Sabtu, 31 Januari 2026

Keretakan Nato-AS, Bukan Hanya Israel-Palestina, Tapi Ada Greendland.



*Bukan Hanya Palestina-Israel, Retakan NATO-AS adalah Konteks Besarnya*

oleh: Indria Febriansyah

Penolakan Slovenia, Swedia, Prancis, Denmark, Norwegia, Jerman, dan Spanyol terhadap forum “perdamaian” bentukan AS tidak bisa dibaca semata sebagai solidaritas moral pada Gaza, apalagi disamakan dengan sikap Indonesia atau negara Arab.

Ada lapisan konflik yang lebih dalam, dan Greenland adalah simbol kuncinya.

*"Greenland"* Episentrum Retakan AS-Eropa

Ketegangan AS dan Eropa memuncak bukan hanya di Timur Tengah, tapi di Arktik.

Greenland adalah wilayah otonom Denmark

Kaya mineral strategis, jalur pelayaran Arktik, dan posisi militer, Donald Trump secara terbuka ingin “membeli” Greenland.


Pernyataan itu bukan candaan tapi sinyal ekspansi strategis AS

Bagi Eropa Ini bukan soal Palestina, tapi soal kedaulatan Eropa yang diremehkan sekutunya sendiri.

Sejak momen itu, Denmark merasa diperlakukan seperti negara satelit

Negara Nordik sadar AS tidak selalu sejalan dengan kepentingan Eropa

NATO retak secara politis, meski tetap utuh secara militer

Maka Penolakan Eropa = Akumulasi Kecurigaan Strategis

Saat AS membentuk forum perdamaian sepihak (Trump-era style),

tanpa mandat PBB

tanpa konsultasi Eropa

dengan agenda yang menguntungkan kepentingan AS-Israel

Negara-negara Eropa membacanya sebagai pola lama AS memutuskan, lalu meminta Eropa mengamini

Dalam konteks ini, Palestina adalah isu, tapi bukan satu-satunya alasan.

Motif Eropa Bukan Emosional, Tapi Struktural


*Mari jujur dan adil.*


Negara-negara Eropa yang menolak tidak menghadapi tekanan domestik Palestina seperti Indonesia

tidak punya ikatan historis-emosional seperti dunia Arab,

tidak punya konstitusi anti-kolonial seperti Indonesia.


Motivasi mereka lebih ke Menolak kepemimpinan sepihak AS

Menjaga otonomi strategis Eropa

Mempertahankan multilateralisme PBB

Mencegah preseden bahwa konflik global bisa diselesaikan tanpa Eropa

Palestina penting, ya.

Tapi posisi tawar Eropa di dunia multipolar lebih penting bagi mereka.

_Indonesia & Negara Arab Motifnya Berbeda Berbeda dengan Eropa,_ Indonesia dan banyak negara Arab Terikat secara konstitusional dan historis dengan Palestina

Mengalami langsung warisan kolonialisme

Solidaritas pada Gaza bukan sekadar kebijakan, tapi identitas moral


*Indonesia membela Palestina karena penjajahan harus dihapuskan  titik.*


Negara Arab membela Palestina karena darah, tanah, dan sejarah.

Sedangkan Eropa membela Palestina selama sejalan dengan kepentingan strategis Eropa. Ini bukan tuduhan ini realitas politik internasional.


Maka Narasi Besarnya Jadi Jelas


*_Penolakan Slovenia, Swedia, Prancis, Denmark, Norwegia, Jerman, dan Spanyol tidak bisa dipersempit sebagai: “Eropa lebih bermoral dari Indonesia”_*


*Itu keliru.*


Yang lebih tepat:

Eropa sedang melawan dominasi AS dalam arsitektur global

Palestina menjadi medan ekspresi konflik geopolitik Barat itu sendiri

Forum perdamaian Trump dibaca sebagai alat hegemonik, bukan solusi

Indonesia Berbeda Posisi, Berbeda Risiko

Indonesia hadir bukan karena tunduk pada AS mengabaikan Gaza Tapi karena

Indonesia bukan bagian NATO

Indonesia tidak punya konflik struktural dengan AS seperti Eropa

Indonesia perlu menjaga ruang manuver Global South


Namun karena motif Indonesia lebih moral dan historis, maka beban etik Indonesia justru lebih berat daripada Eropa

Eropa bisa mundur tanpa dicap pengkhianat. Indonesia tidak.


Penolakan negara-negara Eropa bukan hanya soal nyawa rakyat Gaza,

tapi juga tentang perlawanan terhadap kepemimpinan sepihak Amerika dan retakan NATO pasca-Greenland.


Sementara Indonesia dan negara Arab berdiri pada Palestina karena sejarah, konstitusi, dan identitas anti-kolonial,

Eropa berdiri sejauh itu memperkuat posisi strategisnya sendiri.

Slovenia menjaga prinsip dari luar karena konflik mereka dengan AS bersifat struktural.


Indonesia bertarung dari dalam karena Palestina adalah soal moral bangsa.

Dan pada akhirnya Yang akan diingat sejarah bukan siapa yang hadir atau menolak,

tapi siapa yang benar-benar membela Palestina saat harganya mahal.


(*_KABEH SEDULUR TAMANSISWA INDONESIA_*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

terima kasih atas komentar anda