Senin, 01 Desember 2025

“Instrumen Masyarakat dan Instrumen Negara Harus Berjalan Beriringan agar Reformasi Tidak Pincang”



Ditulis Oleh: Indria Febriansyah

Reformasi bukan hanya milik pemerintah, bukan pula monopoli pejabat yang duduk di kursi kekuasaan. Reformasi adalah milik rakyat, dan ia hanya bisa hidup apabila instrumen masyarakat dan instrumen negara saling menguatkan, bukan saling meniadakan.

Hari ini, kita melihat kegelisahan itu: negara semakin kuat secara formal, tetapi masyarakat sipil melemah secara substansial. Regulasi bertambah, namun ruang partisipasi menyempit. Lembaga negara makin besar, tetapi suara rakyat makin kecil gaungnya. Di sinilah letak bahaya itu—ketika instrumen negara berjalan sendiri tanpa kontrol masyarakat, reformasi berubah pincang, kehilangan arah, dan berpotensi kembali ke budaya kekuasaan lama.


Instrumen masyarakat adalah denyut nadi demokrasi:

gerakan mahasiswa, organisasi rakyat, komunitas adat, akademisi, jurnalis, hingga kelompok kecil yang menjaga kepedulian sosial di desa-desa. Mereka adalah mata dan telinga bangsa. Tanpa mereka, negara berjalan dalam gelap.

Sebaliknya, instrumen negara diperlukan untuk mengeksekusi kebijakan, memastikan keadilan ditegakkan, menata layanan publik, dan menjamin keselamatan warga. Negara bukan musuh masyarakat—tetapi ia berbahaya bila berjalan tanpa pengawasan publik.

Reformasi hanya akan menemukan jalannya jika kedua instrumen ini beriringan dan berimbang:

Negara membuat kebijakan, masyarakat mengawasi.

Negara membuka ruang dialog, masyarakat memberi kritik.

Negara bertindak, masyarakat memastikan tidak ada penyimpangan.

Negara bekerja untuk rakyat, masyarakat mengingatkan ketika kekuasaan mengkhianati amanat.

Ketika keseimbangan ini hilang, maka yang pincang bukan hanya reformasi—melainkan masa depan bangsa. Kita akan kembali pada pola lama: kekuasaan yang tidak diawasi, birokrasi yang tidak transparan, dan rakyat yang hanya menjadi penonton dari pembangunan yang seharusnya mereka nikmati.

Karena itu kita, sebagai bagian dari gerakan rakyat, menyerukan bahwa demokrasi butuh dua kaki untuk berjalan:

kaki negara dan kaki masyarakat. Bila salah satunya lumpuh, bangsa ini pun akan terseok-seok menuju masa depan.

Kini bukan waktunya saling curiga atau saling menyingkirkan.

Ini saatnya menyatukan energi, memastikan bahwa negara mendengar rakyat, dan rakyat ikut menjaga negara.

Reformasi bukan selesai—ia harus diteruskan. Dan ia hanya bisa bertahan bila kekuatan rakyat dan kekuatan negara berjalan setara, saling meneguhkan, dan saling menjaga arah perjuangan.

Reformasi akan selamat bila kita menjaga keseimbangan itu.

Dan keseimbangan hanya tercipta bila masyarakat berdaulat, negara tunduk pada hukum, dan keduanya berjalan beriringan tanpa saling menjatuhkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

terima kasih atas komentar anda