Opini: Kekuatan Politik Presiden Prabowo Subianto Pasca Pilpres 2024
Indria Febriansyah. S.E., M.H.
Tulisan Gus Din di Retizen menggambarkan kekuatan politik Jokowi dan Gibran yang seakan-akan dominan dan menentukan arah pemerintahan. Namun analisa ini kurang memberikan ruang untuk membaca secara objektif kekuatan politik Presiden Prabowo Subianto sendiri. Faktanya, Prabowo bukan hanya presiden formal, tetapi juga pemimpin politik dengan basis militer, partai, jaringan relawan, hingga jejaring internasional yang jauh lebih luas dan berlapis.
Berikut adalah peta kekuatan politik Presiden Prabowo Subianto:
1. Partai Politik dan Basis KIM (Koalisi Indonesia Maju)
Gerindra sebagai tulang punggung kekuasaan, dengan kader solid yang menguasai pos-pos strategis di kabinet dan DPR.
Golkar, PAN, Demokrat, PKB, dan partai-partai KIM yang punya kepentingan besar menjaga stabilitas pemerintahan.
Tidak hanya bertumpu pada Jokowi-Gibran, tetapi KIM lahir sebagai konsensus lebih luas demi menjaga keberlangsungan nasional.
2. Jaringan Militer dan Pertahanan
Prabowo adalah Menteri Pertahanan terlama (2019–2024) yang kemudian naik sebagai Presiden. Ia punya basis legitimasi kuat di TNI dan komunitas veteran.
Tokoh-tokoh senior militer seperti Jenderal Gatot Nurmantyo, Jenderal Djoko Santoso (alm), Letjen Sjafrie Sjamsoeddin, hingga perwira menengah-tinggi banyak yang menjadi loyalis.
Modernisasi pertahanan dan visi menjadikan Indonesia swasembada pangan-energi memberi tambahan legitimasi ke kalangan nasionalis.
3. Relawan dan Basis Rakyat Prabowo
Jauh sebelum relawan Jokowi terbentuk, Prabowo sudah memiliki jaringan relawan akar rumput sejak Pilpres 2014.
Organisasi seperti PPIR, SATRIA, Gerakan Emak-Emak Prabowo, Kabeh Sedulur Tamansiswa Indonesia, dan jaringan lain terbukti loyal bahkan ketika Prabowo kalah di 2014 dan 2019.
Ini menunjukkan basis relawan Prabowo lebih ideologis dan militansi, bukan sekadar pragmatis.
4. Tokoh Politik Senior dan Jaringan Nasionalis
Prabowo dikelilingi tokoh nasionalis-lintas ideologi, antara lain Sufmi Dasco Ahmad, Fadli Zon, Ferry Juliantono, Ahmad Muzani, Edhy Prabowo (alm), dan kader muda Gerindra.
Hubungan personal dengan tokoh-tokoh nasional seperti Megawati Soekarnoputri, Surya Paloh, bahkan tokoh-tokoh NU dan Muhammadiyah menjadikan Prabowo lebih fleksibel membangun konsensus.
5. Jejaring Internasional
Kedekatan Prabowo dengan Amerika Serikat, Rusia, Tiongkok, hingga negara-negara Timur Tengah memberi posisi strategis bagi Indonesia di geopolitik global.
Hal ini membuat investor dan negara lain lebih nyaman menjalin kerja sama langsung dengan kepemimpinan Prabowo, bukan sekadar melalui figur Jokowi-Gibran.
6. Karakter dan Kepemimpinan
Prabowo punya legitimasi pribadi sebagai pemimpin nasionalis, tegas, dan berkarakter kuat.
Ia bukan hanya hasil kompromi politik, tetapi figur sentral yang sudah terbukti konsisten berjuang di jalur demokrasi sejak 2009.
Figur Presiden–Panglima ini menambah kharisma tersendiri yang tidak bisa digantikan oleh sekadar jaringan relawan.
Kekuatan politik Presiden Prabowo Subianto jauh melampaui sekadar ketergantungan pada jaringan Jokowi-Gibran. Ia memiliki:
Partai utama (Gerindra) dan KIM,
Basis militer dan pertahanan,
Relawan militan yang loyal sejak lama,
Tokoh politik senior nasionalis,
Jejaring internasional yang strategis,
dan legitimasi kepemimpinan pribadi.
Dengan modal ini, Prabowo berdiri sebagai pemimpin yang mandiri dan berdaulat. Koalisi dengan Jokowi-Gibran tentu bermanfaat, tetapi bukan satu-satunya penentu. Justru stabilitas dan keberhasilan pemerintahan Prabowo akan ditentukan oleh kemampuannya merangkul, mengendalikan, sekaligus memastikan reformasi berjalan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
terima kasih atas komentar anda