Kamis, 16 Oktober 2025

Pejuang Relawan Dan Pahlawan Sesungguhnya Kadang Tersingkir




Refleksi Kemerdekaan dan Pilpres: Ketika Perjuangan Berganti Wajah

Apakah semua pejuang kemerdekaan itu berjasa?
Mungkin iya. Tapi sejarah juga mengajarkan kita, bahwa tidak semua yang berjasa akan diakui. Tan Malaka mati di ujung peluru bangsanya sendiri, karena pikirannya dianggap berbahaya. Sutan Sjahrir tersingkir, karena pandangannya tak sejalan dengan Sukarno. Dari sanalah kita belajar, bahwa perjuangan bangsa ini tidak hanya melawan penjajah asing — tapi juga melawan sesama anak negeri yang berbeda pandangan.

Republik ini lahir dari darah, air mata, dan pengorbanan. Mereka berjuang tanpa pamrih, tanpa proyek, tanpa fasilitas, tanpa "jabatan". Hanya ada satu keyakinan: merdeka atau mati. Gotong royong adalah senjata utama, dan kesadaran kolektif menjadi bahan bakar perjuangan.

Namun, tujuh puluh delapan tahun setelah proklamasi, kita menyaksikan bentuk baru dari “perjuangan kemerdekaan” — dalam wujud Pilpres. Di masa kampanye, semua tampak bersatu padu: para relawan berbaris rapi, bergandengan tangan, tersenyum, mengangkat satu visi bersama: Indonesia yang lebih baik.
Tapi begitu kursi kekuasaan terisi, pemandangan berubah.
Relawan saling menyingkirkan. Solidaritas berganti intrik. Yang dulu berjuang di garis depan kini tersisih oleh mereka yang dulu bahkan tidak percaya. Loyalitas pada cita-cita terkalahkan oleh loyalitas pada kedekatan dan kepentingan.

Yang paling ironis: justru relawan militan dan setia pada pemenang malah tersingkir, sementara “loyalis lama” dan “mantan penguasa” yang dulu menentang, kini dengan mudah menguasai panggung.
Apakah ini takdir politik bangsa kita — di mana pengkhianatan justru menjadi tiket untuk naik kembali?

Mungkin bangsa ini memang lelah berjuang dengan idealisme.
Atau mungkin, kita sedang hidup di masa ketika pengkhianatan telah menjadi budaya, dan kesetiaan dianggap kebodohan.

Tapi sejarah selalu berputar. Dari setiap pengkhianatan akan lahir generasi baru yang menolak tunduk. Karena semangat kemerdekaan sejati tidak pernah mati — ia hanya menunggu untuk dibangkitkan kembali oleh mereka yang masih percaya, bahwa perjuangan bukan untuk jabatan, tapi untuk keadilan dan kemanusiaan.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

terima kasih atas komentar anda