Sabtu, 23 Agustus 2025

Cucu Bung Hatta Tak Pernah Merasakan Jadi Rakyat Jelata, Modal Kuliah Diluar Negri Dengan Doktrin Asing Seolah Tahu Penderitaan Rakyat

Kabeh Sedulur Tamansiswa Indonesia: Kritik Pedas untuk Cucu Bung Hatta




Kabeh Sedulur Tamansiswa Indonesia melalui ketua umumnya Indria Febriansyah mengecam keras sikap cucu Bung Hatta yang belakangan viral karena menunjukkan attitude yang buruk saat diundang ke Istana. Bukannya menunjukkan rasa hormat sebagai keluarga proklamator bangsa, justru ia tampil dengan nyinyiran dan sikap tidak pantas.

Fenomena ini memperlihatkan bahwa garis keturunan biologis dari seorang tokoh bangsa tidak otomatis mewarisi jiwa perjuangan dan nasionalisme sang leluhur. Selama ini, mereka yang bersekolah di London atau kampus luar negeri justru sering terdoktrin oleh kepentingan elite global, proksi kapitalisme barat, dan ide-ide liberal yang tidak berpihak pada rakyat. Maka tidak heran bila kehadiran seorang Presiden nasionalis seperti Prabowo terasa mengganggu bagi mereka.

Fakta sejarah juga membuktikan, empat periode kepemimpinan Majelis Luhur Tamansiswa Diemban menantu Bung Hatta, Ki Sri Edi Swasono, tidak membuat Tamansiswa menjadi lebih maju, justru semakin merosot. Artinya, warisan nama besar saja tidak cukup—apalagi jika hanya dijadikan modal untuk mengkritik, tanpa karya nyata untuk rakyat.

Kalau memang peduli pada bangsa, kenapa tidak maju menjadi anggota DPR atau mencalonkan diri sebagai Presiden? Buktikan diri lewat jalur demokrasi, jangan hanya bisa bicara pedas di media sosial. Toh mereka pun sadar, tak akan ada rakyat yang sudi memilih—karena bangsa ini butuh pemimpin sejati, bukan pewaris nama besar yang hidup di bawah bayang-bayang leluhur.

Cucu Bung Hatta seharusnya malu, karena bukannya menjaga martabat sang proklamator, justru merusaknya dengan sikap nyinyir yang tak berguna. Bangsa ini butuh tindakan nyata, bukan ocehan kosong.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

terima kasih atas komentar anda