Senin, 16 Februari 2026

Merawat Barisan Inti Pendukung Prabowo Subianto

MERAWAT BARISAN INTI YANG TAK TERCATAT: Sebuah Refleksi tentang Nasionalisme, Loyalitas, dan Kemandirian Rakyat

Oleh: Indria Febriansyah



MENGENAL BARISAN YANG TERLUPAKAN

Kemenangan Prabowo Subianto pada Pemilihan Presiden 2024 bukanlah semata hasil kerja mesin partai politik dan koalisi formal yang tercatat dalam dokumen-dokumen administrasi negara. Di balik gemerlap panggung politik, di balik hiruk-pikuk kampanye elektoral, dan di balik struktur organisasi yang rapi terpampang dalam diagram alur kekuasaan, terdapat sebuah barisan sunyi yang sejak lama berdiri tegak, bergerak tanpa henti, dan membela tanpa pamrih. Mereka adalah kelompok yang tidak memiliki kartu anggota partai, tidak tercatat dalam SK struktural, dan tidak terdaftar sebagai sayap resmi dari mana pun koalisi politik yang ada.

Mereka adalah barisan independen. Mereka adalah kelompok mandiri. Mereka adalah komunitas yang bergerak berdasarkan keyakinan ideologis, bukan instruksi atasan.

Salah satu contoh paling representatif dari barisan ini adalah Kabeh Sedulur Tamansiswa Indonesia sebuah jejaring nasionalis-kerakyatan yang sejak awal konsisten mendukung kepemimpinan Prabowo Subianto bukan sebagai sekadar kandidat dalam kontes elektoral, melainkan sebagai figur kebangsaan yang dipercaya mampu membawa perubahan substantif bagi rakyat Indonesia. Barisan seperti ini tidak lahir karena transaksi politik semalam. Mereka tidak muncul karena imbalan jabatan atau proyek. Mereka lahir karena keyakinan yang mendalam pada nilai-nilai nasionalisme, kedaulatan ekonomi, dan keadilan sosial.

Dalam peta dukungan politik yang selama ini dipahami publik, yang sering kali terlihat hanyalah struktur formal partai, sayap-sayap pemuda yang terorganisir rapi, serta relawan-relawan yang tercatat dalam database dengan nomor identitas lengkap. Namun ada kekuatan lain yang jauh lebih subtil namun tidak kalah pentingnya: komunitas intelektual yang berpikir kritis, jaringan sosial-kultural yang mengakar di masyarakat, aktivis-aktivis ekonomi rakyat yang bekerja di lapangan, serta organisasi-organisasi independen yang dengan sengaja menolak untuk tersubordinasi oleh kepentingan partai politik mana pun.

Karateristik utama dari barisan ini adalah sikap mereka yang tidak menuntut jabatan, tidak meminta posisi, dan tidak mengincar kursi di berbagai badan-badan negara. Apa yang mereka tuntut adalah arah kebijakan yang konsisten dengan retorika nasionalisme yang diusung. Mereka mendukung Prabowo karena nasionalismenya yang diyakini tulus, karena komitmennya pada kedaulatan ekonomi yang diharapkan mampu memerdekakan rakyat dari belenggu ketergantungan, dan karena keberpihakannya pada rakyat kecil bukan karena janji posisi atau imbalan materi yang menggiurkan.

MENGAPA BARISAN INI PENTING DAN VITAL

Dalam dinamika politik pasca kemenangan, fokus perhatian pemerintah dan elit politik seringkali tertuju pada koalisi besar yang baru terbentuk dan pada figur-figur yang baru saja bergabung dengan barisan pendukung. Perhatian yang berlebihan pada elemen-elemen baru ini, meski bisa dipahami dari perspektif politik praktis, seringkali mengaburkan fakta bahwa ada barisan lama yang independen yang kadang terabaikan tepatnya karena mereka tidak "terdata" secara administratif. Padahal, justru kelompok inilah yang memiliki karakteristik unik yang tidak dimiliki oleh pendukung-pendukung lainnya.

Pertama, mereka adalah kelompok yang bertahan ketika elektabilitas rendah. Ketika angka survei menunjukkan Prabowo berada dalam posisi tidak menguntungkan, ketika media mainstream mulai meragukan peluang kemenangan, dan ketika banyak pihak mulai berpikir untuk berpaling, barisan independen ini tetap setia berdiri di garis terdepan. Mereka tidak lari. Mereka tidak berpindah haluan. Mereka tetap berjuang dengan keyakinan yang sama kuatnya.

Kedua, mereka adalah kelompok yang membela saat serangan politik masif. Ketika kubu lawan melancarkan kritik tajam, ketika isu-isu miring disebarluaskan untuk menggoyahkan citra, dan ketika serangan-serangan personal dilancarkan tanpa ampun, barisan independen ini menjadi benteng pertahanan yang tidak kenal lelah. Mereka bukan hanya pasif menonton, tetapi aktif melawan narasi-narasi negatif dengan argumentasi yang berbasis pada fakta dan nilai.

Ketiga, dan yang paling penting, mereka adalah kelompok yang konsisten saat kompromi politik terjadi. Ketika pada tahun 2019 Prabowo memutuskan untuk bergabung dengan pemerintahan Joko Widodo dalam sebuah kompromi politik yang mengejutkan banyak pihak, banyak pendukung yang kecewa dan berpaling. Namun barisan independen ini tidak goyah. Mereka memahami bahwa politik adalah seni kemungkinan, dan mereka tetap percaya pada visi jangka panjang yang lebih besar. Mereka bukan migran politik yang berpindah-pindah sesuai arah angin. Mereka adalah pendukung yang berakar pada keyakinan, bukan pada kalkulasi pragmatis semata.

Dalam kontribusi politiknya, jika para eks pendukung Jokowi yang kemudian bergabung memberikan volume suara yang besar, dan jika basis massa Gerindra memberikan struktur organisasi yang kokoh, maka barisan independen inilah yang memberikan legitimasi moral yang tak ternilai harganya. Mereka adalah penjaga integritas narasi, penjamin konsistensi ideologis, dan penguat fondasi kepercayaan publik yang tidak bisa dibeli dengan uang atau diperoleh melalui transaksi politik.

RISIKO KETIKA BARISAN INTI DIABAIKAN

Namun demikian, ada risiko besar yang mengintai ketika barisan inti yang independen ini diabaikan atau dilupakan. Kekecewaan dari kelompok ini tidak selalu muncul dalam bentuk oposisi terbuka yang terlihat jelas. Bisa jadi, kekecewaan mereka tercermin dalam bentuk yang jauh lebih berbahaya dan sulit dideteksi: keheningan politik yang perlahan merayap, menurunnya militansi sosial yang tadinya menjadi kekuatan, serta berkurangnya pembelaan narasi di ruang publik yang sebelumnya selalu aktif.

Dalam politik modern yang sangat bergantung pada narasi dan persepsi publik, kehilangan energi moral jauh lebih berbahaya daripada kehilangan satu atau dua kursi komisaris di badan-badan usaha milik negara. Karena energi moral adalah penjaga reputasi jangka panjang, adalah penguat legitimasi yang tidak bisa diukur dengan angka-angka statistik, namun sangat terasa dampaknya ketika hilang. Ketika barisan independen mulai bungkam, ketika mereka tidak lagi dengan antusias membela kebijakan pemerintah, dan ketika mereka mulai menarik diri dari ruang-ruang diskusi publik, maka akan muncul kekosongan yang sulit diisi oleh pendukung-pendukung lainnya.

TANTANGAN BAGI KEPIMPINAN PRESIDEN

Sebagai figur yang mengusung banner nasionalisme, Presiden Prabowo Subianto tidak hanya berdiri di atas partai politik yang menaunginya. Ia berdiri di atas simpul-simpul kebangsaan yang tersebar di seluruh pelosok tanah air. Barisan independen seperti Kabeh Sedulur Tamansiswa Indonesia dan jaringan-jaringan sejenisnya bukanlah kompetitor bagi partai-partai politik yang ada. Mereka bukan ancaman bagi struktur kekuasaan formal. Sebaliknya, mereka adalah penguat ekosistem nasionalisme yang justru dibutuhkan untuk memperkokoh fondasi pemerintahan.

Yang dibutuhkan oleh barisan independen ini bukanlah pembagian jabatan dalam struktur birokrasi. Mereka tidak haus akan kursi, tidak lapar akan posisi, dan tidak mendambakan gelar. Yang mereka butuhkan adalah hal-hal yang jauh lebih substantif dan berarti dalam jangka panjang.

Pertama, ruang dialog rutin yang memungkinkan mereka menyampaikan aspirasi, kritik, dan masukan secara langsung tanpa melalui filter birokratis yang berlapis-lapis. Dialog yang bukan sekadar formalitas, tetapi benar-benar menjadi saluran komunikasi dua arah.

Kedua, pengakuan kontribusi yang tulus atas apa yang telah mereka lakukan selama ini—bukan dalam bentuk piagam atau penghargaan seremonial, tetapi dalam bentuk pengakuan bahwa suara mereka didengar dan peran mereka dihargai dalam pembentukan kebijakan.

Ketiga, pelibatan dalam gagasan strategis kebangsaan yang memungkinkan mereka berkontribusi pada perumusan visi dan misi besar bangsa, bukan hanya sebagai pelaksana di tingkat operasional.

Keempat, sinergi program ekonomi rakyat yang konkret dan terukur, di mana mereka bisa menjadi mitra strategis dalam implementasi kebijakan yang berpihak pada rakyat kecil.

Karena dukungan ideologis yang tulus tidak bisa dibeli dengan uang, tidak bisa dipaksa dengan kekuasaan, tetapi bisa dirawat dengan kebijakan yang adil dan partisipatif.



JANGKA PANJANG MENUJU 2029

Jika kemenangan pada tahun 2024 lahir dari koalisi yang sangat luas dan beragam, maka stabilitas politik menuju tahun 2029 akan sangat bergantung pada soliditas fondasi yang dibangun sejak awal. Para eks migran politik yang bergabung belakangan bisa berubah arah kapan saja j situasi politik tidak lagi menguntungkan mereka. Struktur partai politik bisa mengalami dinamika internal yang tidak terduga. Elite-elite politik bisa kapan saja bernegosiasi ulang dan membentuk aliansi baru yang tidak terbayangkan sebelumnya.

Tetapi barisan ideologis yang independen jika dirawat dengan baik, jika diberi ruang yang memadai, dan jika dihargai kontribusinya akan tetap menjadi benteng yang kokoh dan tidak goyah menghadapi berbagai gejolak politik. Mereka adalah penjaga api ideologi yang tidak akan padam meski badai politik menerpa.

Dalam pandangan saya, kepemimpinan besar bukan hanya tentang merangkul mereka yang datang belakangan dengan tawaran-tawaran menggiurkan. Kepemimpinan besar justru terletak pada kemampuan untuk menghargai mereka yang setia sejak awal, meskipun mereka tidak tercatat dalam administrasi, meskipun mereka tidak memiliki kartu anggota, dan meskipun mereka tidak bisa memberikan kontribusi finansial yang besar.

Politik kebangsaan tidak boleh hanya menjadi ruang transaksi di mana segala sesuatu diukur dengan imbalan dan keuntungan. Ia harus menjadi ruang nilai di mana keyakinan, komitmen, dan pengorbanan dihargai setimpal. Presiden Prabowo adalah figur yang mengusung diri sebagai nasionalis. Dan figur nasionalis yang tulus membutuhkan barisan yang percaya pada gagasan, bukan sekadar mereka yang mengincar jabatan. Barisan inti yang independen mungkin tidak memiliki kartu anggota yang bisa dipindai, tetapi mereka memiliki komitmen yang tak tergoyahkan. Dan dalam sejarah perjuangan bangsa, komitmen jauh lebih mahal harganya daripada kursi kekuasaan.

BAHAYA "RESTART" PERSEPSI PUBLIK

Namun jika situasi ini dibiarkan terus berlanjut jika barisan independen terus diabaikan sementara kelompok-kelompok yang baru bergabung mendapat perhatian berlebihan maka akan muncul apa yang saya sebut sebagai "restart persepsi" di kalangan publik. Ini bukan bentuk oposisi terbuka yang frontal. Ini bukan pula bentuk perlawanan yang terorganisir. Tetapi ini adalah peninjauan ulang keyakinan terhadap figur yang selama ini dibela dengan penuh kesetiaan.

Ketika publik, khususnya barisan independen yang loyal, melihat bahwa kesetiaan mereka tidak diintegrasikan dalam kerja nyata pemerintahan, sementara kelompok-kelompok yang dulu berseberangan justru lebih cepat mendapat ruang dan perhatian, maka akan muncul pertanyaan-pertanyaan sunyi yang mengganggung: Apakah nasionalisme hanya berlaku untuk mereka yang datang belakangan? Apakah kesetiaan dianggap sudah pasti sehingga tidak perlu dirawat dan dihargai? 

Dalam politik, rasa diabaikan jauh lebih berbahaya daripada kritik yang keras dan terbuka. Kritik bisa dijawab dengan argumentasi. Kritik bisa diatasi dengan perbaikan. Tetapi rasa diabaikan akan memicu keheningan yang mematikan, kecenderungan untuk menarik diri, dan akhirnya kehilangan energi yang selama ini menjadi motor penggerak.

Nasionalisme tidak boleh selektif. Nasionalisme bukan sekadar retorika podium yang meluncur indah di telinga pendengar. Ia harus tercermin dalam keberpihakan yang adil dan merata. Jika energi dan waktu lebih banyak dihabiskan untuk "menjinakkan gajah di laut seberang" merangkul lawan-lawan politik yang dulu bermusuhan sementara "semut di pelipis mata" barisan kecil yang setia merasa tak diperhatikan, maka risiko internal jauh lebih nyata dan mengancam daripada ancaman eksternal apa pun.

Pepatah tentang gajah dan semut ini bukanlah ancaman. Ini adalah peringatan kebijaksanaan yang telah terbukti kebenarannya sepanjang sejarah. Merangkul lawan memang penting untuk stabilitas politik jangka pendek. Tetapi merawat kawan adalah fondasi keberlanjutan jangka panjang yang tidak bisa ditawar-tawar.

MENUJU SOLUSI-SINERGI EKONOMI PRODUKTIF

Solusi dari dilema ini bukanlah konflik atau perpecahan yang justru akan melemahkan barisan sendiri. Solusinya adalah sinergi ekonomi produktif yang mengintegrasikan barisan independen dalam program-program pembangunan yang substantif. Libatkan mereka dalam:

Program koperasi desa nasional yang menjadi tulang punggung perekonomian rakyat

Skema pembiayaan kerakyatan yang memberikan akses modal bagi usaha-usaha kecil dan menengah

Digitalisasi UMKM yang membuka akses pasar lebih luas bagi pengusaha-pengusaha lokal

Penguatan jaringan ekonomi berbasis komunitas yang mengakar pada kekuatan sosial yang sudah ada

Berikan ruang kontribusi nyata, bukan sekadar akses simbolik yang hanya untuk foto bersama dan liputan media. Karena barisan ideologis yang diberi ruang untuk berkontribusi secara produktif akan menjadi penguat pemerintahan, bukan beban politik yang harus ditanggung.

Loyalitas harus dikonversi menjadi daya. daya gerak, daya kreasi, dan daya produksi yang menguntungkan rakyat banyak.

REFLEKSI KRITIS DARI KABEH SEDULUR TAMANSISWA INDONESIA

Sebagai penutup, izinkan saya menyampaikan refleksi yang lebih personal dan internal dari perspektif Kabeh Sedulur Tamansiswa Indonesia salah satu barisan independen yang saya wakili.

Kami bukan barisan karbitan yang muncul tiba-tiba saat momentum politik menguntungkan. Kami sudah ikut kalah sejak tahun 2009, ketika Prabowo pertama kali maju dalam kontestasi pilpres dan belum berhasil. Kami terbiasa berada di luar sistem kekuasaan, terbiasa mandiri secara finansial dan operasional, dan terbiasa mengabdi tanpa menuntut jabatan ataupun proyek. Loyalitas kami bukan loyalitas administratif yang tercatat dalam buku besar partai. Kami tidak tercatat sebagai sayap partai, tidak bergantung pada struktur hierarkis, dan tidak menggantungkan harapan pada amplop kekuasaan yang datang setiap bulan.

Kami berdiri karena keyakinan keyakinan bahwa figur nasionalis seperti Presiden Prabowo mampu membawa perubahan besar bagi rakyat kecil, bagi wong cilik, bagi kaum marhaen modern, bagi masyarakat desa yang sering terlupakan, dan bagi keluarga besar Tamansiswa yang sejak awal lahir untuk mencerdaskan dan memerdekakan manusia sesuai cita-cita pendiri kami, Ki Hadjar Dewantara.

Namun hari ini, kami dipaksa melakukan refleksi yang pahit apakah keyakinan itu harus dinormalisasi ulang? 

Dari Harapan Perubahan ke Realitas Bias Pembangunan

Kami menyaksikan arah pembangunan yang dikemas dengan narasi jangka panjang hilirisasi, industrialisasi, penguatan fiskal, stabilitas makroekonomi. Secara konseptual, semua itu tidak salah. Sebuah negara memang butuh fondasi ekonomi yang kuat. Tetapi dalam praktiknya, yang menjadi pelaku utama tetaplah segelintir elit menengah ke atas yang memiliki akses pada modal, teknologi, dan jaringan pengaruh.

Rakyat miskin dan miskin ekstrem disusun ulang dalam skema administratif yang rapi, didata dengan teknologi modern, dikategorikan dalam berbagai kelompok sasaran, diberi bantuan sosial yang terprogram, namun tetap saja berada dalam orbit ketergantungan pada pemodal lokal yang berganti pemain namun tidak pernah berubah struktur relasinya. Strukturnya berubah dengan nama-nama program yang lebih canggih, aktornya berganti dengan wajah-wajah yang lebih muda, tetapi relasi kuasa yang eksploitatif tetap sama.

Di mana ruang partisipasi rakyat yang sesungguhnya? Di mana pemberdayaan ekonomi rakyat yang memperkecil kesenjangan struktural? Di mana keberpihakan pada gerakan mandiri yang sudah lama berjuang di luar sistem formal?

Kekecewaan yang Rasional, Bukan Emosional

Kekecewaan Kabeh Sedulur Tamansiswa Indonesia bukanlah bentuk pembangkangan yang emosional. Ini adalah kegelisahan moral yang lahir dari pengamatan kritis terhadap realitas. Kami percaya nasionalisme bukan sekadar simbol yang dipajang dan pidato yang meluncur indah, tetapi keberanian memberi ruang bagi rakyat untuk menjadi pelaku utama pembangunan, bukan sekadar objek statistik yang dikelola.

Selama ini kami yakin bahwa Presiden Prabowo adalah figur yang mampu memutus rantai oligarki pembangunan yang selama ini mengikat rakyat. Tetapi jika orientasi kebijakan tetap bertumpu pada kelompok elite sebagai motor utama pembangunan, maka perubahan yang terjadi hanya menjadi rotasi kekuasaan dari satu kelompok elite ke kelompok elite lainnya, bukan transformasi struktural yang mengadakan rakyat.

Kami harus jujur pada diri sendiri: jangan sampai ketergantungan pada figur membuat kami menutup mata terhadap realitas yang tidak sesuai harapan.

Menormalisasi Ketergantungan Figur

Sudah saatnya kami menormalisasi ketergantungan terhadap figur. Artinya apa?

Artinya, perjuangan rakyat tidak boleh berhenti hanya karena kecewa pada satu kepemimpinan. Artinya, loyalitas tidak boleh berubah menjadi pembenaran buta atas segala kebijakan. Artinya, pengabdian harus tetap berjalan meskipun tanpa panggung kekuasaan yang menyorot.

Tamansiswa sejak awal didirikan untuk membangun manusia merdeka bukan manusia yang menggantungkan nasib dan harapannya pada satu sosok pemimpin, sekalipun sosok itu dianggap baik dan tulus. Jika perubahan ternyata berjalan dalam koridor elite, maka rakyat harus memperkuat barisannya sendiri dengan kemandirian. Jika ekonomi jangka panjang tetap diprioritaskan untuk pemodal besar, maka ekonomi rakyat harus dibangun dari bawah dengan semangat kemandirian kolektif.

Refleksi untuk Kepemimpinan Nasional

Kekecewaan ini bukan ancaman. Ini adalah peringatan sejarah yang harus didengar. Gerakan yang sejak 2009 tetap bertahan di luar sistem adalah bukti nyata bahwa ada barisan yang tulus, tidak oportunis, dan tidak transaksional. Jika barisan seperti ini merasa tidak lagi mendapatkan ruang partisipasi substantif, maka yang tergerus bukan hanya kepercayaan personal, tetapi energi moral yang selama ini menopang legitimasi pemerintahan.

Nasionalisme sejati bukan tentang siapa yang berkuasa, tetapi tentang siapa yang diberdayakan. Dan jika rakyat kecil hanya menjadi angka dalam laporan statistik, sementara pelaku pembangunan tetap segelintir elite yang berkuasa, maka cita-cita perubahan akan terasa sangat jauh dari makna keadilan sosial yang dijanjikan.

KEMBALI PADA PRINSIP AWAL

Kabeh Sedulur Tamansiswa Indonesia akan tetap mengabdi. Pengabdian ini bukan karena kami tidak punya pilihan lain, tetapi karena itu adalah kodrat organisasi kami. Tetapi pengabdian kami tidak lagi berbasis pada romantisme figur atau personifikasi kepemimpinan. Kami akan kembali pada prinsip awal yang dibentuk oleh Ki Hadjar Dewantara membangun kekuatan rakyat secara mandiri, terlepas dari siapa yang memimpin negara ini.

Karena pada akhirnya, sejarah tidak mencatat siapa yang setia pada kekuasaan. Sejarah hanya mencatat siapa yang setia pada rakyat. Dan kami memilih untuk setia pada rakyat, dengan segala konsekuensinya.

Menuju 2029, tantangan terbesar bukan pada oposisi terbuka yang bisa dilihat dan diukur, tetapi pada melemahnya energi internal dari barisan yang selama ini menjadi fondasi. Eks migran politik bisa berubah arah jika situasi tidak menguntungkan itu adalah sifat dasar politisi pragmatis. Tetapi barisan inti hanya akan berubah jika merasa diabaikan dan tidak dihargai. Dan jika sampai terjadi "restart" posisi yang memicu pro dan kontra publik yang meluas, maka narasi nasionalisme yang diusung bisa dipertanyakan keabsahannya.

Naudzubillah min dzalik.  Semoga Allah menjauhkan kita dari keadaan demikian.

Karena nasionalisme sejati bukan soal siapa yang paling keras berteriak di panggung politik, melainkan siapa yang konsisten diberi ruang untuk bekerja nyata bagi rakyat. Saya percaya Presiden Prabowo adalah figur nasionalis yang tulus dalam niatnya. Namun dalam praktik kekuasaan, ketulusan harus diterjemahkan menjadi kebijakan yang adil, partisipatif, dan berpihak pada rakyat kecil.

Loyalitas tidak boleh dianggap otomatis dan kekal. Ia harus dirawat. Ia harus disinergikan dengan program yang nyata. Ia harus diberi ruang kontribusi yang substantif.

Karena menjinakkan gajah di laut seberang memang terlihat heroik dan mengesankan, tetapi semut yang menggigit di pelipis mata bisa lebih menyakitkan dan mengganggu jika diabaikan terus-menerus. Bukan karena semut itu jahat, tetapi karena ia merasa tidak dianggap padahal selalu ada.

Merawat barisan inti yang tak tercatat bukanlah pilihan. Itu adalah keharusan bagi keberlanjutan sebuah pemerintahan yang mengusung nama rakyat.



Indria Febriansyah:

Penulis adalah aktivis dan pengamat politik dari jejaring Kabeh Sedulur Tamansiswa Indonesia 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

terima kasih atas komentar anda