Relawan yang Terlupakan — Ketika Loyalitas Tak Diimbangi Kesetaraan
Pernyataan Wakil Menteri Sosial (Wamensos) Agus Jabo Priyono yang meminta relawan “pasang badan” membela pemerintah tampak sederhana di permukaan — ajakan moral bagi para pendukung untuk menjaga citra pemerintah dari serangan pihak luar. Namun, jika dicermati lebih dalam, seruan tersebut justru memperlihatkan ketimpangan yang sudah lama terjadi dalam dunia kerelawanan politik di Indonesia.
Sebab, relawan yang dimaksud dan dikunjungi Wamensos bukanlah relawan Prabowo murni, melainkan sebagian besar relawan Jokowi dan Gibran yang sejak 2014 memang menjadi motor utama di balik kemenangan politik Jokowi.
Aliansi relawan yang kini tampil atas nama “Relawan Prabowo–Gibran” pun — sebagaimana dilaporkan Tempo — terdiri dari hampir 90 persen relawan lama pendukung Jokowi (Tempo.co).
Dengan begitu, ajakan “pasang badan” dari Wamensos lebih tampak sebagai seruan kepada lingkaran lama pendukung Jokowi — bukan refleksi terhadap relawan Prabowo yang justru selama ini konsisten membela pemerintahan tanpa pamrih jabatan.
Relawan Jokowi: Sibuk Menjaga Pamor Jokowi, Bukan Membela Pemerintah
Realitas di lapangan menunjukkan bahwa sebagian besar relawan Jokowi kini lebih sibuk menjaga pamor dan citra mantan presiden dibanding mendukung arah pemerintahan baru.
Mereka menjadi garda pertahanan narasi ketika Jokowi diserang, bukan ketika pemerintah saat ini dikritik.
Bahkan banyak dari mereka kini sudah berada di posisi nyaman — masuk dalam struktur kabinet, badan usaha milik negara, atau menjabat sebagai komisaris.
Hal ini membuat mereka lebih memilih diam atau bersikap aman ketika pemerintah dikritik, karena loyalitas mereka tetap tertambat pada mantan presiden, bukan pada sistem pemerintahan yang sedang berjalan.
Sementara itu, relawan Prabowo yang selama ini setia mendukung pemerintahan dan secara terbuka membela kebijakan Presiden terpilih dan kabinetnya, justru tidak memperoleh ruang dalam lingkaran kekuasaan. Mereka jarang mendapat pengakuan media, tidak dilibatkan dalam kebijakan strategis, dan nyaris tak pernah disebut dalam forum resmi kementerian.
Ketimpangan yang Dibiarkan: Relawan Prabowo Ditiadakan Perannya
Fenomena ini bukan kebetulan. Seolah ada skenario politik yang mempertahankan dominasi relawan Jokowi dalam berbagai sektor kekuasaan dan pemberitaan, sementara peran relawan Prabowo ditiadakan atau ditutupi.
Narasi yang beredar di publik hanya menampilkan relawan Jokowi sebagai “penopang utama stabilitas politik”, padahal relawan Prabowo-lah yang selama ini tetap pasang badan ketika kebijakan pemerintah dikritik keras oleh kelompok oposisi.
Ironisnya, mereka melakukan itu tanpa fasilitas, tanpa posisi, dan tanpa ruang tampil.
Padahal, kalau mau jujur, semua relawan memiliki perannya masing-masing dalam menjaga kesinambungan pemerintahan dan stabilitas sosial.
Namun, mengapa hanya satu kelompok relawan yang selalu dimuliakan, diundang, dan difasilitasi?
Ajakan Wamensos: Antara Ketidaksadaran dan Ketidakadilan
Dalam konteks ini, seruan Wamensos agar relawan “pasang badan” menjadi ironis.
Beliau berbicara di hadapan relawan yang sudah mapan dan sebagian besar bukan lagi relawan aktif, melainkan loyalis personal mantan presiden.
Padahal, relawan Prabowo yang benar-benar masih bekerja di lapangan — mengadvokasi kebijakan pemerintah di akar rumput, membela presiden dari serangan politik, dan melakukan komunikasi publik tanpa bayaran — tidak pernah disapa atau dihargai secara layak.
Kalau Wamensos ingin bicara soal “pembela pemerintah”, seharusnya beliau hadir di acara relawan Prabowo yang beberapa waktu lalu juga mengadakan pertemuan dan deklarasi dukungan kebijakan pemerintah, bukan hanya di hadapan relawan yang sudah lama berpindah posisi ke zona nyaman kekuasaan.
Ajakan seperti itu seharusnya menjadi bahan introspeksi bagi para eksekutif partai penguasa: apakah mereka benar-benar ingin menggerakkan relawan untuk membela pemerintahan, atau sekadar menjaga struktur lama agar tetap hidup?
Kontradiksi di Tubuh Partai: Di Mana Kader Wamensos?
Poin paling krusial adalah:
Bagaimana mungkin Wamensos meminta relawan di luar struktur partai untuk pasang badan, sedangkan kader partainya sendiri tidak terlihat membela pemerintah?
Bahkan, beberapa organ sayap partai yang dekat dengan Wamensos justru melakukan aksi menentang kebijakan pemerintah.
Ini menimbulkan pertanyaan serius:
“Peran apa sebenarnya yang sedang dimainkan oleh Agus Jabo Priyono?”
Apakah ia sedang berperan sebagai pejabat negara yang mengonsolidasikan dukungan publik terhadap pemerintah, atau sebagai aktor politik yang menjaga posisi relawan lama agar tetap eksis di panggung kekuasaan?
Jika memang serius memperkuat pemerintahan, maka langkah paling logis bukan mengajak relawan Jokowi “pasang badan”, tetapi memberi ruang kepada relawan Prabowo yang selama ini konsisten, tulus, dan tidak mencari jabatan.
Saatnya Pemerintah dan Partai Introspeksi
Pernyataan Wamensos seharusnya menjadi cermin untuk introspeksi, bukan seruan yang justru menghidupkan kembali ketimpangan lama.
Relawan bukan alat kekuasaan; mereka adalah warga negara yang bekerja berdasarkan kepercayaan dan keikhlasan.
Jika pemerintah ingin stabil dan dipercaya, maka pengakuan terhadap relawan harus adil.
Relawan Jokowi bukan satu-satunya pelindung negara ini. Relawan Prabowo pun telah lama bekerja dalam diam — tanpa pamrih, tanpa panggung, tanpa posisi.
Sudah saatnya mereka yang berbicara atas nama “pemerintah” meninjau kembali siapa yang benar-benar membela negara ini, dan siapa yang hanya membela bayang-bayang kejayaan masa lalu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
terima kasih atas komentar anda