Kekhawatiran sebagian pelaku pasar dan pengamat asing terhadap proses pengisian pimpinan Bank Indonesia perlu ditempatkan secara proporsional, rasional, dan objektif. Indonesia menghargai kepercayaan pasar global, namun kedaulatan pengambilan keputusan ekonomi tetap berada di tangan bangsa Indonesia sendiri.
Indria Febriansyah, Ketua Umum Kabeh Sedulur Tamansiswa Indonesia, secara tegas menyampaikan sangat setuju dan mendukung penuh apabila Thomas Djiwandono dipercaya menjadi Gubernur Bank Indonesia.“Saya sangat setuju sekali Thomas Djiwandono menjadi Gubernur Bank Indonesia. Indonesia membutuhkan pemimpin moneter muda yang nasionalis, berani, dan memahami tantangan global tanpa kehilangan keberpihakan pada kepentingan bangsa,” tegas Indria Febriansyah.
Pertama, independensi Bank Indonesia adalah prinsip kelembagaan, bukan persoalan personal. Ia dijaga oleh Undang-Undang Bank Indonesia, mekanisme kolektif Dewan Gubernur, sistem checks and balances DPR RI, serta transparansi komunikasi kebijakan. Oleh karena itu, kekhawatiran bahwa satu figur akan mengendalikan BI secara sepihak adalah asumsi yang tidak berdasar.
Kedua, pencalonan Thomas Djiwandono justru mencerminkan penguatan koordinasi fiskal–moneter, bukan pelemahan independensi. Pengalaman Thomas di pemerintahan dan sektor keuangan memberi nilai tambah strategis dalam menghadapi volatilitas global, tekanan geopolitik, serta dinamika arus modal internasional.
Ketiga, nasionalisme ekonomi modern bukanlah proteksionisme sempit, melainkan keberanian menempatkan stabilitas ekonomi nasional sebagai prioritas utama. Dalam pandangan Indria Febriansyah, nasionalisme di Bank Indonesia harus berarti:
Menjaga inflasi agar tidak menekan rakyat
Menjaga nilai tukar untuk stabilitas usaha nasional
Mendorong pertumbuhan ekonomi yang berdaulat dan berkelanjutan
Keempat, rekam jejak Indonesia dalam menjaga stabilitas moneter tidak lahir dari figur tunggal, melainkan dari kekuatan institusi. Selama lebih dari dua dekade, Bank Indonesia mampu menjaga inflasi, menopang sistem perbankan, dan meredam krisis global. Tradisi kelembagaan ini akan tetap menjadi pagar utama siapa pun yang memimpin.
Kelima, dunia keuangan internasional perlu memahami bahwa Indonesia sedang memasuki fase regenerasi kepemimpinan ekonomi nasional. Regenerasi ini bukan ancaman bagi pasar, melainkan sinyal keberlanjutan dan adaptasi terhadap tantangan zaman.
Kabeh Sedulur Tamansiswa Indonesia menilai bahwa kepemimpinan nasionalis muda di sektor keuangan adalah keniscayaan sejarah. Pasar global membutuhkan kepastian, dan kepastian itu justru lahir dari pemimpin yang memiliki keberanian moral, kecakapan teknokratis, serta komitmen kebangsaan yang kuat.
“Pasar tidak perlu takut pada nasionalisme yang rasional. Justru nasionalisme yang berakar kuat akan menjaga stabilitas jangka panjang dan membuat Indonesia tetap kredibel di mata dunia,” tutup Indria Febriansyah.
Indonesia tetap terbuka pada investasi global, tetap menghormati mekanisme pasar, dan tetap menjaga disiplin moneter. Namun Indonesia juga berhak memastikan bahwa Bank Sentralnya dipimpin oleh figur yang berdaulat dalam berpikir, tegas dalam bertindak, dan berpihak pada masa depan bangsa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
terima kasih atas komentar anda