(Sebuah Tulisan Ringan dari Rakyat yang Berat Hidupnya)
Di suatu negeri bernama Republik Rakyat Merunduk, ada seorang istri menteri yang mendadak viral. Bukan karena menang sayembara puisi atau lomba masak nasi goreng istana, tapi karena terbang ke Eropa dengan surat berkop negara, tapi katanya pakai uang pribadi.
Katanya, beliau hanya menemani anaknya ikut festival budaya. Katanya, semua dibayar dari rekening pribadi. Katanya, surat itu dibuat tanpa sepengetahuan beliau. Katanya lagi, beliau bahkan sudah di Eropa duluan sebelum surat dibuat. Pokoknya, semua katanya-katanya terdengar sangat diplomatik, hingga membuat rakyat bingung: ini perjalanan pribadi atau tur diplomasi rasa keluarga?
Surat Negara, Tapi Rakyat Disuruh Percaya Ini Urusan Pribadi
Kalau saya rakyat jelata ingin pinjam tenda ke kelurahan saja bisa ditolak karena "tidak ada surat resmi", maka mengapa ada surat resmi negara untuk urusan yang katanya tidak resmi? Surat permintaan pendampingan ke enam KBRI dan satu konsulat itu bukan dibuat di warung kopi, melainkan di kementerian. Tapi entah kenapa, istri menteri bisa bilang, "Saya tidak tahu menahu, saya cuma numpang paspor."
Wahai Ibu, kami percaya Anda baik, tapi kami lebih percaya pada hukum termodinamika kedua: sesuatu yang beredar dengan kop surat negara, biasanya tidak lahir dari mimpi rakyat kecil.
Abuse of Power ala Smooth Operator
Fenomena ini menandai bab baru dari kamus kekuasaan di negeri kita: “Abuse of Power Tanpa Meninggalkan Jejak Transfer.”
Kalau seorang istri pejabat bisa dengan mudah “dibantu” oleh institusi negara tanpa prosedur resmi (bahkan tanpa sepengetahuannya!), apa kabar rakyat miskin yang harus mengantri BLT sambil membawa fotokopi KK dan akta kelahiran nenek buyut?
Apakah nanti muncul tren “Wisata Pribadi Rasa Protokoler”? Bisa jadi. Hari ini Eropa, besok mungkin Safari Afrika. Bukan untuk studi banding, tapi studi selfie.
Kecemburuan Nasional: Dari Kompor Gas ke Tiket Paris
Ibu Menteri mungkin lupa, di saat yang sama:
Banyak anak rakyat tidak bisa ikut lomba karena orang tuanya tidak sanggup beli sepatu, apalagi tiket pesawat.
Banyak emak-emak antri bantuan sosial pakai sandal jepit, bukan heels di bandara internasional.
Banyak bapak-bapak gagal jadi “pendamping anak” karena tak sanggup izin kerja dan ongkos naik kereta.
Jangan heran jika perjalanan pribadi berselimut negara ini bisa menimbulkan "cemburu nasional", gejala sosial yang rawan berubah jadi kericuhan mikro-politik: protes di warung, sinisme di medsos, dan ketidakpercayaan pada semua pejabat (yang bahkan belum tentu ikut salah).
Akhir Kata Tulisan ini Bukan Fitnah, Tapi Alarm
Kami tahu, tulisan bukan solusi. Tapi tulisan adalah alarm. Alarm agar negara tidak berubah menjadi panggung pribadi, agar birokrasi tidak dijadikan agen travel keluarga pejabat.
Wahai para istri pejabat, kalau memang benar tidak pakai anggaran negara, bagus. Tapi izinkan rakyat mengajukan satu pertanyaan:
Kalau bukan Anda yang minta dibuatkan surat negara, lalu siapa yang cukup berani membuatnya? Setan alas meja?
Kami rakyat miskin, memang tak bisa ke Eropa. Tapi kami punya satu tiket gratis: logika sehat dan kecerdasan kolektif. Dan tiket ini, Bu, tidak bisa Anda batalkan hanya dengan klarifikasi Instagram.
Salam dari rakyat yang tak pernah dikirimi surat dari kementerian. Bahkan untuk ucapan selamat ulang tahun pun tidak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
terima kasih atas komentar anda