Minggu, 08 Februari 2026

Manifesto Pemuda Tamansiswa - Rejuvenasi Pemikiran Politik Kebangsaan

                                                             


                                                            KATA PENGANTAR

Ketua Umum Kabeh Sedulur Tamansiswa Indonesia

Salam & Bahagia... Merdeka,

Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas karunia-Nya sehingga "Manifesto Pemuda Tamansiswa - Rejuvenasi Pemikiran Politik Kebangsaan" ini dapat hadir di hadapan saudara-saudara sekalian.

Sebagai organisasi yang lahir dari rahim pemikiran luhur Ki Hadjar Dewantara, Kabeh Sedulur Tamansiswa Indonesia memikul tanggung jawab moral yang besar untuk tidak hanya menjadi saksi sejarah, tetapi menjadi pelaku aktif dalam menentukan arah masa depan bangsa. Buku ini adalah manifestasi dari kegelisahan sekaligus optimisme kami terhadap dinamika politik, ekonomi, dan sosial di tanah air belakangan ini.

Dunia sedang berubah dengan sangat cepat. Tantangan yang kita hadapi hari ini, mulai dari kemiskinan ekstrem yang membelenggu rakyat, krisis etika kepemimpinan, hingga pergeseran nilai budaya di era digital, memerlukan jawaban yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kokoh secara moral. Melalui konsep Rejuvenasi, kita berupaya menyegarkan kembali ajaran-ajaran Tamansiswa agar tetap relevan sebagai kompas perjuangan generasi muda.

Dalam kapasitas saya sebagai Ketua Umum, saya ingin menegaskan bahwa buku ini adalah komitmen kita untuk kembali ke jalan Politik Beradab. Politik yang menempatkan kerakyatan di atas segalanya, yang menggunakan pendidikan sebagai alat pembebasan, dan yang menjadikan kebudayaan sebagai benteng kedaulatan. Kita tidak boleh membiarkan politik kita kering dari nilai-nilai kemanusiaan.

Buku ini disusun dari berbagai pemikiran dan dialektika yang telah kita bangun bersama di berbagai ruang diskusi, termasuk catatan-catatan kritis yang selama ini tertuang dalam kanal komunikasi organisasi. Saya berharap, setiap bab dalam buku ini menjadi "bahan bakar" bagi setiap sedulur untuk bergerak, mengabdi, dan memberikan solusi nyata di tengah masyarakat.

Akhir kata, saya ucapkan terima kasih kepada tim penyusun dan seluruh pihak yang telah mencurahkan pikiran dan energinya untuk mewujudkan buku ini. Mari kita melangkah bersama dengan semangat Ing Ngarsa Sung Tulada, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani.

Selamat membaca, selamat berjuang. Lawan Sastra Ngesti Mulya.

Salam,

Yogyakarta, Februari 2026

Indria Febriansyah, S.E., M.H. Ketua Umum Kabeh Sedulur Tamansiswa Indonesia

BAB 1

Fondasi Kebangsaan dan Kerakyatan

1.1 Kebangsaan: Antara Identitas dan Kemanusiaan

Kebangsaan bagi Kabeh Sedulur Tamansiswa bukanlah sebuah konsep statis yang hanya berhenti pada simbol bendera atau lagu kebangsaan. Di tengah arus globalisasi dan polarisasi politik, kita sering melihat "kebangsaan" digunakan sebagai alat untuk memecah belah. Namun, manifesto kita menegaskan bahwa kebangsaan adalah nasionalisme yang berpangkal pada kemanusiaan.

Kita tidak boleh lupa pada pesan Ki Hadjar Dewantara bahwa "nasionalisme kita adalah nasionalisme yang duduk di dalam taman sarinya internasionalisme." Artinya, kita mencintai bangsa Indonesia tanpa harus membenci bangsa lain, namun tetap teguh menjaga kedaulatan di atas kaki sendiri. Dalam konteks politik hari ini, kebangsaan berarti menjaga keutuhan rumah besar Indonesia dari segala bentuk intervensi yang merusak tatanan sosial dan kerukunan sedulur.

1.2 Ruh Kerakyatan: Melawan Demokrasi Tanpa Jiwa

Saat ini, kita menyaksikan demokrasi yang seolah-olah hidup namun sebenarnya kehilangan jiwa. Rakyat sering kali hanya diposisikan sebagai deretan angka di kotak suara. Setelah mandat diberikan, rakyat ditinggalkan. Inilah yang kita sebut sebagai "Demokrasi Tanpa Jiwa."

Kabeh Sedulur Tamansiswa hadir untuk mengembalikan politik pada Ruh Kerakyatan. Kerakyatan dalam pandangan kita adalah kedaulatan yang bersumber dari kesadaran kolektif masyarakat bawah. Kita tidak menginginkan pemimpin yang hanya mahir berjanji, tetapi pemimpin yang mampu menjalankan konsep Ing Ngarsa Sung Tulada—memberi teladan nyata dalam kesederhanaan dan keberpihakan pada kaum kecil. Politik kerakyatan adalah politik yang mendengarkan denyut nadi pasar, sawah, dan bengkel-bengkel kerja rakyat, bukan sekadar ruang rapat yang dingin.

1.3 Ngandel, Kendel, Bandel, Kandel: Empat Pilar Pergerakan

Untuk mewujudkan kerakyatan yang sejati, setiap kader harus memiliki empat karakter dasar pergerakan:

·         Ngandel (Percaya): Kita harus memiliki kepercayaan penuh pada kekuatan rakyat dan kebenaran perjuangan. Tanpa rasa percaya, pergerakan akan mudah goyah oleh iming-iming materi.

·         Kendel (Berani): Keberanian untuk menyuarakan ketidakadilan. Politik membutuhkan keberanian untuk berkata "tidak" pada kebijakan yang menindas, meskipun itu datang dari lingkaran kekuasaan.

·         Bandel (Teguh): Perjuangan politik bukan lari jarak pendek, melainkan maraton yang melelahkan. Kita harus "bandel" dalam mempertahankan prinsip, tidak mudah menyerah oleh kegagalan, dan tidak silau oleh kemenangan sesaat.

·         Kandel (Berisi/Tebal): Keberanian tanpa isi adalah konyol. Kader harus "kandel" ilmunya, "kandel" budi pekertinya, dan "kandel" imannya agar tidak mudah diombang-ambingkan oleh opini publik yang menyesatkan.

1.4 Menuju Politik Beradab

Bahwa tujuan akhir dari kebangsaan dan kerakyatan adalah terciptanya masyarakat yang tata tentram karta raharja. Politik bagi Kabeh Sedulur Tamansiswa adalah pengabdian untuk memastikan bahwa tidak ada lagi rakyat yang merasa asing di tanah airnya sendiri. Kita bergerak untuk memastikan keadilan bukan hanya milik mereka yang berpunya, tetapi hak bagi setiap insan yang bernapas di bumi pertiwi.

 

BAB 2

Pendidikan sebagai Alat Pembebasan Politik

2.1 Melampaui Pengajaran: Pendidikan untuk Kemerdekaan Latih dan Batin

Dalam pandangan Kabeh Sedulur Tamansiswa, krisis politik yang kita alami hari ini seperti korupsi, politik uang, dan hilangnya etika sebenarnya adalah krisis pendidikan. Banyak orang "bersekolah" tapi tidak "terdidik" secara politik. Pendidikan politik yang ada selama ini cenderung hanya mengajarkan cara memilih, bukan cara berpikir kritis.

Buku Putih ini menegaskan bahwa pendidikan harus menjadi alat pembebasan. Bebas dari apa? Bebas dari kebodohan, bebas dari rasa takut kepada kekuasaan, dan bebas dari mentalitas "budak" yang selalu menunggu perintah. Kita mengacu pada konsep Merdeka Lahir Batin. Seorang kader politik yang merdeka secara batin tidak akan bisa dibeli dengan uang, dan yang merdeka secara lahir tidak akan mau ditindas oleh sistem yang tidak adil.

2.2 Sistem Among: Kepemimpinan Politik yang Melayani

Dunia politik kita saat ini sering kali menampilkan pemimpin yang minta dilayani, bukan melayani. Di sinilah Sistem Among menjadi relevan sebagai model kepemimpinan politik masa depan:

·         Ing Ngarsa Sung Tulada: Pemimpin politik harus menjadi teladan moral. Jika pemimpinnya bersih, rakyat akan mengikuti.

·         Ing Madya Mangun Karsa: Pemimpin tidak boleh berjarak. Ia harus berada di tengah-tengah rakyat, membangkitkan semangat dan inisiatif dari bawah.

·         Tut Wuri Handayani: Pemimpin harus berani memberikan kepercayaan kepada generasi muda untuk tampil, mendorong dari belakang, dan tidak memonopoli kekuasaan.

2.3 Tri Pusat Pendidikan dalam Pergerakan Politik

Kita tidak bisa menyerahkan pendidikan politik hanya kepada partai politik atau sekolah. Konsep Tri Pusat Pendidikan (Alam Keluarga, Alam Perguruan, dan Alam Kemasyarakatan) harus diterapkan dalam organisasi Kabeh Sedulur Tamansiswa:

1.      Keluarga: Menanamkan nilai kejujuran dan kasih sayang sejak dini sebagai dasar karakter politik.

2.      Perguruan (Organisasi): Menjadi kawah candradimuka di mana ideologi ditempa dan diskursus politik dijalankan secara intelektual.

3.      Masyarakat: Tempat praktik nyata. Kader harus terjun langsung menyelesaikan persoalan warga sebagai wujud nyata dari pendidikan politik yang membumi.

2.4 Melawan "Intelektual Menara Gading"

Sering kali kaum terpelajar menjauh dari politik karena dianggap kotor. Akibatnya, ruang politik diisi oleh mereka yang hanya mengejar kepentingan pribadi. Manifesto ini menyerukan kepada kaum intelektual Tamansiswa untuk turun gunung. Pendidikan yang Anda miliki bukan untuk menyombongkan gelar, melainkan untuk menjadi "obor" bagi rakyat yang masih berada dalam kegelapan informasi dan ketidakadilan sistem.

 

BAB 3

Ekonomi Berdikari dan Keadilan Sosial

3.1 Melawan Ekonomi Serakah: Kembali ke Asas Kekeluargaan

Dunia politik dan ekonomi hari ini sering kali berjalan beriringan dalam jalur yang salah, di mana kebijakan publik lebih sering menguntungkan segelintir pemilik modal besar (oligarki) daripada rakyat banyak. Kabeh Sedulur Tamansiswa memandang bahwa ketimpangan sosial yang tajam adalah ancaman nyata bagi kedaulatan bangsa.

Sesuai dengan semangat Bapak Bangsa dan Ki Hadjar Dewantara, sistem ekonomi yang kita dambakan adalah ekonomi yang berdasarkan Asas Kekeluargaan. Ini bukan berarti ekonomi yang tertutup, melainkan ekonomi di mana setiap orang bekerja bersama, memproduksi bersama, dan menikmati hasilnya bersama. Kita menolak sistem ekonomi "hutan" di mana yang kuat memangsa yang lemah.

3.2 Berdikari: Berdiri di Atas Kaki Sendiri

Manifesto ini menekankan pentingnya kedaulatan ekonomi sebagai syarat mutlak kemerdekaan politik. Bagaimana mungkin sebuah bangsa atau organisasi bisa bersuara lantang secara politik jika perutnya masih tergantung pada bantuan atau utang yang mengikat?

·         Kedaulatan Pangan: Mendukung petani lokal dan menolak ketergantungan impor yang mematikan mata pencaharian saudara sendiri.

·         Kedaulatan Energi & Sumber Daya: Kekayaan alam harus dikelola untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat, bukan dikapling-kapling untuk kepentingan pribadi atau asing.

·         Ekonomi Lokal: Memperkuat pasar rakyat dan UMKM sebagai tulang punggung ekonomi nasional.

3.3 Koperasi sebagai Soko Guru dan Alat Perjuangan

Bagi Kabeh Sedulur Tamansiswa, koperasi bukan sekadar tempat simpan pinjam, melainkan simbol perlawanan terhadap kapitalisme yang rakus. Koperasi adalah perwujudan nyata dari gotong royong. Dalam Buku Putih ini, kita mendorong setiap anggota untuk menghidupkan kembali unit-unit ekonomi berbasis komunitas. Jika kita kuat secara ekonomi di level akar rumput, maka posisi tawar politik kita di level nasional akan jauh lebih disegani.

3.4 Keadilan Sosial: Meratakan Kemakmuran

Keadilan sosial berarti tidak ada lagi sedulur kita yang harus mengemis hak dasarnya—seperti kesehatan, pangan, dan pendidikan—di tanah yang kaya ini. Peran politik Pemuda Tamansiswa adalah mengawal kebijakan fiskal dan anggaran agar benar-benar "menetes ke bawah", bukan hanya berputar di kalangan elit. Kita menuntut pemerataan pembangunan yang tidak hanya berpusat di kota besar, tapi menyentuh hingga pelosok desa dan pinggiran.

3.5 Memutus Rantai Kemiskinan Ekstrem yang Permanen

Salah satu tantangan terbesar dalam manifesto ini adalah menghadapi realita kemiskinan ekstrem yang seolah "kekal" di beberapa lapisan masyarakat kita. Kemiskinan ini bersifat struktural dan turun-temurun, di mana sebuah keluarga tidak memiliki akses sedikit pun terhadap tanah, modal, maupun pendidikan yang layak selama bergenerasi-generasi.

Dalam perspektif Tamansiswa, kemiskinan permanen ini adalah bentuk "penjajahan ekonomi" di era kemerdekaan. Kita melihat fenomena ini terjadi karena:

·         Ketimpangan Akses Sumber Daya: Banyak sedulur kita di pedesaan yang secara turun-temurun menjadi buruh tani tanpa pernah memiliki jengkal tanah sendiri. Tanpa aset, mereka terjebak dalam siklus utang yang tak berujung.

·         Marginalisasi Perkotaan: Di kota-kota besar, warga miskin ekstrem terjepit di pemukiman kumuh, bekerja di sektor informal yang rentan, dan sering kali terpinggirkan oleh kebijakan penggusuran atas nama pembangunan yang tidak manusiawi.

3.6 Politik Afirmasi: Bukan Sekadar Bansos

Kabeh Sedulur Tamansiswa menegaskan bahwa solusi untuk kemiskinan ekstrem bukanlah sekadar pemberian Bantuan Sosial (Bansos) yang bersifat sementara dan sering kali dipolitisasi sebagai alat "politik uang" terselubung. Bansos hanya mengobati gejala, bukan penyakitnya.

Politik kita harus mendorong Afirmasi Struktural:

1.      Redistribusi Aset: Mendorong reforma agraria yang sejati. Rakyat harus memiliki akses terhadap lahan atau alat produksi agar bisa mandiri, bukan terus-menerus menjadi kuli di tanah sendiri.

2.      Pendidikan Gratis Berkualitas: Memastikan anak-anak dari keluarga miskin ekstrem mendapatkan pendidikan hingga tuntas. Inilah satu-satunya cara untuk memutus rantai kemiskinan secara permanen melalui mobilitas vertikal.

3.      Jaminan Sosial yang Berkeadilan: Memastikan negara hadir dalam pemenuhan kebutuhan dasar (kesehatan dan perumahan layak) sebagai hak warga negara, bukan sebagai "kebaikan hati" penguasa.

3.7 Peran Organisasi dalam Pendampingan Ekonomi

Buku Putih ini menginstruksikan kepada setiap kader untuk tidak hanya berteori di mimbar politik, tetapi melakukan pendampingan nyata di kantong-kantong kemiskinan. Kita harus menjadi advokat bagi mereka yang suaranya tidak terdengar. Dengan semangat Keluarga, kita harus membangun jaring pengaman ekonomi komunitas yang memungkinkan sedulur yang paling lemah sekalipun untuk bisa tegak berdiri kembali.

 

 

 

BAB 4

Kedaulatan Kebudayaan

4.1 Budaya sebagai Akar Politik dan Kehidupan

Kabeh Sedulur Tamansiswa meyakini bahwa kebudayaan adalah "buah budi" manusia yang menjadi dasar dari segala tindakan, termasuk tindakan politik. Jika politik Indonesia hari ini terasa penuh dengan caci maki, fitnah, dan individualisme, itu adalah tanda bahwa kita sedang mengalami krisis kebudayaan.

Kita sering melihat politik yang mengimpor mentah-mentah nilai luar—baik itu liberalisme yang kebablasan maupun radikalisme yang kaku—tanpa menyaringnya dengan kepribadian bangsa sendiri. Manifesto ini menegaskan bahwa politik kita harus berakar pada Kebudayaan Nasional yang luhur, yaitu budaya yang mengedepankan harmoni, musyawarah, dan penghormatan terhadap martabat manusia.

4.2 Teori Konvergensi: Memilih dan Memilah di Era Digital

Dunia saat ini sudah tanpa sekat. Budaya asing masuk melalui genggaman tangan (ponsel) setiap saat. Pemuda Tamansiswa tidak boleh menjadi "katak dalam tempurung" yang menutup diri dari kemajuan zaman, namun kita juga tidak boleh menjadi "bebek" yang ikut-ikutan tanpa arah.

Kita menerapkan Teori Konvergensi Ki Hadjar Dewantara:

1.      Kontinyu: Kita harus terus tersambung dengan akar sejarah dan nilai-nilai luhur masa lalu (seperti gotong royong dan kesantunan).

2.      Konvergen: Kita mau bekerja sama dengan budaya luar yang membawa kemajuan dan nilai kemanusiaan universal.

3.      Konsentris: Meskipun kita bergaul dengan dunia internasional, titik pusat kita tetaplah jati diri bangsa Indonesia. Kita menjadi bagian dari dunia tanpa harus kehilangan "indonesia-nya" kita.

4.3 Melawan Penjajahan Kebudayaan (Cultural Imperialism)

Di era modern, penjajahan tidak lagi menggunakan senjata, melainkan melalui gaya hidup, pola konsumsi, dan cara berpikir. Ketika kita lebih bangga menggunakan produk luar atau meniru gaya hidup yang individualis, saat itulah kedaulatan kita sedang dirongrong.

Politik Kebudayaan Kabeh Sedulur Tamansiswa adalah:

·         Revitalisasi Bahasa dan Adat: Mendorong penggunaan bahasa daerah dan pelestarian adat istiadat yang bersifat mendidik dan memerdekakan.

·         Seni sebagai Alat Perjuangan: Menggunakan seni (sastra, musik, film) untuk menyuarakan kritik sosial dan membangkitkan kesadaran politik rakyat.

·         Kedaulatan Mental: Membangun mentalitas bangsa yang bangga akan kemampuannya sendiri, bukan bangsa yang merasa rendah diri di hadapan bangsa lain.

4.4 Etika dan Budi Pekerti dalam Ruang Publik

Kedaulatan kebudayaan harus tercermin dalam etika berkomunikasi di ruang publik. Pemuda Tamansiswa harus menjadi pelopor politik yang santun namun tegas. Kita menolak politik yang menghalalkan segala cara. Bagi kita, kemenangan politik yang diraih dengan merusak tatanan budaya dan persaudaraan (sedulur) adalah kemenangan yang semu dan tidak berkah.

 

 

BAB 5

Rejuvenasi Pergerakan dan Visi Masa Depan

5.1 Mengapa Harus Rejuvenasi?

Rejuvenasi atau peremajaan bukan sekadar mengganti figur tua dengan yang muda. Rejuvenasi adalah penyegaran kembali semangat, metode, dan cara kerja organisasi agar tetap relevan tanpa kehilangan substansi ideologisnya. Dunia telah berubah; tantangan politik kini berada di ruang digital, kecerdasan buatan, dan perubahan iklim.

Pemuda Tamansiswa tidak boleh terjebak dalam romantisme masa lalu. Kita bangga pada sejarah, tapi kita tidak bisa hidup di dalamnya. Rejuvenasi berarti membawa api perjuangan Ki Hadjar Dewantara ke dalam "medan perang" modern.

5.2 Organisasi yang Inklusif dan Adaptif

Untuk menjalankan Manifesto ini, Kabeh Sedulur Tamansiswa Indonesia harus bertransformasi menjadi organisasi yang:

·         Berbasis Data dan Ilmu Pengetahuan: Kritik politik kita tidak boleh hanya berdasarkan emosi, melainkan harus berbasis riset dan data yang akurat.

·         Kolaboratif (Kabeh Sedulur): Sesuai namanya, kita harus merangkul semua elemen bangsa. Politik kita adalah politik persaudaraan yang melintasi batas suku, agama, dan golongan.

·         Pemanfaatan Teknologi: Media sosial dan teknologi informasi harus digunakan sebagai alat untuk menyebarkan "virus" kebaikan dan pendidikan politik secara masif.

5.3 Mencetak Pemimpin yang Berkarakter

Tugas utama organisasi adalah mencetak pemimpin. Pemimpin yang lahir dari rahim Tamansiswa harus memiliki tiga ciri utama:

1.      Intelektual yang Membumi: Paham teori global tapi tahu cara mencangkul di sawah bersama rakyat.

2.      Aktivis yang Beretika: Berani melawan ketidakadilan namun tetap menjunjung tinggi tata krama dan budi pekerti.

3.      Mandiri Secara Ekonomi: Tidak menggantungkan hidupnya pada politik, sehingga ia tidak mudah disetir oleh kepentingan donor atau cukong.

5.4 Seruan untuk Bergerak

Buku Putih ini hanyalah sekumpulan kata-kata jika tidak diikuti dengan perbuatan nyata. Manifesto ini adalah janji kita kepada ibu pertiwi. Kita tidak sedang mencari kekuasaan demi kekuasaan itu sendiri, kita sedang mencari jalan untuk memuliakan rakyat Indonesia.

Kepada seluruh Sedulur Tamansiswa di mana pun berada: Jadilah teladan di depan, jadilah pembangun semangat di tengah, dan jadilah pendorong kekuatan dari belakang. Jangan pernah lelah mencintai bangsa ini. Masa depan Indonesia tidak ditentukan oleh mereka yang hanya menonton, tetapi oleh kita yang berani melangkah dan berkarya.

Lawan Sastra Ngesti Mulya. Merdeka!

DAFTAR PUSTAKA

Sumber Primer (Internal & Digital)

·         Pemuda Tamansiswa Indonesia. (2020–2026). Arsip Pemikiran dan Gagasan Kebangsaan. Diakses dari pemudatamansiswaindonesia.blogspot.com.

·         Kabeh Sedulur Tamansiswa Indonesia. (2025). Dokumen Internal: Visi dan Misi Pergerakan KST Indonesia. Yogyakarta.

·         Febriansyah, Indria. (2026). Kumpulan Catatan dan Opini Politik: Membangun Kedaulatan Rakyat. (Koleksi Internal Organisasi).

Referensi Filosofi Tamansiswa

·         Dewantara, Ki Hadjar. (1962). Karya Ki Hadjar Dewantara, Bagian I: Pendidikan. Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa.

·         Dewantara, Ki Hadjar. (1967). Karya Ki Hadjar Dewantara, Bagian II: Kebudayaan. Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa.

·         Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa. (2013). Ki Hadjar Dewantara: Pemikiran, Konsepsi, Keteladanan, Sikap Merdeka. Yogyakarta: UST-Press.

Referensi Pendukung (Politik, Hukum & Ekonomi)

·         Hatta, Mohammad. (2015). Membangun Koperasi dan Koperasi Membangun. Jakarta: Kompas.

·         Soekarno. (1964). Di Bawah Bendera Revolusi. Jakarta: Panitya Penerbit Di Bawah Bendera Revolusi.

·         UUD NRI Tahun 1945. Pasal 33 (Tentang Kedaulatan Ekonomi) dan Pasal 31 (Tentang Pendidikan).

 

 

 

"Politik tanpa kompas budaya adalah kehancuran, dan pendidikan tanpa jiwa merdeka adalah perbudakan baru."

Di tengah riuhnya panggung politik yang kian pragmatis, di mana rakyat sering kali hanya menjadi angka dalam statistik pemilu, Kabeh Sedulur Tamansiswa Indonesia hadir membawa seruan kembali ke akar jati diri bangsa. Buku ini bukan sekadar catatan teori, melainkan sebuah Buku Putih sebuah manifesto perjuangan yang lahir dari kegelisahan akan nasib kedaulatan kita.

Melalui Manifesto Pemuda Tamansiswa: Rejuvenasi Pemikiran Politik Kebangsaan, pembaca diajak untuk membedah ulang makna kemerdekaan di abad ke-21. Mulai dari strategi memutus rantai kemiskinan ekstrem yang permanen, hingga menghidupkan kembali "Sistem Among" sebagai solusi kepemimpinan nasional.

Ini adalah panggilan bagi para pemuda, aktivis, dan setiap jiwa yang mengaku sedulur untuk berhenti menjadi penonton. Saatnya melakukan rejuvenasi: menyegarkan kembali api pemikiran Ki Hadjar Dewantara untuk melawan ketimpangan dan membangun ekonomi yang berkeadilan.

Apakah kita akan membiarkan masa depan bangsa ini ditentukan oleh segelintir elit, atau kita pilih untuk berhamba pada rakyat dan merebut kembali kedaulatan itu?

Lawan Sastra Ngesti Mulya!

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

terima kasih atas komentar anda