika kemenangan sudah di depan mata. Saya ada ketika banyak orang meragukan beliau. Saya berdiri ketika kekalahan datang berkali-kali. Saya tetap bertahan ketika sebagian memilih pergi karena merasa perjuangan tidak menjanjikan apa-apa.

Bagi saya pribadi, kemenangan Presiden Prabowo Subianto bukan sekadar kemenangan politik. Itu adalah kepuasan batin. Sebuah pembuktian bahwa keyakinan, loyalitas, dan kesabaran mampu mengalahkan keraguan panjang selama bertahun-tahun.

Saya dan keluarga besar Kabeh Sedulur Tamansiswa Indonesia telah melewati banyak fase perjuangan. Tidak semua terlihat di permukaan. Tidak semua dihitung oleh kekuasaan. Tetapi kami percaya, perjuangan tidak selalu harus dibayar dengan jabatan. Kadang cukup dengan melihat seseorang yang kita yakini akhirnya berdiri memimpin negeri ini.

Namun perjalanan politik selalu memiliki sisi gelapnya sendiri.

Ketika kemenangan telah datang, faksi-faksi kekuasaan mulai berebut ruang. Intrik bergerak diam-diam. Orang-orang yang dulu berada di garis sunyi perlahan tersingkir oleh kepentingan yang lebih besar. Kontribusi dikubur oleh kedekatan, loyalitas diukur dengan manfaat, dan kritik dianggap ancaman.

Hari ini saya bahkan dianggap oposisi hanya karena bersikap kritis. Saya dilepas dari keluarga relawan tertentu, diperlakukan seolah musuh, bahkan menerima intimidasi, serangan pribadi, hingga video editan yang merendahkan martabat saya.

Tetapi saya ingin rakyat Indonesia memahami satu hal:

Saya tidak pernah menyalahkan Presiden Prabowo.

Saya percaya beliau adalah orang baik yang memiliki niat baik untuk bangsa ini. Apa yang terjadi hari ini bukanlah wajah dari kepemimpinan beliau, melainkan perilaku sebagian kelompok yang bergerak sendiri-sendiri demi mengamankan posisi dan kepentingannya masing-masing.

Mereka memakai ketakutan sebagai alat. Mereka memakai tekanan sebagai cara membungkam suara. Dan mereka lupa bahwa loyalitas sejati tidak lahir dari intimidasi.

Karena itu, saya memilih menempuh jalur hukum. Bukan karena saya haus balas dendam, tetapi karena setiap warga negara memiliki hak menjaga kehormatan dirinya. Walaupun saya sadar, jalan hukum tidak selalu memberi harapan besar, setidaknya sejarah akan mencatat bahwa saya pernah berdiri melawan upaya pembungkaman.

Saya ingin konferensi pers dan laporan kepolisian nanti menjadi penjelas kepada rakyat bahwa di sekitar kekuasaan selalu ada orang-orang yang bertindak tanpa kendali moral. Mereka berlindung di balik nama besar perjuangan, tetapi justru melukai sesama pejuang.

Dan bila suatu hari publik akhirnya memahami semuanya, saya hanya ingin dikenang sebagai seseorang yang tetap setia, meski tidak dipeluk kekuasaan.

Karena bagi saya, mendukung seseorang sampai menang adalah perjuangan. Tetapi tetap menjaga harga diri setelah kemenangan datang, itu adalah kehormatan.



LAMPIRAN KRONOLOGI KEJADIAN
DUGAAN INTIMIDASI, ANCAMAN, DAN TEROR DIGITAL
TERHADAP KETUA UMUM KABEH SEDULUR TAMANSISWA INDONESIA

Saya yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Indria Febriansyah, S.E., M.H.
Jabatan : Ketua Umum Kabeh Sedulur Tamansiswa Indonesia

Dengan ini menerangkan kronologi kejadian yang saya alami sebagai berikut:

1. Pada pukul 00:00 wib dinihari 10 Mei 2026, saya menulis dan menyebarkan sebuah opini berjudul “Relawan Prabowo: Mending Jadi Lawan Politik Lebih Dihargai daripada Relawan Loyalis” melalui media Blogspot Pemuda Tamansiswa Indonesia. Dengan nama penulis anak lanang

2. Tulisan tersebut berisi kritik sosial-politik terkait keresahan sebagian relawan non-partai yang merasa pengorbanan politik mereka selama mendukung Presiden Prabowo Subianto sejak tahun 2014 belum mendapatkan perhatian yang layak pasca Pilpres.

3. Selanjutnya tulisan tersebut disebarluaskan secara internal dan eksternal melalui grup WhatsApp relawan serta beberapa jaringan organisasi dan tokoh nasional pada Minggu jam 00:55 wib dini hari tanggal 10 Mei 2026.

4. Dalam proses penyebaran broadcast tersebut, terdapat tambahan kalimat yang berbunyi:

“Akan ada ledakan narasi relawan dari aliansi relawan, ikatan relawan, dan kelompok relawan Prabowo jika tetap kami dilupakan.” di tanggal 10 Mei 2026 jam 00:59 wib

5. Setelah broadcast tersebut tersebar, pada Minggu tanggal 10 Mei 2026 sekitar pukul 10.02 WIB, saya mulai menerima pesan intimidatif melalui aplikasi WhatsApp dari beberapa nomor yang tidak dikenal.

6. Nomor-nomor yang teridentifikasi dalam rangkaian intimidasi tersebut antara lain:

- 085654442498


- 081296136441


- 089679357090


- 0895402919421

7. Berdasarkan urutan komunikasi yang saya alami, nomor 0895402919421 pada tanggal 10 Mei 2026 sekitar pukul 10.05 WIB diduga menjadi nomor awal yang menghubungi beberapa nomor pribadi saya.

8. Nomor tersebut kemudian mengirimkan video bermuatan asusila yang wajahnya diduga telah diedit menyerupai diri saya, sehingga saya merasa dirugikan secara moral dan pribadi.

9. Selain pengiriman video tersebut, saya juga menerima pesan bernada ancaman yang berbunyi:

“Lo jangan macem-macem ya bisa di eksekusi.”

dan

“Sama pasukan kandang menjangan.”

10. Setelah itu, komunikasi intimidatif berlanjut secara bertahap menggunakan nomor-nomor lain dengan pola komunikasi yang memiliki kemiripan, baik dari gaya penyampaian maupun bentuk tekanan psikologis yang ditujukan kepada saya.

11. Pada tanggal 10 Mei 2026 sekitar pukul 11.06 WIB, nomor 085654442498 diduga menjadi nomor terakhir yang melakukan panggilan langsung disertai ancaman kepada saya.

12. Selanjutnya pada Minggu malam tanggal 10 Mei 2026 sekitar pukul 23.30 WIB, terdapat tiga orang tidak dikenal mendatangi tempat tinggal/kos saya.

13. Ketiga orang tersebut langsung masuk dan naik hingga lantai 3 serta menuju area dapur di lantai 2 tanpa terlebih dahulu melakukan konfirmasi kepada penjaga kos.

14. Setelah penjaga kos menanyakan keperluan mereka, ketiga orang tersebut menjawab bahwa mereka sedang mencari telepon genggam yang hilang dan menyatakan bahwa titik lokasi perangkat berada di tempat tersebut.

15. Penjaga kos kemudian menanyakan surat tugas atau identitas resmi kepada ketiga orang tersebut, namun dijawab:

“Ini punya sendiri kok mbak, tidak ada surat tugas.”

16. Peristiwa tersebut membuat saya dan penghuni kos merasa takut dan terintimidasi karena orang yang tidak dikenal dapat masuk hingga area dalam tempat tinggal tanpa prosedur yang jelas.

17. Teror kemudian berlanjut kepada keluarga saya. Pada Senin tanggal 11 Mei 2026 sekitar pukul 08.00 WIB, rumah istri saya di wilayah Yogyakarta menerima paket COD senilai Rp 660.000 yang berisi sebilah keris.

18. Berdasarkan informasi pengiriman, paket tersebut diketahui dikirim dari wilayah Karanganyar, Solo.

19. Atas rangkaian kejadian tersebut, saya merasa mengalami tekanan psikologis, intimidasi digital, ancaman, serta dugaan serangan terhadap kehormatan pribadi dan keselamatan keluarga saya.

20. Saat ini saya sedang mengumpulkan bukti-bukti berupa tangkapan layar percakapan WhatsApp, nomor telepon terkait, rekaman komunikasi, video yang dikirimkan, serta informasi pengiriman paket untuk kepentingan pelaporan kepada aparat penegak hukum.

Demikian kronologi ini saya buat dengan sebenar-benarnya untuk digunakan sebagai lampiran laporan resmi kepada pihak kepolisian.

Hormat saya,

Indria Febriansyah, S.E., M.H.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

terima kasih atas komentar anda