KATA PENGANTAR
Ketua
Umum Kabeh Sedulur Tamansiswa Indonesia
Salam & Bahagia...
Merdeka,
Puji syukur
kita panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas karunia-Nya sehingga "Manifesto
Pemuda Tamansiswa - Rejuvenasi Pemikiran Politik Kebangsaan" ini dapat
hadir di hadapan saudara-saudara sekalian.
Sebagai
organisasi yang lahir dari rahim pemikiran luhur Ki Hadjar Dewantara, Kabeh
Sedulur Tamansiswa Indonesia memikul tanggung jawab moral yang besar untuk tidak
hanya menjadi saksi sejarah, tetapi menjadi pelaku aktif dalam menentukan arah
masa depan bangsa. Buku ini adalah manifestasi dari kegelisahan sekaligus
optimisme kami terhadap dinamika politik, ekonomi, dan sosial di tanah air
belakangan ini.
Dunia sedang
berubah dengan sangat cepat. Tantangan yang kita hadapi hari ini, mulai dari
kemiskinan ekstrem yang membelenggu rakyat, krisis etika kepemimpinan, hingga
pergeseran nilai budaya di era digital, memerlukan jawaban yang tidak hanya
cerdas secara intelektual, tetapi juga kokoh secara moral. Melalui konsep Rejuvenasi, kita
berupaya menyegarkan kembali ajaran-ajaran Tamansiswa agar tetap relevan
sebagai kompas perjuangan generasi muda.
Dalam
kapasitas saya sebagai Ketua Umum, saya ingin menegaskan bahwa buku ini adalah
komitmen kita untuk kembali ke jalan Politik Beradab. Politik
yang menempatkan kerakyatan di atas segalanya, yang menggunakan pendidikan
sebagai alat pembebasan, dan yang menjadikan kebudayaan sebagai benteng
kedaulatan. Kita tidak boleh membiarkan politik kita kering dari nilai-nilai
kemanusiaan.
Buku ini
disusun dari berbagai pemikiran dan dialektika yang telah kita bangun bersama
di berbagai ruang diskusi, termasuk catatan-catatan kritis yang selama ini
tertuang dalam kanal komunikasi organisasi. Saya berharap, setiap bab dalam
buku ini menjadi "bahan bakar" bagi setiap sedulur untuk bergerak,
mengabdi, dan memberikan solusi nyata di tengah masyarakat.
Akhir kata,
saya ucapkan terima kasih kepada tim penyusun dan seluruh pihak yang telah
mencurahkan pikiran dan energinya untuk mewujudkan buku ini. Mari kita
melangkah bersama dengan semangat Ing Ngarsa Sung Tulada, Ing Madya
Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani.
Selamat membaca, selamat
berjuang. Lawan
Sastra Ngesti Mulya.
Salam,
Yogyakarta, Februari 2026
Indria Febriansyah, S.E.,
M.H. Ketua Umum Kabeh Sedulur Tamansiswa Indonesia
BAB 1
Fondasi Kebangsaan dan Kerakyatan
1.1 Kebangsaan: Antara
Identitas dan Kemanusiaan
Kebangsaan bagi Kabeh Sedulur
Tamansiswa bukanlah sebuah konsep statis yang hanya berhenti pada simbol
bendera atau lagu kebangsaan. Di tengah arus globalisasi dan polarisasi
politik, kita sering melihat "kebangsaan" digunakan sebagai alat untuk
memecah belah. Namun, manifesto kita menegaskan bahwa kebangsaan adalah nasionalisme yang berpangkal pada
kemanusiaan.
Kita tidak
boleh lupa pada pesan Ki Hadjar Dewantara bahwa "nasionalisme kita adalah
nasionalisme yang duduk di dalam taman sarinya internasionalisme."
Artinya, kita mencintai bangsa Indonesia tanpa harus membenci bangsa lain,
namun tetap teguh menjaga kedaulatan di atas kaki sendiri. Dalam konteks
politik hari ini, kebangsaan berarti menjaga keutuhan rumah besar Indonesia
dari segala bentuk intervensi yang merusak tatanan sosial dan kerukunan
sedulur.
1.2 Ruh
Kerakyatan: Melawan Demokrasi Tanpa Jiwa
Saat ini,
kita menyaksikan demokrasi yang seolah-olah hidup namun sebenarnya kehilangan
jiwa. Rakyat sering kali hanya diposisikan sebagai deretan angka di kotak
suara. Setelah mandat diberikan, rakyat ditinggalkan. Inilah yang kita sebut
sebagai "Demokrasi Tanpa Jiwa."
Kabeh
Sedulur Tamansiswa hadir untuk mengembalikan politik pada Ruh
Kerakyatan. Kerakyatan dalam pandangan kita adalah kedaulatan yang
bersumber dari kesadaran kolektif masyarakat bawah. Kita tidak menginginkan
pemimpin yang hanya mahir berjanji, tetapi pemimpin yang mampu menjalankan
konsep Ing Ngarsa Sung Tulada—memberi teladan nyata
dalam kesederhanaan dan keberpihakan pada kaum kecil. Politik kerakyatan adalah
politik yang mendengarkan denyut nadi pasar, sawah, dan bengkel-bengkel kerja
rakyat, bukan sekadar ruang rapat yang dingin.
1.3
Ngandel, Kendel, Bandel, Kandel: Empat Pilar Pergerakan
Untuk
mewujudkan kerakyatan yang sejati, setiap kader harus memiliki empat karakter
dasar pergerakan:
·
Ngandel (Percaya): Kita harus memiliki
kepercayaan penuh pada kekuatan rakyat dan kebenaran perjuangan. Tanpa rasa percaya, pergerakan akan mudah
goyah oleh iming-iming materi.
·
Kendel
(Berani):
Keberanian untuk menyuarakan ketidakadilan. Politik membutuhkan keberanian
untuk berkata "tidak" pada kebijakan yang menindas, meskipun itu
datang dari lingkaran kekuasaan.
·
Bandel
(Teguh): Perjuangan politik bukan lari
jarak pendek, melainkan maraton yang melelahkan. Kita harus "bandel"
dalam mempertahankan prinsip, tidak mudah menyerah oleh kegagalan, dan tidak
silau oleh kemenangan sesaat.
·
Kandel (Berisi/Tebal): Keberanian tanpa isi
adalah konyol. Kader harus "kandel" ilmunya, "kandel" budi
pekertinya, dan "kandel" imannya agar tidak mudah diombang-ambingkan
oleh opini publik yang menyesatkan.
1.4
Menuju Politik Beradab
Bahwa tujuan
akhir dari kebangsaan dan kerakyatan adalah terciptanya masyarakat yang tata
tentram karta raharja. Politik bagi Kabeh Sedulur Tamansiswa adalah pengabdian
untuk memastikan bahwa tidak ada lagi rakyat yang merasa asing di tanah airnya
sendiri. Kita bergerak untuk memastikan keadilan bukan hanya milik mereka yang
berpunya, tetapi hak bagi setiap insan yang bernapas di bumi pertiwi.
BAB 2
Pendidikan
sebagai Alat Pembebasan Politik
2.1
Melampaui Pengajaran: Pendidikan untuk Kemerdekaan Latih dan Batin
Dalam
pandangan Kabeh Sedulur Tamansiswa, krisis politik yang kita alami hari ini seperti
korupsi, politik uang, dan hilangnya etika sebenarnya adalah krisis
pendidikan. Banyak orang "bersekolah" tapi tidak
"terdidik" secara politik. Pendidikan politik yang ada selama ini
cenderung hanya mengajarkan cara memilih, bukan cara berpikir kritis.
Buku Putih
ini menegaskan bahwa pendidikan harus menjadi alat pembebasan. Bebas dari apa?
Bebas dari kebodohan, bebas dari rasa takut kepada kekuasaan, dan bebas dari
mentalitas "budak" yang selalu menunggu perintah. Kita mengacu pada
konsep Merdeka Lahir Batin. Seorang kader politik
yang merdeka secara batin tidak akan bisa dibeli dengan uang, dan yang merdeka
secara lahir tidak akan mau ditindas oleh sistem yang tidak adil.
2.2 Sistem Among:
Kepemimpinan Politik yang Melayani
Dunia
politik kita saat ini sering kali menampilkan pemimpin yang minta dilayani,
bukan melayani. Di
sinilah Sistem Among menjadi relevan sebagai model kepemimpinan
politik masa depan:
·
Ing Ngarsa Sung Tulada: Pemimpin politik harus
menjadi teladan moral. Jika
pemimpinnya bersih, rakyat akan mengikuti.
·
Ing
Madya Mangun Karsa: Pemimpin
tidak boleh berjarak. Ia harus berada di tengah-tengah rakyat, membangkitkan
semangat dan inisiatif dari bawah.
·
Tut
Wuri Handayani: Pemimpin
harus berani memberikan kepercayaan kepada generasi muda untuk tampil,
mendorong dari belakang, dan tidak memonopoli kekuasaan.
2.3 Tri
Pusat Pendidikan dalam Pergerakan Politik
Kita tidak
bisa menyerahkan pendidikan politik hanya kepada partai politik atau sekolah.
Konsep Tri Pusat Pendidikan (Alam Keluarga, Alam
Perguruan, dan Alam Kemasyarakatan) harus diterapkan dalam organisasi Kabeh
Sedulur Tamansiswa:
1.
Keluarga: Menanamkan nilai kejujuran dan
kasih sayang sejak dini sebagai dasar karakter politik.
2.
Perguruan (Organisasi): Menjadi kawah
candradimuka di mana ideologi ditempa dan diskursus politik dijalankan secara
intelektual.
3.
Masyarakat: Tempat praktik nyata. Kader harus
terjun langsung menyelesaikan persoalan warga sebagai wujud nyata dari
pendidikan politik yang membumi.
2.4
Melawan "Intelektual Menara Gading"
Sering kali
kaum terpelajar menjauh dari politik karena dianggap kotor. Akibatnya, ruang
politik diisi oleh mereka yang hanya mengejar kepentingan pribadi. Manifesto
ini menyerukan kepada kaum intelektual Tamansiswa untuk turun gunung.
Pendidikan yang Anda miliki bukan untuk menyombongkan gelar, melainkan untuk
menjadi "obor" bagi rakyat yang masih berada dalam kegelapan
informasi dan ketidakadilan sistem.
BAB 3
Ekonomi
Berdikari dan Keadilan Sosial
3.1 Melawan Ekonomi Serakah:
Kembali ke Asas Kekeluargaan
Dunia politik dan ekonomi hari
ini sering kali berjalan beriringan dalam jalur yang salah, di mana kebijakan
publik lebih sering menguntungkan segelintir pemilik modal besar (oligarki)
daripada rakyat banyak. Kabeh Sedulur Tamansiswa memandang bahwa ketimpangan
sosial yang tajam adalah ancaman nyata bagi kedaulatan bangsa.
Sesuai dengan semangat Bapak
Bangsa dan Ki Hadjar Dewantara, sistem ekonomi yang kita dambakan adalah
ekonomi yang berdasarkan Asas
Kekeluargaan. Ini bukan
berarti ekonomi yang tertutup, melainkan ekonomi di mana setiap orang bekerja
bersama, memproduksi bersama, dan menikmati hasilnya bersama. Kita menolak
sistem ekonomi "hutan" di mana yang kuat memangsa yang lemah.
3.2
Berdikari: Berdiri di Atas Kaki Sendiri
Manifesto
ini menekankan pentingnya kedaulatan ekonomi sebagai syarat mutlak kemerdekaan
politik. Bagaimana mungkin sebuah bangsa atau organisasi bisa bersuara lantang
secara politik jika perutnya masih tergantung pada bantuan atau utang yang
mengikat?
·
Kedaulatan Pangan: Mendukung petani lokal
dan menolak ketergantungan impor yang mematikan mata pencaharian saudara
sendiri.
·
Kedaulatan Energi & Sumber Daya: Kekayaan
alam harus dikelola untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat, bukan
dikapling-kapling untuk kepentingan pribadi atau asing.
·
Ekonomi Lokal: Memperkuat pasar rakyat dan UMKM
sebagai tulang punggung ekonomi nasional.
3.3
Koperasi sebagai Soko Guru dan Alat Perjuangan
Bagi Kabeh
Sedulur Tamansiswa, koperasi bukan sekadar tempat simpan pinjam, melainkan
simbol perlawanan terhadap kapitalisme yang rakus. Koperasi adalah perwujudan
nyata dari gotong royong. Dalam Buku Putih ini, kita mendorong setiap anggota
untuk menghidupkan kembali unit-unit ekonomi berbasis komunitas. Jika kita kuat
secara ekonomi di level akar rumput, maka posisi tawar politik kita di level
nasional akan jauh lebih disegani.
3.4
Keadilan Sosial: Meratakan Kemakmuran
Keadilan
sosial berarti tidak ada lagi sedulur kita yang harus mengemis hak
dasarnya—seperti kesehatan, pangan, dan pendidikan—di tanah yang kaya ini.
Peran politik Pemuda Tamansiswa adalah mengawal kebijakan fiskal dan anggaran
agar benar-benar "menetes ke bawah", bukan hanya berputar di kalangan
elit. Kita menuntut pemerataan pembangunan yang tidak hanya berpusat di kota
besar, tapi menyentuh hingga pelosok desa dan pinggiran.
3.5 Memutus Rantai
Kemiskinan Ekstrem yang Permanen
Salah satu tantangan terbesar
dalam manifesto ini adalah menghadapi realita kemiskinan ekstrem yang seolah
"kekal" di beberapa lapisan masyarakat kita. Kemiskinan ini bersifat
struktural dan turun-temurun, di mana sebuah keluarga tidak memiliki akses
sedikit pun terhadap tanah, modal, maupun pendidikan yang layak selama
bergenerasi-generasi.
Dalam perspektif Tamansiswa,
kemiskinan permanen ini adalah bentuk "penjajahan
ekonomi" di era
kemerdekaan. Kita melihat fenomena ini terjadi karena:
·
Ketimpangan
Akses Sumber Daya: Banyak
sedulur kita di pedesaan yang secara turun-temurun menjadi buruh tani tanpa
pernah memiliki jengkal tanah sendiri. Tanpa aset, mereka terjebak dalam siklus
utang yang tak berujung.
·
Marginalisasi
Perkotaan: Di
kota-kota besar, warga miskin ekstrem terjepit di pemukiman kumuh, bekerja di
sektor informal yang rentan, dan sering kali terpinggirkan oleh kebijakan
penggusuran atas nama pembangunan yang tidak manusiawi.
3.6 Politik Afirmasi: Bukan
Sekadar Bansos
Kabeh Sedulur Tamansiswa
menegaskan bahwa solusi untuk kemiskinan ekstrem bukanlah sekadar pemberian
Bantuan Sosial (Bansos) yang bersifat sementara dan sering kali dipolitisasi
sebagai alat "politik uang" terselubung. Bansos hanya mengobati gejala,
bukan penyakitnya.
Politik kita harus mendorong Afirmasi Struktural:
1. Redistribusi Aset: Mendorong reforma agraria yang sejati.
Rakyat harus memiliki akses terhadap lahan atau alat produksi agar bisa
mandiri, bukan terus-menerus menjadi kuli di tanah sendiri.
2. Pendidikan Gratis Berkualitas: Memastikan anak-anak dari keluarga miskin
ekstrem mendapatkan pendidikan hingga tuntas. Inilah satu-satunya cara untuk
memutus rantai kemiskinan secara permanen melalui mobilitas vertikal.
3. Jaminan Sosial yang Berkeadilan: Memastikan negara hadir dalam pemenuhan
kebutuhan dasar (kesehatan dan perumahan layak) sebagai hak warga negara, bukan
sebagai "kebaikan hati" penguasa.
3.7 Peran Organisasi dalam
Pendampingan Ekonomi
Buku Putih ini menginstruksikan
kepada setiap kader untuk tidak hanya berteori di mimbar politik, tetapi
melakukan pendampingan nyata di kantong-kantong kemiskinan. Kita harus menjadi
advokat bagi mereka yang suaranya tidak terdengar. Dengan semangat Keluarga, kita harus membangun jaring pengaman ekonomi komunitas
yang memungkinkan sedulur yang paling lemah sekalipun untuk bisa tegak berdiri
kembali.
BAB 4
Kedaulatan Kebudayaan
4.1 Budaya sebagai Akar
Politik dan Kehidupan
Kabeh Sedulur Tamansiswa meyakini
bahwa kebudayaan adalah "buah budi" manusia yang menjadi dasar dari
segala tindakan, termasuk tindakan politik. Jika politik Indonesia hari ini
terasa penuh dengan caci maki, fitnah, dan individualisme, itu adalah tanda
bahwa kita sedang mengalami krisis
kebudayaan.
Kita sering melihat politik yang
mengimpor mentah-mentah nilai luar—baik itu liberalisme yang kebablasan maupun
radikalisme yang kaku—tanpa menyaringnya dengan kepribadian bangsa sendiri.
Manifesto ini menegaskan bahwa politik kita harus berakar pada Kebudayaan Nasional yang luhur, yaitu budaya yang mengedepankan
harmoni, musyawarah, dan penghormatan terhadap martabat manusia.
4.2
Teori Konvergensi: Memilih dan Memilah di Era Digital
Dunia saat
ini sudah tanpa sekat. Budaya
asing masuk melalui genggaman tangan (ponsel) setiap saat. Pemuda Tamansiswa
tidak boleh menjadi "katak dalam tempurung" yang menutup diri dari
kemajuan zaman, namun kita juga tidak boleh menjadi "bebek" yang
ikut-ikutan tanpa arah.
Kita
menerapkan Teori Konvergensi Ki Hadjar Dewantara:
1.
Kontinyu: Kita harus terus tersambung dengan
akar sejarah dan nilai-nilai luhur masa lalu (seperti gotong royong dan
kesantunan).
2. Konvergen: Kita mau bekerja sama dengan budaya luar yang membawa
kemajuan dan nilai kemanusiaan universal.
3.
Konsentris: Meskipun kita bergaul dengan dunia
internasional, titik pusat kita tetaplah jati diri bangsa Indonesia. Kita
menjadi bagian dari dunia tanpa harus kehilangan "indonesia-nya"
kita.
4.3 Melawan Penjajahan
Kebudayaan (Cultural Imperialism)
Di era modern, penjajahan tidak
lagi menggunakan senjata, melainkan melalui gaya hidup, pola konsumsi, dan cara
berpikir. Ketika kita lebih bangga menggunakan produk luar atau meniru gaya
hidup yang individualis, saat itulah kedaulatan kita sedang dirongrong.
Politik Kebudayaan Kabeh Sedulur
Tamansiswa adalah:
·
Revitalisasi
Bahasa dan Adat:
Mendorong penggunaan bahasa daerah dan pelestarian adat istiadat yang bersifat
mendidik dan memerdekakan.
·
Seni
sebagai Alat Perjuangan:
Menggunakan seni (sastra, musik, film) untuk menyuarakan kritik sosial dan
membangkitkan kesadaran politik rakyat.
·
Kedaulatan
Mental: Membangun mentalitas bangsa yang
bangga akan kemampuannya sendiri, bukan bangsa yang merasa rendah diri di
hadapan bangsa lain.
4.4
Etika dan Budi Pekerti dalam Ruang Publik
Kedaulatan
kebudayaan harus tercermin dalam etika berkomunikasi di ruang publik. Pemuda
Tamansiswa harus menjadi pelopor politik yang santun namun tegas. Kita menolak
politik yang menghalalkan segala cara. Bagi kita, kemenangan politik yang
diraih dengan merusak tatanan budaya dan persaudaraan (sedulur) adalah
kemenangan yang semu dan tidak berkah.
BAB 5
Rejuvenasi Pergerakan dan Visi Masa Depan
5.1 Mengapa Harus
Rejuvenasi?
Rejuvenasi atau peremajaan bukan
sekadar mengganti figur tua dengan yang muda. Rejuvenasi adalah penyegaran
kembali semangat, metode, dan cara kerja organisasi agar tetap relevan tanpa
kehilangan substansi ideologisnya. Dunia telah berubah; tantangan
politik kini berada di ruang digital, kecerdasan buatan, dan perubahan iklim.
Pemuda
Tamansiswa tidak boleh terjebak dalam romantisme masa lalu. Kita bangga pada
sejarah, tapi kita tidak bisa hidup di dalamnya. Rejuvenasi berarti membawa api
perjuangan Ki Hadjar Dewantara ke dalam "medan perang" modern.
5.2 Organisasi yang Inklusif
dan Adaptif
Untuk
menjalankan Manifesto ini, Kabeh Sedulur Tamansiswa Indonesia harus
bertransformasi menjadi organisasi yang:
·
Berbasis Data dan Ilmu Pengetahuan: Kritik
politik kita tidak boleh hanya berdasarkan emosi, melainkan harus berbasis
riset dan data yang akurat.
·
Kolaboratif (Kabeh Sedulur): Sesuai namanya, kita
harus merangkul semua elemen bangsa. Politik kita adalah politik persaudaraan
yang melintasi batas suku, agama, dan golongan.
·
Pemanfaatan Teknologi: Media sosial dan
teknologi informasi harus digunakan sebagai alat untuk menyebarkan
"virus" kebaikan dan pendidikan politik secara masif.
5.3 Mencetak
Pemimpin yang Berkarakter
Tugas utama
organisasi adalah mencetak pemimpin. Pemimpin yang lahir dari rahim Tamansiswa
harus memiliki tiga ciri utama:
1.
Intelektual yang Membumi: Paham teori global tapi
tahu cara mencangkul di sawah bersama rakyat.
2.
Aktivis yang Beretika: Berani melawan
ketidakadilan namun tetap menjunjung tinggi tata krama dan budi pekerti.
3.
Mandiri Secara Ekonomi: Tidak menggantungkan
hidupnya pada politik, sehingga ia tidak mudah disetir oleh kepentingan donor
atau cukong.
5.4 Seruan
untuk Bergerak
Buku Putih
ini hanyalah sekumpulan kata-kata jika tidak diikuti dengan perbuatan nyata.
Manifesto ini adalah janji kita kepada ibu pertiwi. Kita tidak sedang mencari
kekuasaan demi kekuasaan itu sendiri, kita sedang mencari jalan untuk
memuliakan rakyat Indonesia.
Kepada
seluruh Sedulur Tamansiswa di mana pun berada: Jadilah teladan di depan,
jadilah pembangun semangat di tengah, dan jadilah pendorong kekuatan dari
belakang. Jangan pernah lelah mencintai bangsa ini. Masa depan Indonesia tidak
ditentukan oleh mereka yang hanya menonton, tetapi oleh kita yang berani
melangkah dan berkarya.
Lawan
Sastra Ngesti Mulya. Merdeka!
DAFTAR PUSTAKA
Sumber Primer (Internal
& Digital)
·
Pemuda Tamansiswa Indonesia. (2020–2026). Arsip
Pemikiran dan Gagasan Kebangsaan. Diakses dari pemudatamansiswaindonesia.blogspot.com.
·
Kabeh Sedulur Tamansiswa Indonesia. (2025). Dokumen
Internal: Visi dan Misi Pergerakan KST Indonesia. Yogyakarta.
·
Febriansyah,
Indria. (2026). Kumpulan Catatan dan Opini Politik: Membangun
Kedaulatan Rakyat.
(Koleksi Internal Organisasi).
Referensi Filosofi
Tamansiswa
·
Dewantara,
Ki Hadjar. (1962). Karya Ki Hadjar Dewantara, Bagian I:
Pendidikan.
Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa.
·
Dewantara,
Ki Hadjar. (1967). Karya Ki Hadjar Dewantara, Bagian II:
Kebudayaan.
Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa.
·
Majelis
Luhur Persatuan Tamansiswa. (2013). Ki Hadjar Dewantara: Pemikiran, Konsepsi,
Keteladanan, Sikap Merdeka.
Yogyakarta: UST-Press.
Referensi Pendukung
(Politik, Hukum & Ekonomi)
·
Hatta, Mohammad. (2015). Membangun
Koperasi dan Koperasi Membangun. Jakarta: Kompas.
·
Soekarno. (1964). Di Bawah Bendera
Revolusi. Jakarta: Panitya Penerbit Di Bawah Bendera Revolusi.
·
UUD NRI Tahun 1945. Pasal 33 (Tentang
Kedaulatan Ekonomi) dan Pasal 31 (Tentang Pendidikan).
"Politik
tanpa kompas budaya adalah kehancuran, dan pendidikan tanpa jiwa merdeka adalah
perbudakan baru."
Di tengah
riuhnya panggung politik yang kian pragmatis, di mana rakyat sering kali hanya
menjadi angka dalam statistik pemilu, Kabeh Sedulur Tamansiswa Indonesia hadir
membawa seruan kembali ke akar jati diri bangsa. Buku ini bukan sekadar catatan
teori, melainkan sebuah Buku Putih sebuah manifesto perjuangan yang
lahir dari kegelisahan akan nasib kedaulatan kita.
Melalui Manifesto
Pemuda Tamansiswa: Rejuvenasi Pemikiran Politik Kebangsaan, pembaca
diajak untuk membedah ulang makna kemerdekaan di abad ke-21. Mulai dari
strategi memutus rantai kemiskinan ekstrem yang permanen, hingga menghidupkan
kembali "Sistem Among" sebagai solusi kepemimpinan nasional.
Ini adalah
panggilan bagi para pemuda, aktivis, dan setiap jiwa yang mengaku sedulur untuk
berhenti menjadi penonton. Saatnya melakukan rejuvenasi: menyegarkan kembali
api pemikiran Ki Hadjar Dewantara untuk melawan ketimpangan dan membangun
ekonomi yang berkeadilan.
Apakah
kita akan membiarkan masa depan bangsa ini ditentukan oleh segelintir elit,
atau kita pilih untuk berhamba pada rakyat dan merebut kembali kedaulatan itu?
Lawan Sastra Ngesti Mulya!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
terima kasih atas komentar anda