Kami Relawan Prabowo Subianto
Oleh: Indria Febriansyah (Ketua Umum Kabeh Sedulur Tamansiswa Indonesia)
Kami Relawan Prabowo memahami mengapa rakyat begitu mudah diarahkan, meski berkali-kali kecewa. Karena kami membaca Propaganda karya Edward Bernays. Dari buku itu kami tahu bahwa opini publik bukan semata hasil kesadaran kolektif, tapi seringkali buah dari rekayasa yang terencana.
Kami Relawan Prabowo tahu bagaimana narasi itu tak hanya terdengar, tapi juga menyentuh. Karena kami membaca Retorika karya Aristoteles. Ia mengingatkan dengan logos, ethos, dan pathos. Kata-kata bukan sekadar alat komunikasi, melainkan instrumen kepemimpinan.
Kami Relawan Prabowo paham bahwa retorika tanpa keadilan adalah usaha memperindah ruang kosong. Karena kami membaca teori keadilan karya John Rawls. Di sana kami paham bahwa keadilan bukan soal pembagian yang merata, melainkan bagaimana keberpihakan terhadap yang paling rentan. Karena jika keadilan hanya indah dalam konstitusi perundang-undangan, tapi hampa dalam kenyataan, maka rakyat akan mengerti bahwa hukum dibuat bukan untuk mereka.
Kami Relawan Prabowo mendengar suara bising riuh di jalanan yang tidak teratur. Kami sadari, bisa jadi mereka sedang menagih janji. Karena kami membaca Social Contract karya Rousseau, yang menyebutkan bahwa kekuasaan bukan warisan, tapi kontrak. Dan setiap kontrak yang dikhianati berhak dipertanyakan.
Kami Relawan Prabowo bisa melihat lebih luas karena kami membaca Politics karya Andrew Heywood. Dia menjelaskan, politik bukan sekadar memenangkan kontestasi, melainkan mengelola perbedaan. Karena banyak pengelolaan hari ini berubah menjadi pengendalian—yang dibentuk bukan dari kesepahaman, tapi kepatuhan. Dan itu bukan demokrasi.
Kami Relawan Prabowo tahu betul bahwa demokrasi tak selalu mati karena kudeta. Kadang, demokrasi mati perlahan lewat hukum yang dibentuk untuk melindungi satu golongan saja. Karena kami membaca How Democracies Die karya Levitsky dan Ziblatt. Mereka mengisyaratkan bahwa demokrasi berakhir dengan senyap, ketika oposisi dilemahkan dan rakyat diajari takut bertanya.
Kami Relawan Prabowo membaca The Wealth of Nations karya Adam Smith. Ia mengajarkan bagaimana menyentuh akar ekonomi. Bukunya menerangkan tentang pasar dan moralitas, bukan sekadar laba.
Kami Relawan Prabowo juga membaca Capital karya Karl Marx. Dan kami tahu tak semua pertumbuhan itu netral. Kadang yang disebut pembangunan adalah cara lain untuk menjaga struktur ketimpangan.
Kami Relawan Prabowo juga membaca Republik karya Plato, yang menulis bahwa pemimpin harus terlebih dahulu menjadi pencari kebenaran. Karena negara yang dipimpin oleh mereka yang tidak pernah merenung akan diseret ke arah yang hanya didikte selera pasar dan sorak sorai penonton.
Kami Relawan Prabowo juga membaca Politik karya Aristoteles. Ia menerangkan bahwa kekuasaan adalah sarana menuju kebaikan bersama, bukan perlombaan cepat-cepat jadi orang terdepan. Pemimpin bukan puncak, tapi pusat. Jika pusatnya keropos, yang runtuh bukan hanya sistem, tapi seluruh harapan.
Kami Relawan Prabowo mengerti bahwa kekuasaan yang dibingkai tanpa makna akan menjelma seperti bukunya Clifford Geertz yang berjudul Negara Teater, di mana negara jadi panggung, pejabat jadi aktor, rakyat jadi penonton pasif yang hanya diundang saat ada perayaan. Yang mereka pelihara adalah citra, bukan substansi.
Kami Relawan Prabowo hanya ingin agar ruang berpikir tetap hidup, dengan memahami buku F. Budi Hardiman berjudul Ruang Publik. Dari sana kami paham, demokrasi tak dibangun dari suara mayoritas saja, tapi dari kemampuan mendengar suara minor. Artinya, ketika semua suara dibungkam kecuali satu, maka yang lahir bukan musyawarah, tapi monarki yang disamarkan.
(Aktivis Mahasiswa 2010–2012)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
terima kasih atas komentar anda