Kamis, 10 Juli 2025

Menang Bermartabat di Perang Dingin Ekonomi

 Pendapat KSTI untuk Indonesia sebagai Anggota BRICS


Oleh: Indria Febriansyah, S.E., M.H.

Ketua Umum Kabeh Sedulur Tamansiswa Indonesia (KSTI)

Pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump soal rencana pemberlakuan tarif 10 persen terhadap negara-negara anggota BRICS, termasuk Indonesia, adalah sinyal tegas bahwa dunia telah memasuki babak baru dari perang dingin ekonomi global. Ini bukan lagi sekadar tarik-ulur dagang, melainkan konflik sistemik antara hegemoni lama yang berusaha dipertahankan dan kekuatan baru yang berupaya menciptakan tatanan dunia multipolar.

Sebagai bangsa yang kini resmi menjadi bagian dari BRICS, Indonesia harus menjawab tantangan ini bukan dengan ketakutan, tetapi dengan ketegasan visi dan kemandirian strategi. Kita tidak boleh menjadi pion dalam pertarungan para raksasa. Kita harus menjadi pemegang kompas atas nasib kita sendiri.

BRICS: Pilihan Jalan Mandiri

Masuknya Indonesia ke dalam BRICS adalah langkah historis. Ini bukan sekadar aliansi ekonomi, tetapi simbol keberanian untuk keluar dari ketergantungan pada dolar dan sistem finansial global yang seringkali timpang. BRICS menawarkan ruang untuk membangun kerja sama yang lebih adil, berbasis keseimbangan kekuatan, dan respek terhadap kedaulatan.

Namun, keberanian itu menuntut konsekuensi. Tekanan dari Washington hanyalah awal. Kita harus bersiap menghadapi tarif, blokade investasi, hingga tekanan diplomatik yang lebih kompleks. Dan kita harus menyambut itu semua dengan kesiapan rakyat yang sadar, pemerintah yang tegas, dan ekonomi yang berdiri di atas kaki sendiri.

Strategi Penyelamatan Bangsa

Untuk memenangkan perang dagang dingin ini, Indonesia harus melangkah dengan strategi yang progresif dan berpihak pada rakyat. Berikut pandangan kami dari KSTI:

1. Bangun Kedaulatan Pangan dan Energi

Negara tak akan pernah kuat jika perut rakyat dikendalikan oleh impor. Kita harus memperkuat pertanian rakyat, perikanan tradisional, dan energi terbarukan. Ini bukan hanya soal ekonomi, ini soal bertahan hidup dalam krisis global.(hal ini sudah dimulai Presiden Pabowo) 

2. Dekoloni Sistem Pendidikan dan Riset

Kita harus melahirkan ilmuwan, ekonom, dan teknokrat yang berpikir mandiri, tidak tunduk pada narasi Barat. Sistem pendidikan kita harus dirancang untuk membebaskan, bukan meniru.

3. Perluas Mata Uang Lokal dan Sistem Pembayaran Alternatif

Indonesia harus aktif mendorong penggunaan mata uang lokal dalam transaksi lintas negara BRICS. Sistem seperti Qris atau kerja sama antarbank sentral harus dipercepat untuk mengurangi dominasi dolar.

4. Lindungi UMKM dari Guncangan Global

Pemerintah harus memberikan insentif, subsidi, dan perlindungan terhadap UMKM agar tetap bertahan di tengah potensi krisis impor-ekspor. UMKM adalah tulang punggung kedaulatan ekonomi kita. (Dalam Program Presiden Prabowo program BGN dan Koperasi Desa Merah Putih adalah usaha untuk itu) 

5. Perluas Diplomasi Rakyat

Perang ekonomi tak hanya terjadi di meja perundingan, tapi juga dalam persepsi publik dunia. Maka, rakyat harus dilibatkan dalam gerakan solidaritas ekonomi global, melalui pertukaran budaya, kerja sama pendidikan, dan konsolidasi gerakan rakyat lintas negara.

Bangsa yang Merdeka Tidak Takut Diancam

Trump boleh saja mengklaim dolar sebagai “raja”, tapi kami rakyat Indonesia percaya bahwa kedaulatan adalah mahkota sejati. Dan mahkota itu hanya bisa dipertahankan oleh bangsa yang sadar, bersatu, dan berani.

Kami, Kabeh Sedulur Tamansiswa Indonesia, menyerukan kepada seluruh elemen bangsa: jangan gentar menghadapi tekanan. Justru inilah momen kita untuk membuktikan bahwa Indonesia bukan sekadar pasar, tapi kekuatan moral dan ekonomi yang diperhitungkan. Kita tidak boleh hanya bertahan. Kita harus menang. Menang dengan bermartabat, menang dengan berpihak pada rakyat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

terima kasih atas komentar anda