Selasa, 02 September 2025

Indria Febriansyah: Gibran Silahkan Mundur

Kabeh Sedulur Tamansiswa: Pertemuan Wapres Gibran dengan Ojol Hanya Pencitraan



Jakarta, 2 September 2025 – Pertemuan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dengan sekelompok orang berseragam ojol menimbulkan kontroversi. Alih-alih dianggap sebagai langkah strategis untuk mendengarkan aspirasi pengemudi ojek online, sejumlah serikat ojol justru menegaskan bahwa orang-orang yang hadir bukanlah bagian dari organisasi resmi mereka.

Menanggapi hal itu, Indria Febriansyah, Ketua Umum Kabeh Sedulur Tamansiswa Indonesia, menyampaikan kritik keras. Ia menilai langkah Gibran tersebut tidak lebih dari sekadar panggung pencitraan politik.

"Pertemuan itu hanya tipu-tipu saja. Bukan solusi, bukan dialog tulus. Semua terlihat seperti sandiwara politik. Gibran mengelola negara ini seperti bercanda, padahal rakyat sedang menjerit. Kalau hanya jadi beban pajak rakyat, lebih baik mundur,” tegas Indria, yang juga Presiden BEM Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa 2010 sekaligus pendiri BEM DIY.

Pertemuan Penuh Tanda Tanya

Kehadiran “perwakilan ojol” yang diklaim menemui Wapres Gibran menimbulkan tanda tanya besar. Bagi publik, khususnya komunitas ojol, peristiwa ini menunjukkan adanya potensi manipulasi representasi. Aspirasi yang seharusnya datang dari basis massa ojol justru direkayasa untuk kepentingan citra politik.

Fenomena ini dapat dikaitkan dengan teori political communication and symbolic politics (Edelman, 1988), yang menjelaskan bagaimana simbol, pertemuan, dan gestur sering digunakan penguasa untuk membangun ilusi kepedulian, padahal substansinya kosong.

1. Pencitraan Politik

Menurut Nimmo (1993), pencitraan merupakan strategi politisi untuk membentuk persepsi publik, sering kali dengan mengabaikan substansi kebijakan. Dalam kasus ini, pertemuan dengan “perwakilan ojol” lebih terlihat sebagai panggung simbolik ketimbang upaya nyata memperbaiki kesejahteraan driver.

2. Legitimasi Semu

Weber (1947) menekankan pentingnya legitimasi dalam kekuasaan. Tanpa legitimasi dari basis yang nyata—dalam hal ini komunitas ojol asli—setiap pertemuan hanyalah formalitas yang memperlebar jurang ketidakpercayaan publik.

3. Distrust dan Krisis Representasi

Kajian modern tentang demokrasi (Norris, 2011) menunjukkan bahwa pencitraan yang tidak otentik hanya akan memperkuat krisis representasi politik, menurunkan kepercayaan publik, dan mengikis legitimasi institusi negara.

Kritik Indria: Beban Rakyat, Bukan Harapan Rakyat

Indria menilai bahwa sikap Wapres Gibran justru menambah beban rakyat. Alih-alih memberi solusi konkret bagi persoalan ojol—mulai dari tarif minim, ketidakjelasan regulasi, hingga kesejahteraan—yang ditunjukkan hanyalah “politik pencitraan”.

"Negara ini tidak butuh panggung sandiwara. Ojol butuh regulasi adil, butuh perlindungan, butuh keberpihakan. Kalau pemimpin hanya bisa bercanda, lebih baik mundur. Jangan habiskan uang rakyat untuk pencitraan yang tidak berguna,” tambah Indria.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

terima kasih atas komentar anda