Selasa, 07 Oktober 2025

Indria Febriansyah: Indonesia Akan Ditakuti Dunia Dengan Inovasi Drone Dan Kapal Selam Nirawak.



Penampakan drone TNI dalam perayaan HUT TNI ke-80 di silang Monas menegaskan satu hal: industri pertahanan Indonesia bergerak cepat dan matang. Indria Febriansyah — mahasiswa S2 yang mempelajari hukum udara di Universitas dimiliki TNI AU Yaitu Universitas Marsekal Suryadarma Ali — menilai bahwa transformasi ini baru permulaan. Dari pangkalan maritim sampai koridor udara, modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista) menunjukkan kesiapan Indonesia memanfaatkan teknologi mutakhir seperti drone dan sistem rudal berbasis baterai.


Pengalaman konflik modern, misalnya penggunaan drone dalam operasi pengintaian dan serangan presisi, memperlihatkan bahwa platform tak berawak menjadi game-changer: murah, lincah, dan efektif. Dengan sumber daya mineral strategis seperti nikel yang melimpah, Indonesia memiliki kesempatan untuk mengembangkan ekosistem industri pertahanan yang mandiri — dari drone penghancur berteknologi tinggi hingga kapal selam generasi baru yang lebih efisien.

Tantangannya jelas: riset dan pengembangan, penguasaan rantai pasok bahan, serta regulasi yang mendukung inovasi sambil tetap menjaga etika dan hukum internasional. Namun jika dikelola dengan visi industri yang kuat dan kerja sama antar-pemangku kepentingan — TNI, akademisi, industri, dan pemerintah — bukanlah mustahil Indonesia akan menjadi pemain penting dalam teknologi pertahanan di masa depan.

“Dukung riset & industri pertahanan lokal — !”


Menegakkan Kedaulatan Tambang, Membangun Kemandirian Teknologi Pertahanan

Menindak tambang ilegal bukan sekadar urusan hukum atau penertiban ekonomi, melainkan amanah konstitusi sebagaimana termaktub dalam Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945. Pasal tersebut menegaskan bahwa bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Artinya, pengelolaan sumber daya alam bukan hanya hak, tetapi juga tanggung jawab negara untuk memastikan hasilnya kembali kepada rakyat dan digunakan untuk memperkuat kedaulatan bangsa.

Tambang ilegal merampas dua hal sekaligus: hak rakyat atas kekayaan alamnya, dan kesempatan negara untuk membangun kemandirian industri strategis. Ketika nikel, monasit, tanah jarang, dan berbagai mineral kritis lainnya dijarah secara liar tanpa tata kelola, yang hilang bukan hanya potensi pendapatan negara, tetapi juga bahan dasar penting untuk masa depan industri teknologi Indonesia. Padahal, justru di situlah letak kekuatan strategis kita: Indonesia adalah salah satu negara dengan cadangan mineral kritis terbesar di dunia — bahan yang menjadi inti dari berbagai inovasi, mulai dari baterai, perangkat elektronik, hingga sistem pertahanan canggih.

Bayangkan jika seluruh kekayaan alam itu dikelola secara benar, dengan pendekatan industri nasional yang mandiri dan berbasis riset. Nikel, misalnya, bukan hanya bahan ekspor mentah, tetapi bahan utama baterai untuk kendaraan listrik dan sistem tenaga drone. Monasit dan tanah jarang dapat diolah menjadi bahan dasar magnet permanen, sensor, radar, hingga sistem pemandu rudal modern. Dengan menguasai sumber daya alam dan teknologi pengolahannya, Indonesia tidak lagi hanya menjadi pemasok bahan mentah dunia, melainkan menjadi produsen utama teknologi tinggi — termasuk teknologi pertahanan yang strategis.

Era perang modern bukan lagi perang antara manusia dan senjata sederhana. Dunia telah memasuki babak di mana kekuatan militer tidak hanya diukur dari jumlah prajurit, tetapi dari kecanggihan teknologi yang digunakan. Drone, pesawat tanpa awak, sistem rudal balistik, dan kendaraan otonom menjadi alat tempur utama yang lebih efisien, hemat biaya, dan meminimalkan korban manusia. Negara-negara besar telah berlomba-lomba mengembangkan industri pertahanan berbasis teknologi tinggi. Indonesia pun harus mengambil bagian dalam kompetisi global ini — bukan sebagai penonton, tetapi sebagai pemain.

Untuk mewujudkan hal itu, langkah pertama adalah menegakkan kedaulatan atas sumber daya alam kita sendiri. Negara harus hadir dengan kebijakan yang tegas dan menyeluruh. Penindakan terhadap tambang ilegal harus disertai dengan langkah rehabilitasi ekonomi masyarakat di sekitar lokasi tambang. Mereka yang selama ini menggantungkan hidup pada tambang konvensional perlu diberi alternatif mata pencaharian melalui pelatihan, pembiayaan mikro, dan program padat karya yang berkelanjutan. Penegakan hukum tidak boleh sekadar menghukum, tetapi harus juga memulihkan.

Selanjutnya, hilirisasi sumber daya alam perlu dilakukan secara konsisten dan menyeluruh. Jangan biarkan kekayaan mineral kita berhenti di tahap ekspor bahan mentah. Pemerintah bersama BUMN, perguruan tinggi, dan industri nasional harus membangun rantai pasok terpadu dari hulu ke hilir — mulai dari eksplorasi, pemurnian, hingga manufaktur produk teknologi tinggi. Sinergi riset antara universitas, lembaga pertahanan, dan sektor swasta perlu diperkuat agar inovasi tidak berhenti di laboratorium, tetapi berubah menjadi produk nyata yang memperkuat kemandirian bangsa.

Investasi pada riset dan sumber daya manusia menjadi kunci. Indonesia membutuhkan lebih banyak insinyur, ilmuwan, dan teknokrat yang mampu mengolah hasil bumi menjadi kekuatan teknologi. Pemerintah perlu mendirikan dana riset khusus untuk pengembangan material strategis dan industri pertahanan nasional. Kurikulum pendidikan tinggi juga harus diarahkan untuk mencetak generasi baru yang berpikir ilmiah, mandiri, dan nasionalis.

Dalam jangka panjang, cita-cita besar kita adalah menjadikan Indonesia negara produsen pertahanan teknologi tinggi berbasis sumber daya sendiri. Kita tidak perlu meniru secara buta negara lain, tetapi mengambil jalur khas Indonesia: menggabungkan potensi alam, kekuatan rakyat, dan semangat gotong royong untuk membangun kemandirian industri. Dengan cara ini, kita tidak hanya memperkuat pertahanan nasional, tetapi juga menciptakan lapangan kerja, meningkatkan daya saing ekonomi, dan menjaga martabat bangsa di mata dunia.

Kita harus percaya, dengan visi, keberanian, dan kebijakan yang konsisten, Indonesia bisa menjadi salah satu produsen drone dan sistem pertahanan modern terbaik di dunia. Semua itu dimulai dari langkah sederhana namun fundamental: menegakkan hukum atas tambang ilegal, mengelola kekayaan alam secara berdaulat, dan menjadikannya fondasi untuk kemajuan teknologi bangsa.

Karena sejatinya, kedaulatan bukan hanya soal siapa yang berkuasa, tetapi siapa yang mampu berdiri di atas kakinya sendiri — di atas bumi dan kekayaan alamnya sendiri, demi kemakmuran rakyat dan kejayaan Indonesia.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

terima kasih atas komentar anda