Senin, 20 April 2026

Indonesia Tidak Boleh Kecil di Dunia yang Besar

 

Oleh: Indria Febriansyah

Ada satu kesalahan cara berpikir yang terlalu lama mengendap dalam benak sebagian bangsa ini merasa cukup menjadi “negara berkembang” yang aman, netral, dan tidak terlalu menonjol. Seolah-olah kerendahan profil adalah strategi terbaik. Seolah-olah diam adalah bentuk kebijaksanaan. Padahal dalam realitas geopolitik hari ini, diam sering kali berarti ditinggalkan.

Dunia 2026 bukan lagi dunia yang bisa ditonton dari pinggir. Ia adalah arena keras, cepat, dan penuh kepentingan. Negara-negara besar tidak sedang menunggu kita siap mereka bergerak, membentuk aliansi, mengamankan sumber daya, dan mengunci pengaruh. Dalam situasi seperti ini, Indonesia tidak punya kemewahan untuk ragu.

Di titik inilah kita melihat pergeseran penting di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto. Banyak yang melihat kunjungan ke lebih dari 40 negara sebagai sekadar agenda seremonial. Saya melihatnya berbeda ini adalah sinyal bahwa Indonesia mulai keluar dari mentalitas “penonton” menuju “pemain”.

Diplomasi Bukan Jalan-Jalan, Tapi Pertarungan Kepentingan

Mari kita luruskan dulu satu hal diplomasi bukan soal foto bersama, bukan soal karpet merah, dan bukan soal pidato manis di forum internasional. Diplomasi adalah pertarungan kepentingan nasional dengan cara yang elegan.

Ketika Indonesia menjalin kerja sama energi dengan Rusia, itu bukan sekadar diversifikasi mitra. Itu adalah langkah strategis untuk memastikan bahwa Indonesia tidak tergantung pada satu kutub kekuatan energi global. Dunia sedang menghadapi ketidakpastian energi, dan negara yang tidak punya cadangan atau akses akan menjadi lemah.

Di sisi lain, kerja sama pertahanan dengan Prancis, termasuk pengadaan jet tempur, bukan sekadar belanja militer. Ini adalah pesan politik Indonesia serius menjaga kedaulatannya. Dalam dunia yang semakin tidak pasti, kekuatan militer bukan untuk menyerang, tetapi untuk memastikan tidak ada yang berani meremehkan.

Kita harus jujur pada diri sendiri selama ini, kita terlalu nyaman dengan narasi “negara damai”. Padahal damai tanpa kekuatan adalah ilusi. Sejarah dunia tidak pernah memihak yang lemah, kecuali mereka yang mampu membuat dirinya diperhitungkan.

Seribu Kawan Terlalu Sedikit, Prinsip yang Harus Dipahami Ulang

Ungkapan “seribu kawan terlalu sedikit, satu musuh terlalu banyak” bukan sekadar retorika klasik. Dalam konteks hari ini, itu adalah strategi bertahan hidup.

Indonesia tidak boleh terjebak dalam dikotomi Barat vs Timur, Amerika vs Tiongkok, atau blok manapun. Kita harus berani berdiri di atas kepentingan sendiri. Artinya, kita bisa bekerja sama dengan siapa saja selama itu menguntungkan rakyat Indonesia.

Namun di sinilah tantangannya membangun banyak kawan membutuhkan kapasitas. Tidak cukup hanya membuka pintu kita harus punya sesuatu yang membuat orang lain ingin masuk.

Apa itu? Jawabannya sederhana tapi berat kekuatan ekonomi, stabilitas politik, dan kualitas sumber daya manusia.

Tanpa itu, diplomasi hanya akan menjadi basa-basi. Kita akan disambut, tapi tidak diperhitungkan.

Indonesia sebagai “Raksasa yang Bangun” Atau Sekadar Slogan?

Banyak yang mengatakan Indonesia adalah “rising giant”. Saya tidak sepenuhnya setuju belum. Kita punya potensi menjadi raksasa, tapi potensi bukan kekuatan. Potensi tanpa eksekusi adalah ilusi yang dipelihara.

Ya, kita punya sumber daya alam melimpah. Ya, kita punya populasi besar. Ya, kita punya posisi strategis. Tapi pertanyaannya apakah itu sudah diterjemahkan menjadi kekuatan nyata?

Di sinilah saya ingin memberi catatan kritis. Diplomasi luar negeri yang aktif harus diiringi dengan revolusi di dalam negeri. Kalau tidak, kita hanya akan menjadi pasar besar, bukan pemain besar.

Kita tidak boleh puas hanya menjadi tujuan investasi. Kita harus menjadi pengendali nilai tambah. Kita tidak boleh hanya mengekspor bahan mentah kita harus membangun industri yang mengolahnya.

Kalau tidak, maka semua kerja sama internasional hanya akan memperkuat pihak lain sementara kita tetap di posisi bawah.

Bahasa, Budaya, dan Kecerdasan Diplomasi

Satu aspek yang sering diremehkan adalah kemampuan komunikasi lintas budaya. Dunia tidak hanya bergerak dengan kekuatan ekonomi dan militer, tetapi juga dengan pemahaman.

Kemampuan berbahasa asing bukan sekadar keterampilan teknis itu adalah alat kekuasaan. Ia membuka akses, membangun kepercayaan, dan mempercepat negosiasi.

Namun kita juga harus ingat menjadi “warga dunia” bukan berarti kehilangan identitas. Justru sebaliknya kita harus membawa Indonesia ke dunia, bukan melebur tanpa arah.

Di sinilah konsep “Unity in Diversity” menjadi relevan. Indonesia punya kekayaan budaya yang luar biasa. Jika dikelola dengan benar, ini bisa menjadi soft power yang sangat kuat.

Negara seperti Korea Selatan bisa mengekspor budaya melalui K-pop dan drama. Kita punya jauh lebih banyak. Pertanyaannya apakah kita serius mengelolanya?

Jangan Sampai Diplomasi Elit, Rakyat Tertinggal

Saya ingin menegaskan satu hal yang sering dilupakan ukuran keberhasilan diplomasi bukan berapa banyak negara yang dikunjungi, tetapi seberapa besar dampaknya bagi rakyat.

Apakah kerja sama energi menurunkan harga listrik?

Apakah kerja sama ekonomi membuka lapangan kerja?

Apakah kerja sama pertahanan meningkatkan rasa aman masyarakat?

Jika jawabannya tidak jelas, maka kita harus berani mengoreksi.

Diplomasi tidak boleh menjadi proyek elit. Ia harus terasa sampai ke desa. Ia harus menjawab kebutuhan petani, nelayan, buruh, dan pelaku UMKM.

Kalau tidak, maka narasi “Indonesia Maju” hanya akan menjadi slogan yang indah di atas kertas, tapi kosong di lapangan.

Jalan ke Depan Berani, Tapi Tetap Rasional

Saya tidak termasuk yang sinis terhadap langkah-langkah global yang sedang dilakukan. Sebaliknya, saya melihat ini sebagai momentum yang harus dijaga.

Namun dukungan tidak boleh buta. Kita harus tetap kritis, tetap rasional, dan tetap berpihak pada kepentingan rakyat.

Indonesia harus berani besar tapi tidak boleh kehilangan arah. Kita harus aktif di dunia tapi tidak boleh lupa rumah sendiri.

Kita harus membangun kekuatan dari dua sisi

ke luar dengan diplomasi yang agresif,

ke dalam dengan pembangunan yang adil dan merata.

Indonesia Harus Memimpin, Bukan Mengikuti

Dunia tidak membutuhkan Indonesia yang ragu-ragu. Dunia membutuhkan Indonesia yang jelas arah dan sikapnya.

Kita terlalu besar untuk menjadi pengikut.

Kita terlalu kaya untuk menjadi miskin.

Kita terlalu beragam untuk terpecah.

Jika langkah diplomasi ini konsisten, jika pembangunan dalam negeri diperkuat, dan jika kepemimpinan tetap berpihak pada rakyat, maka Indonesia bukan hanya akan menjadi “rising giant” tetapi benar-benar menjadi kekuatan global yang dihormati.

Dan ketika hari itu tiba, kita tidak lagi bertanya apakah dunia melihat Indonesia.

Dunia akan bertanya ke mana Indonesia melangkah selanjutnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

terima kasih atas komentar anda