Kepemimpinan Rektor UST 4 Periode Berturut-turut baik apa buruk untuk kampus
Oleh: Indria Febriansyah
(Alumni UST, Ketua KSTI, Ketua Koperasi Jasa Barisan Alumni Tamansiswa Nusantara, Sekjen IRMP Prabowo se-Indonesia)
Sebagai alumni Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) yang pernah memimpin Ketua Majelis Mahasiswa Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Keluarga Besar Mahasiswa (MMU-KBM) UST pada periode 2010–2012, saya memandang perlu adanya refleksi kritis terhadap realitas yang terjadi di almamater tercinta. Berita mengenai Prof Drs Ki Pardimin MPd PhD yang kembali menjabat sebagai Rektor untuk keempat kalinya patut kita sikapi dengan lebih objektif dan tidak hanya berlandaskan pujian semata.
1. Reformasi Kelembagaan yang Mandek
Tiga periode sebelumnya semestinya menjadi ruang regenerasi dan reformasi, bukan sekadar kontinuitas kekuasaan. Kepemimpinan yang terlalu lama tanpa evaluasi terbuka berisiko melanggengkan status quo dan menutup ruang lahirnya pemimpin-pemimpin baru dari kalangan dosen muda atau sivitas akademika lain yang potensial. Ini bertentangan dengan semangat Tamansiswa yang menjunjung dinamika hidup dan kemerdekaan berpikir.
2. Ukuran Prestasi Harus Holistik, Bukan Sekadar Infrastruktur
Saya tidak menafikan adanya pembangunan fisik kampus, namun indikator keberhasilan pendidikan tidak bisa hanya diukur dari beton dan gedung. Yang lebih penting adalah transformasi nilai, kualitas riset, dan partisipasi aktif mahasiswa dan alumni dalam pengambilan kebijakan kampus. Dalam hal ini, banyak alumni menilai partisipasi publik dan transparansi dalam proses rektorat selama ini masih minim.
3. Krisis Ekonomi Global Bukan Alasan Tunggal
Stabilnya jumlah mahasiswa baru tidak serta-merta menjadi bukti keberhasilan manajerial. Yang perlu kita tanyakan adalah, apakah lulusan UST mampu bersaing di dunia kerja, ataukah hanya menjadi angka statistik tanpa dampak nyata? Selain itu, keberadaan unit usaha kampus justru belum sepenuhnya memberdayakan alumni, terutama dalam sektor koperasi atau kewirausahaan berbasis komunitas Tamansiswa yang seharusnya bisa diperkuat.
4. Aspirasi Alumni Belum Maksimal Didengar
Sebagai Ketua Koperasi Alumni dan Ketua Umum Kabeh Sedulur Tamansiswa Indonesia, saya banyak menerima aspirasi dari alumni di berbagai daerah bahwa mereka belum merasakan manfaat konkret dari kiprah rektorat selama tiga periode sebelumnya. Penghargaan dari Ikasata memang patut diapresiasi, namun penting diingat bahwa tidak semua alumni terwakili dalam Ikasata. Ada banyak organisasi alumni yang punya suara, namun belum diakomodasi secara adil dalam forum resmi kampus.
5. Rektor Bukan Figur Tunggal dalam Gerakan Tamansiswa
Gerakan Tamansiswa adalah gerakan kultural dan pendidikan yang bersifat kolektif. Ketika sosok rektor terlalu dominan dan terus-menerus diposisikan sebagai "satu-satunya motor", maka kita sudah menyimpang dari filosofi “Sang Guru” yang mestinya membimbing, bukan mengendalikan.
---
Saya berharap ke depan ada mekanisme demokratis yang lebih sehat di tubuh UST, baik dalam pemilihan rektor maupun dalam penyusunan kebijakan kampus. Kita perlu membuka ruang diskusi seluas-luasnya antar alumni, mahasiswa, dosen, dan pemangku kepentingan Tamansiswa secara menyeluruh agar “Taman Siswa” benar-benar kembali menjadi taman pendidikan yang merdeka, inklusif, dan progresif.
Salam Tamansiswa – Tut Wuri Handayani!
Indria Febriansyah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
terima kasih atas komentar anda