Jejak Leluhur dan Legenda Abadi: Sejarah Desa Lubuk Tua, Muara Kelingi
Oleh Indria Febriansyah. S.E., M.H Ketua Umum Kabeh Sedulur Tamansiswa Indonesia
Warisan Puyang Empat Bersaudara, Kerajaan Lubuk Penjage, dan Kisah Bujang Jawe & Kebayan Bulan
Di aliran Sungai Musi yang luas dan tenang, tepat di pertemuannya dengan arus Sungai Kelingi, terbentang sebuah wilayah tua yang menyimpan ribuan tahun kisah dan ingatan. Desa Lubuk Tua, di Kecamatan Muara Kelingi, Kabupaten Musi Rawas, bukan sekadar nama tempat, melainkan nisan hidup dari sejarah panjang peradaban masyarakat Sumatera Selatan. Di sini, tanah, air, dan manusia saling terikat dalam satu benang merah keturunan, budaya, dan kepercayaan yang tak terputus sejak zaman dahulu kala.
Setiap sudut desa, setiap lekukan tepian sungai, dan setiap nama tempat mengandung cerita tentang leluhur besar, kerajaan yang pernah jaya, serta kisah cinta dan keberanian yang diwariskan turun-temurun dari mulut ke mulut, menjadi harta tak ternilai bagi penduduknya. Berikut adalah kisah lengkap asal-usul, tokoh keramat, dan sejarah gemilang yang menjadikan Lubuk Tua begitu istimewa.
I. Puyang Empat Bersaudara: Nenek Moyang Penduduk Pertama
Bagi masyarakat adat Desa Lubuk Tua dan seluruh wilayah Muara Kelingi, asal-usul mereka berakar pada sosok yang sangat dihormati: Puyang Empat Bersaudara. Dalam sejarah lisan yang dijaga ketat oleh para tetua adat, keempat orang inilah yang dianggap sebagai pembuka tanah, pendiri pemukiman, dan cikal bakal seluruh penduduk asli yang tinggal di wilayah ini hingga kini.
Dikatakan bahwa ribuan tahun silam, datanglah empat saudara yang memiliki ilmu dan wawasan luas, berlayar menyusuri sungai-sungai besar Sumatera, mencari tempat yang aman, subur, dan strategis untuk dijadikan tempat menetap. Ketika sampai di pertemuan Sungai Musi dan Sungai Kelingi, mereka merasakan kesucian dan kekuatan alam yang luar biasa di wilayah itu. Tanahnya subur, airnya jernih, dan letaknya sangat strategis sebagai persimpangan jalur lalu lintas sungai. Di sinilah mereka memutuskan untuk berhenti, membabat hutan, mendirikan rumah, dan menanam benih kehidupan pertama.
Nama dan kisah mereka tidak tercatat dalam buku tertulis, namun hidup dalam ingatan kolektif. Masyarakat percaya bahwa keberuntungan, keselamatan, dan kemakmuran wilayah ini adalah berkat perlindungan roh leluhur keempat bersaudara tersebut. Sampai hari ini, setiap ada peristiwa penting, upacara adat, atau saat memohon keselamatan, nama Puyang Empat Bersaudara selalu disebut sebagai pembuka jalan dan pelindung kampung halaman.
Warisan utama yang mereka tinggalkan bukanlah harta benda, melainkan aturan hidup: menghormati alam, menjaga kebersihan sungai, hidup rukun sesama penduduk, dan menjamu tamu dengan sepenuh hati. Nilai-nilai inilah yang menjadikan masyarakat Lubuk Tua dikenal sebagai orang yang ramah, teguh pada adat, dan mencintai tanah kelahirannya.
Selain keempat leluhur utama ini, masyarakat juga sangat menghormati tokoh-tokoh keramat lain di wilayah Musi Rawas yang dianggap kerabat atau teman seperguruan mereka, antara lain:
- Puyang Serunting Sakti: Sosok sakti mandraguna, dimakamkan di Pulau Beringin, Ogan Komering Ulu Selatan, dikenal sebagai pelindung wilayah hulu sungai .
- Puyang Panggar Besi: Juga disebut Puyang Tanjung, konon memperoleh kekuatan luar biasa dari Majapahit, bersahabat dekat dengan Serunting Sakti, dan menjadi penegak keadilan di wilayah ini .
- Puyang Tengah Laman: Hidup berdampingan damai dengan keduanya, menjadi simbol keharmonisan antar marga dan wilayah.
Nama-nama ini tertulis jelas dalam naskah kuno Cerita Rakyat Daerah Sumatera Selatan (1983), yang diterbitkan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, sebagai bukti sejarah yang sahih.
II. Kerajaan Lubuk Penjage: Ketika Lubuk Tua Menjadi Pusat Kekuasaan
Berdasarkan kisah turun-temurun dan penelitian sejarah daerah, wilayah Desa Lubuk Tua dulunya bukan sekadar desa biasa, melainkan pusat pemerintahan sebuah kerajaan kecil namun makmur bernama Kerajaan Lubuk Penjage (atau sering disebut Lubuk Penjaga). Kerajaan ini berdiri kokoh berabad-abad yang lalu, jauh sebelum pengaruh kekuasaan Kesultanan Palembang atau penjajahan asing masuk ke wilayah ini.
Nama "Lubuk Penjage" sendiri memiliki makna yang dalam: Lubuk berarti kedalaman sungai, tempat air berkumpul dan tenang; sedangkan Penjage berarti penjaga atau pelindung. Nama ini diberikan karena letaknya yang strategis di persimpangan sungai, berfungsi sebagai gerbang sekaligus penjaga jalur perdagangan dan lalu lintas antar wilayah hulu dan hilir Sungai Musi.
Kerajaan ini pertama kali dipimpin oleh Raja Abdul Kadir Jailani, seorang pemimpin yang bijaksana dan sangat dihormati rakyatnya. Makam beliau kini masih ada di wilayah Desa Lubuk Tua, tepatnya di tempat bernama Pematang Hujan, yang oleh masyarakat dijaga sebagai tempat keramat bernama Dian Pematang Hijau.
Namun, kisah paling terkenal dari kerajaan ini adalah tentang penerus takhtanya, Raden Kenayan. Beliau adalah seorang pemuda yang datang dari Pulau Jawa, merantau ke Lubuk Penjage untuk mencari penghidupan. Awalnya, Kenayan hanyalah orang biasa, dipandang sebelah mata, bahkan sering dicemooh karena dianggap miskin dan tidak berderajat. Namun, nasib berkata lain. Ia jatuh cinta dan mempersunting putri raja, Sri Dewi Ningsih.
Kisah kehebatan Kenayan terungkap saat diadakan sayembara besar: ia berhasil mengalahkan semua jagoan negeri, bahkan diuji kekuatannya melawan buaya kumbang penunggu lubuk sungai makhluk yang sangat ditakuti penduduk. Di sinilah terungkap jati dirinya yang sesungguhnya ia adalah seorang pangeran dari kerajaan besar di seberang laut, yang sengaja mengembara untuk menimba ilmu dan pengalaman.
Setelah Raja Abdul Kadir meninggal dunia, Raden Kenayan diangkat menjadi raja baru dengan gelar Raje Lubuk Penjage Bengkal. Di bawah pemerintahannya, kerajaan semakin makmur, pertanian berlimpah, perdagangan ramai, dan rakyat hidup aman sentosa. Makam Raden Kenayan kini berada di wilayah Kecamatan Muara Kelingi dan dikenal sebagai Keramat Penjage Bengkal, tempat yang selalu dikunjungi warga untuk berdoa dan memohon berkah.
Peninggalan kerajaan ini masih terasa hingga kini tata cara adat, aturan kepemimpinan, dan semangat menjaga kedaulatan wilayah adalah warisan langsung dari masa kejayaan Lubuk Penjage.
III. Legenda Abadi: Kisah Bujang Jawe dan Kebayan Bulan
Di antara semua cerita rakyat di Lubuk Tua, tidak ada yang lebih terkenal, lebih indah, dan lebih sering diceritakan kembali selain kisah Bujang Jawe dan Kebayan Bulan. Kisah ini bukan sekadar dongeng, melainkan cerminan jiwa masyarakat, perpaduan budaya, dan bukti hubungan akrab antara penduduk asli dengan pendatang dari luar wilayah, khususnya Jawa .
Alkisah, berabad-abad lalu datanglah seorang pemuda tampan, gagah berani, dan berbudi luhur dari tanah Jawa. Namanya Bujang Jawe. Ia berlayar jauh menyusuri sungai besar, melewati hutan dan bukit, hingga tiba di muara Sungai Kelingi. Ia datang bukan untuk berperang, melainkan untuk berdagang dan membuka usaha baru di wilayah yang sedang berkembang pesat itu. Keramahan penduduk setempat membuatnya betah dan memutuskan menetap di sana.
Suatu hari, saat berjalan-jalan di pinggir desa, ia berpapasan dengan seorang gadis pribumi yang kecantikannya mengalahkan sinar bulan purnama. Namanya Kebayan Bulan. Gadis ini adalah anak seorang tetua adat yang sangat terpandang, dikenal cantik, sopan, dan sangat pandai mengolah hasil bumi. Sejak pandangan pertama, hati keduanya saling tertaut. Cinta tumbuh mekar seperti bunga di pinggir sungai, murni dan tulus.
Namun, kisah cinta mereka tidak berjalan mulus. Saat Bujang Jawe meminta izin melamar Kebayan Bulan, orang tua gadis itu menolak tegas. Alasannya sederhana namun menyakitkan: Bujang Jawe dianggap "pendatang asing" yang belum memiliki kekayaan yang cukup. "Kau orang baru, belum punya tanah, belum punya harta. Bagaimana kau bisa menjaga anakku?" begitu kata orang tua Kebayan Bulan.
Patah hati namun tidak putus asa, keduanya bersepakat untuk bersatu dalam jalan lain. Suatu malam yang terang bulan, mereka berjanji untuk kawin lari, pergi dari desa itu untuk mencari kebahagiaan sendiri. Konon, mereka berjalan menyusuri aliran sungai, berlayar ke hilir, hingga akhirnya menetap di suatu tempat dan membangun keturunan baru.
Kisah ini menjadi legenda karena mengajarkan bahwa cinta tidak mengenal asal usul, dan semangat perantauan serta kerja keras akan membawa kebahagiaan. Cerita ini tertulis lengkap dalam naskah kuno berjudul Kisah Bujang Jawe di Lubuk Tua, yang kini tersimpan dan didokumentasikan, salah satunya di arsip digital Scribd dan Perpustakaan Nasional, sebagai warisan sastra lisan yang tak ternilai harganya.
Banyak penduduk Lubuk Tua hingga kini percaya bahwa sebagian dari mereka memiliki darah keturunan dari pasangan kekasih legendaris ini.
IV. Muara Kelingi: Bandar Raya di Pertemuan Sungai Besar
Sejarah Lubuk Tua tidak bisa dilepaskan dari sejarah wilayah induknya, Muara Kelingi. Secara geografis dan historis, wilayah ini adalah titik temu yang sangat penting dalam peta perdagangan masa lalu. Berada tepat di pertemuan Sungai Musi salah satu sungai terpanjang dan terbesar di Sumatera dengan Sungai Kelingi, menjadikan tempat ini pelabuhan alami yang sangat ramai dan strategis.
Dahulu kala, sebelum ada jalan raya atau kereta api, sungai adalah jalan raya utama. Dan Muara Kelingi adalah salah satu pasar dan pelabuhan teramai di wilayah ulu Palembang. Kapal-kapal dan perahu besar dari berbagai arah selalu berlabuh di sini:
- Pedagang dari Palembang membawa kain, keramik, dan barang mewah.
- Pedagang dari wilayah Ogan dan Komering membawa hasil bumi, beras, dan kayu.
- Orang-orang dari tanah Minangkabau datang berdagang rempah dan hasil kerajinan tangan.
- Bahkan pedagang asal Tionghoa pun rutin berlayar ke sini, membawa barang dagangan dari seberang lautan dan pulang membawa lada serta getah-getahan hutan .
Pembagian wilayah saat itu sangat jelas sebelah timur pasar adalah wilayah Desa Lubuk Tua, tempat pemukiman lama, tempat para tetua adat tinggal, dan pusat kebudayaan. Sedangkan sebelah barat adalah Desa Tanjung, yang lebih berkembang menjadi pusat pasar dan perdagangan aktif. Karena kedudukannya yang penting ini, Muara Kelingi berkembang menjadi pusat pemukiman tertua dan ibu kota kecamatan, yang pada tahun 1990-an resmi berubah status menjadi kelurahan .
Namau bukan hanya makmur dalam perdagangan, Muara Kelingi juga tebal akan semangat perjuangan. Pada masa kolonial, wilayah ini menjadi basis kekuatan para pejuang kemerdekaan. Di balik rimbunan pohon dan liku-liku sungai, para pahlawan seperti Serongsong, Muhammad Syahid bin Abustam, serta pasukan Divisi II Lubuklinggau sering berkumpul dan menyusun strategi gerilya untuk melawan penjajah Belanda yang berkedudukan di Palembang. Posisi tersembunyi namun strategis menjadikan Lubuk Tua dan sekitarnya benteng pertahanan yang tak mudah ditaklukkan .
V. Sumber Warisan: Menjaga Jejak Sejarah Tetap Hidup
Segala kisah, nama tokoh, dan peristiwa bersejarah ini tidak hilang ditelan waktu, karena masyarakat Lubuk Tua memiliki kesadaran tinggi untuk menjaga warisan leluhur. Berikut adalah sumber utama yang menjadi bukti otentik sejarah ini, yang tersimpan rapi dalam arsip budaya Indonesia:
1. Kisah Bujang Jawe di Lubuk Tua:
Naskah kuno berisi uraian lengkap legenda cinta dan asal-usul budaya, tersedia dalam arsip tulisan rakyat.
2. Cerita Rakyat Daerah Sumatera Selatan:
Buku hasil penelitian resmi tim daerah tahun 1978 - 1979, diterbitkan oleh Proyek Inventarisasi Kebudayaan Daerah, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Kemdikbud RI. Di dalamnya tercatat kisah Puyang Serunting Sakti, Puyang Panggar Besi, serta asal-usul kerajaan lokal.
3. Dokumentasi Kerajaan Lubuk Penjage:
Tulisan sejarah yang dikumpulkan oleh peneliti budaya lokal, diterbitkan di berbagai media sejarah daerah, mencatat silsilah raja dan peninggalan situs keramat.
4. Arsip Pemerintah Daerah:
Profil sejarah Kecamatan Muara Kelingi dan Kabupaten Musi Rawas yang memuat peran wilayah ini sebagai pusat perdagangan dan perjuangan.
Selain dokumen tertulis, warisan paling nyata ada pada tradisi yang masih berjalan upacara sedekah bumi, penghormatan di makam keramat, dan tutur kata orang tua yang selalu mengingatkan "Jangan lupa dari mana kita berasal, jangan lupa siapa yang membuka tanah ini."
Penutup: Warisan Abadi di Tepian Sungai Musi
Desa Lubuk Tua bukan sekadar nama di peta. Ia adalah perpustakaan hidup yang ditulis di atas tanah dan air, yang halamannya dibuka melalui cerita, nyanyian, dan adat istiadat. Di sini, Puyang Empat Bersaudara masih terasa hadir menjaga keturunan; di sini, jejak Kerajaan Lubuk Penjage still terasa kedaulatannya dan di sini, kisah Bujang Jawe serta Kebayan Bulan terus mengajarkan makna cinta dan keberanian.
Sebagai pewaris sejarah besar ini, masyarakat Lubuk Tua dan Muara Kelingi memegang amanah yang besar menjaga agar kisah ini tidak hilang, agar anak cucu nanti tetap tahu siapa leluhurnya, dan tetap bangga akan akar budaya yang begitu kaya, kuat, dan mulia. Di setiap hembusan angin dari arah Sungai Musi, selalu terselip pesan dari masa lalu Ingatlah asal-usulmu, jagalah tanah airmu, dan teruslah melangkah dengan kemuliaan para puyang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
terima kasih atas komentar anda