*Bukan Hanya Palestina-Israel, Retakan NATO-AS adalah Konteks Besarnya*
oleh: Indria Febriansyah
Penolakan Slovenia, Swedia, Prancis, Denmark, Norwegia, Jerman, dan Spanyol terhadap forum “perdamaian” bentukan AS tidak bisa dibaca semata sebagai solidaritas moral pada Gaza, apalagi disamakan dengan sikap Indonesia atau negara Arab.
Ada lapisan konflik yang lebih dalam, dan Greenland adalah simbol kuncinya.
*"Greenland"* Episentrum Retakan AS-Eropa
Ketegangan AS dan Eropa memuncak bukan hanya di Timur Tengah, tapi di Arktik.
Greenland adalah wilayah otonom Denmark
Kaya mineral strategis, jalur pelayaran Arktik, dan posisi militer, Donald Trump secara terbuka ingin “membeli” Greenland.
Pernyataan itu bukan candaan tapi sinyal ekspansi strategis AS
Bagi Eropa Ini bukan soal Palestina, tapi soal kedaulatan Eropa yang diremehkan sekutunya sendiri.
Sejak momen itu, Denmark merasa diperlakukan seperti negara satelit
Negara Nordik sadar AS tidak selalu sejalan dengan kepentingan Eropa
NATO retak secara politis, meski tetap utuh secara militer
Maka Penolakan Eropa = Akumulasi Kecurigaan Strategis
Saat AS membentuk forum perdamaian sepihak (Trump-era style),
tanpa mandat PBB
tanpa konsultasi Eropa
dengan agenda yang menguntungkan kepentingan AS-Israel
Negara-negara Eropa membacanya sebagai pola lama AS memutuskan, lalu meminta Eropa mengamini
Dalam konteks ini, Palestina adalah isu, tapi bukan satu-satunya alasan.
Motif Eropa Bukan Emosional, Tapi Struktural
*Mari jujur dan adil.*
Negara-negara Eropa yang menolak tidak menghadapi tekanan domestik Palestina seperti Indonesia
tidak punya ikatan historis-emosional seperti dunia Arab,
tidak punya konstitusi anti-kolonial seperti Indonesia.
Motivasi mereka lebih ke Menolak kepemimpinan sepihak AS
Menjaga otonomi strategis Eropa
Mempertahankan multilateralisme PBB
Mencegah preseden bahwa konflik global bisa diselesaikan tanpa Eropa
Palestina penting, ya.
Tapi posisi tawar Eropa di dunia multipolar lebih penting bagi mereka.
_Indonesia & Negara Arab Motifnya Berbeda Berbeda dengan Eropa,_ Indonesia dan banyak negara Arab Terikat secara konstitusional dan historis dengan Palestina
Mengalami langsung warisan kolonialisme
Solidaritas pada Gaza bukan sekadar kebijakan, tapi identitas moral
*Indonesia membela Palestina karena penjajahan harus dihapuskan titik.*
Negara Arab membela Palestina karena darah, tanah, dan sejarah.
Sedangkan Eropa membela Palestina selama sejalan dengan kepentingan strategis Eropa. Ini bukan tuduhan ini realitas politik internasional.
Maka Narasi Besarnya Jadi Jelas
*_Penolakan Slovenia, Swedia, Prancis, Denmark, Norwegia, Jerman, dan Spanyol tidak bisa dipersempit sebagai: “Eropa lebih bermoral dari Indonesia”_*
*Itu keliru.*
Yang lebih tepat:
Eropa sedang melawan dominasi AS dalam arsitektur global
Palestina menjadi medan ekspresi konflik geopolitik Barat itu sendiri
Forum perdamaian Trump dibaca sebagai alat hegemonik, bukan solusi
Indonesia Berbeda Posisi, Berbeda Risiko
Indonesia hadir bukan karena tunduk pada AS mengabaikan Gaza Tapi karena
Indonesia bukan bagian NATO
Indonesia tidak punya konflik struktural dengan AS seperti Eropa
Indonesia perlu menjaga ruang manuver Global South
Namun karena motif Indonesia lebih moral dan historis, maka beban etik Indonesia justru lebih berat daripada Eropa
Eropa bisa mundur tanpa dicap pengkhianat. Indonesia tidak.
Penolakan negara-negara Eropa bukan hanya soal nyawa rakyat Gaza,
tapi juga tentang perlawanan terhadap kepemimpinan sepihak Amerika dan retakan NATO pasca-Greenland.
Sementara Indonesia dan negara Arab berdiri pada Palestina karena sejarah, konstitusi, dan identitas anti-kolonial,
Eropa berdiri sejauh itu memperkuat posisi strategisnya sendiri.
Slovenia menjaga prinsip dari luar karena konflik mereka dengan AS bersifat struktural.
Indonesia bertarung dari dalam karena Palestina adalah soal moral bangsa.
Dan pada akhirnya Yang akan diingat sejarah bukan siapa yang hadir atau menolak,
tapi siapa yang benar-benar membela Palestina saat harganya mahal.
(*_KABEH SEDULUR TAMANSISWA INDONESIA_*)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
terima kasih atas komentar anda