INDRIA FEBRIANSYAH: MEMORI PERJUANGAN MENDUKUNG PRESIDEN PRABOWO
Kenangan itu masih hidup di dada kami—kenangan tentang keyakinan, tentang api nasionalisme yang tidak pernah padam sejak Pilpres 2014. Saat itu, kami bergerak dengan segala keterbatasan. Tidak ada fasilitas besar, tidak ada struktur nasional, hanya semangat dan keyakinan yang menyala di hati para pejuang muda dari Yogyakarta hingga Sumatera Selatan.
Kami yakin sepenuhnya bahwa Bapak Prabowo Subianto adalah pemimpin yang ditakdirkan untuk bangsa ini. Keyakinan itu bukan sekadar politik, tapi panggilan nurani. Kami belajar dari beliau arti kehormatan, disiplin, dan pengabdian. Kami dididik untuk melayani rakyat, menjaga sikap, meneladani kepribadian beliau—tegas, jujur, dan berani.
Kami sadar, setiap langkah kami di mata masyarakat adalah cermin bagi beliau. Karena itu, kami berjuang menjaga nama baiknya dengan cara berbuat yang benar, menolak fitnah, dan membangun kesadaran rakyat tanpa pamrih. Bagi kami, jika kami salah, maka yang tercoreng bukan kami, tapi sosok yang kami hormati—Bapak Prabowo.
Meski saat Pilpres 2014 dan 2019 nama kami tidak tercatat dalam tim pemenangan nasional, kami tidak berhenti. Kami tetap bergerak, mandiri, dan setia pada jalan perjuangan. Sebab nasionalisme tidak butuh tanda tangan, dan kesetiaan tidak menunggu jabatan.
Kami terus berjalan dengan nilai-nilai yang beliau tanamkan sejak pertemuan bersejarah di Pendopo Agung Tamansiswa tahun 2010, saat beliau memberikan materi kebangsaan. Kala itu, saya masih menjadi Presiden Mahasiswa. Dari ruang bersejarah itu, kami menyerap semangat juang dan falsafah luhur tentang Indonesia yang besar, mandiri, dan berdaulat.
Pilpres 2024 menjadi bukti kedewasaan perjuangan kami. Kami hadir di 33 provinsi, bergerak tanpa pamrih, mengawal suara rakyat, memastikan api nasionalisme tetap menyala. Dari keyakinan kecil di tahun 2014, lahirlah gelombang besar dukungan rakyat yang membawa Bapak Prabowo Subianto ke puncak pengabdian tertinggi—sebagai Presiden Republik Indonesia.
Perjalanan panjang ini bukan sekadar cerita politik. Ini adalah kisah kesetiaan, pendidikan jiwa, dan cinta tanah air.
Kami telah berjanji pada diri kami sendiri: selama bangsa ini berdiri, semangat pengabdian itu tidak akan pernah padam.
“Kami dididik untuk melayani, bukan dilayani. Kami berjuang bukan karena ingin dihargai, tetapi karena kami mencintai negeri ini—seperti Bapak Prabowo mencintainya.” 🇮🇩
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
terima kasih atas komentar anda