Kamis, 25 Desember 2025

Pendidikan Bukan Ruang Intervensi, Melainkan Benteng Kedaulatan Bangsa


 Oleh: Indria Febriansyah

Ketua Umum Kabeh Sedulur Tamansiswa Indonesia

Pernyataan seorang utusan khusus negara asing yang dengan enteng bertanya, “Bagaimana cara mengubah buku pelajaran mereka?” sejatinya adalah alarm keras bagi Republik Indonesia. Alarm bahwa pendidikan kita mulai dipandang bukan sebagai bangunan kedaulatan bangsa, melainkan sebagai ruang kosong yang bisa diisi kepentingan global.

Di titik inilah bangsa Indonesia harus berhenti bersikap naif.

Pernyataan tersebut datang dari Rabbi Yehuda Kaploun, utusan khusus Pemerintah Amerika Serikat untuk isu antisemitisme. Karena ia berbicara atas nama negara adidaya, ucapannya bukan opini personal, melainkan sinyal arah kebijakan luar negeri Amerika Serikat. Maka persoalannya bukan soal teknis pendidikan, melainkan politik global yang masuk melalui jalur kurikulum.

Pendidikan: Sasaran Strategis Kekuasaan Global

Ketika Kaploun berbicara tentang “mengubah buku pelajaran”, yang dimaksud bukan Amerika menulis buku sekolah Indonesia secara langsung, melainkan upaya yang lebih halus dan strategis:

mempengaruhi isi kurikulum, terutama narasi sejarah, geopolitik, konflik Timur Tengah, Israel–Palestina, dan cara dunia dipahami oleh generasi muda.

Mengapa pendidikan?

Karena pendidikan membentuk cara berpikir jangka panjang. Jauh lebih efektif daripada propaganda politik terbuka. Jika satu generasi diarahkan sudut pandangnya sejak sekolah, dampaknya bisa bertahan puluhan tahun. Inilah yang disebut soft power—kekuasaan yang bekerja perlahan, sistematis, dan dalam.

Indonesia menjadi sasaran perhatian karena kita:

Negara Muslim terbesar di dunia

Memiliki sikap publik yang kritis terhadap Israel

Buku pelajaran kita masih menempatkan Palestina sebagai korban penjajahan

Bagi kepentingan geopolitik tertentu, ini dianggap sebagai “narasi bermasalah” yang ingin dikoreksi.

Tamansiswa: Pendidikan untuk Merdeka, Bukan Tunduk

Di sinilah ajaran Tamansiswa menjadi sangat relevan dan mendesak untuk ditegakkan kembali.

Ki Hadjar Dewantara telah mengingatkan sejak awal bahwa pendidikan bukan sekadar transfer pengetahuan, melainkan pembentukan watak, kesadaran sejarah, dan keberpihakan moral. Tamansiswa lahir sebagai perlawanan terhadap pendidikan kolonial, yang kala itu juga berusaha “mengubah cara berpikir bumiputra” agar tunduk pada kepentingan kekuasaan asing.

Hari ini, bentuknya berubah. Bahasanya lebih halus. Tetapi ruh kolonialismenya tetap sama.

Tamansiswa mengajarkan bahwa pendidikan harus:

Berakar pada kebudayaan bangsa

Merdeka dalam berpikir

Berdaulat dalam nilai

Berpihak pada kemanusiaan dan keadilan

Prinsip Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani bukan slogan kosong, melainkan sistem pertahanan peradaban. Pendidikan Indonesia tidak boleh didesain untuk menyenangkan kekuatan global, apalagi menyesuaikan narasi sejarah sesuai kepentingan negara lain.

Jika hari ini ada pihak asing yang ingin mengoreksi buku pelajaran kita, maka pertanyaannya bukan apa yang salah dengan buku kita, melainkan:

Apakah kita sudah cukup kuat menjaga kedaulatan pikiran anak-anak kita sendiri?

Kurikulum Nasional adalah Soal Kedaulatan

Sejarah Indonesia ditulis dengan darah perjuangan, bukan dengan persetujuan geopolitik. Solidaritas terhadap bangsa tertindas, sikap kritis terhadap penjajahan, dan keberpihakan pada keadilan global adalah nilai moral bangsa, bukan produk kebencian.

Melunakkan nilai-nilai itu demi standar asing sama artinya dengan:

Mengosongkan pendidikan dari nurani

Mengubah sekolah menjadi alat diplomasi politik luar negeri

Menjadikan generasi muda tercerabut dari akar sejarahnya

Tamansiswa mengajarkan bahwa anak didik bukan objek, melainkan subjek yang harus dibebaskan—termasuk dari penindasan cara berpikir.

Peringatan untuk Pemerintah

Pemerintah Republik Indonesia harus sadar:

pendidikan adalah benteng terakhir masa depan bangsa.

Ketika ekonomi bisa dijual, sumber daya bisa diprivatisasi, dan politik bisa dikompromikan, maka pendidikan tidak boleh ditawar. Sekali kurikulum kehilangan kedaulatannya, yang runtuh bukan hanya sistem sekolah, tetapi karakter republik itu sendiri.

Memperkuat pendidikan nasional berarti:

Mempertegas ajaran Ki Hadjar Dewantara sebagai fondasi

Menolak intervensi ideologis asing atas nama toleransi palsu

Menjaga sekolah sebagai ruang pembebasan, bukan penjinakan

Penutup

Tamansiswa lahir untuk melawan kolonialisme pikiran.

Hari ini, tugas itu belum selesai.

Jika bangsa ini ingin tetap merdeka seratus tahun ke depan, maka jangan biarkan cara anak-anak Indonesia memahami dunia ditentukan oleh kepentingan geopolitik global.

Karena masa depan republik tidak dijaga dengan senjata, tetapi dengan pendidikan yang berdaulat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

terima kasih atas komentar anda