“Relawan Ilusi”
(Puisi oleh : Indria Febriansyah Kabeh Sedulur Tamansiswa Indonesia)
Ketidakmampuan pikir dalam bernalar
membuat banyak orang berisik di panggung maya,
menyusun narasi seolah pejuang bangsa,
padahal yang diperjuangkan hanyalah pencitraan diri dan jumlah suka.
Mereka ribut mencari sensasi tanpa substansi,
menjual semangat tanpa makna,
membangun slogan tanpa kerja,
mengira kamera adalah medan juang,
dan algoritma adalah pengganti nurani.
Padahal, gerbang sejati keberhasilan
bukan di bibir, bukan di baliho,
melainkan di aksi nyata, di peluh kerja, di hasil yang terasa.
Kalau hanya menari di layar kaca,
adalah aksi dalam unjuk gigi —
maka lambat laun,
mereka menua dalam sepi,
terhapus oleh waktu,
tertelan oleh karya orang-orang yang diam tapi bekerja.
Relawan tanpa isi,
berteriak tentang bangsa tapi tak paham rakyatnya.
Berbaris rapih di depan lensa,
tapi kosong di depan penderitaan.
Mereka pandai membuat ilusi,
optimasi kata, editan citra, dan karangan cerita,
namun tak punya bukti, tak punya jejak.
Sementara yang benar-benar bekerja,
tak sempat menulis pujian untuk diri sendiri —
karena tangannya sibuk menanam,
membangun, menghidupkan.
Bangsa ini tidak butuh penonton yang pandai berpose,
tapi pelaku yang mau kotor tangannya.
Tidak butuh pemimpi di podium,
tapi pekerja di lapangan.
Dan ketika sejarah menulis namanya sendiri,
yang tinggal hanyalah dua jenis manusia:
yang berbicara banyak tanpa makna,
dan yang bekerja diam, tapi mengubah dunia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
terima kasih atas komentar anda