Target investasi baru sebesar Rp 2.100 triliun pada 2026 sebagaimana disampaikan Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan P. Roeslani patut diapresiasi sebagai langkah optimistis sekaligus realistis di tengah dinamika ekonomi global yang penuh ketidakpastian. Lebih dari sekadar angka, arah kebijakan investasi yang ditempuh pemerintah menunjukkan perubahan paradigma penting: menempatkan keberlanjutan sebagai fondasi utama pembangunan ekonomi nasional.
Fokus pemerintah pada sektor energi baru dan terbarukan (EBT), seperti panas bumi, energi surya, hidro, hingga waste to energy, menandai keseriusan negara dalam membangun ekonomi hijau yang berdaya saing global. Langkah ini sejalan dengan tren investasi dunia yang semakin menempatkan aspek Environmental, Social, and Governance (ESG) sebagai standar utama. Indonesia tidak lagi hanya menawarkan sumber daya alam, tetapi juga kepastian arah kebijakan dan komitmen jangka panjang.
Perkumpulan Organisasi Kabeh Sedulur Tamansiswa Indonesia sebagai bagian dari kelompok masyarakat sipil turut mengapresiasi langkah Menteri Rosan dalam memperbaiki iklim investasi di Indonesia. Ketua Umum Kabeh Sedulur Tamansiswa Indonesia, Indria Febriansyah, menilai bahwa kebijakan investasi yang berorientasi pada keberlanjutan merupakan wujud nyata keberpihakan negara terhadap masa depan bangsa.
“Upaya Menteri Investasi Rosan P. Roeslani dalam mendorong investasi yang berkelanjutan patut kami apresiasi. Ini bukan hanya soal menarik modal besar, tetapi bagaimana investasi tersebut memberi nilai tambah, menciptakan lapangan kerja berkualitas, serta menjaga keberlanjutan lingkungan dan martabat manusia,” ujar Indria Febriansyah.
Menurutnya, potensi energi terbarukan Indonesia yang sangat besar harus dikelola dengan prinsip kemandirian nasional dan keadilan sosial, sejalan dengan nilai-nilai Tamansiswa yang menempatkan manusia sebagai pusat pembangunan. Dukungan investor global, termasuk pada proyek panas bumi dan data center, dinilai sebagai bukti meningkatnya kepercayaan terhadap arah kebijakan pemerintah.
Selain itu, dorongan terhadap investasi data center dan ekonomi digital menunjukkan bahwa pemerintah mulai menyiapkan fondasi ekonomi masa depan berbasis teknologi dan pengetahuan. Masuknya perusahaan hyperscaler global menjadi sinyal positif bahwa Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga pusat pertumbuhan digital kawasan.
Pemerintah juga patut diapresiasi atas keberaniannya mengembangkan sektor waste to energy, yang selama ini kerap terhambat oleh persoalan regulasi dan tata kelola. Jika dijalankan secara konsisten dan transparan, sektor ini bukan hanya menyelesaikan persoalan sampah, tetapi juga menciptakan energi alternatif dan peluang ekonomi baru di daerah.
Indria Febriansyah menegaskan bahwa Kabeh Sedulur Tamansiswa Indonesia mendukung penuh upaya pemerintah dalam memperbaiki iklim investasi nasional. Namun, ia juga mengingatkan pentingnya pelibatan masyarakat, perguruan tinggi, koperasi, dan dunia pendidikan agar investasi tidak terpusat pada segelintir pihak, melainkan menjadi alat pemerataan kesejahteraan.
“Kami percaya, investasi yang sehat adalah investasi yang memanusiakan manusia, memperkuat ekonomi rakyat, dan menjaga keberlanjutan alam. Inilah semangat yang harus terus dijaga dalam pembangunan Indonesia ke depan,” pungkasnya.
Dengan arah kebijakan investasi yang semakin terukur, berkelanjutan, dan inklusif, optimisme terhadap masa depan ekonomi Indonesia menjadi semakin kuat. Dukungan dari masyarakat sipil, termasuk organisasi berbasis pendidikan dan kebudayaan seperti Kabeh Sedulur Tamansiswa Indonesia, menjadi modal sosial penting agar investasi benar-benar menjadi jalan menuju keadilan dan kemajuan bersama.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
terima kasih atas komentar anda