Selasa, 03 Juni 2025

1 Juni dan Luka Sosial: Ketika Pancasila Dilantunkan, Ketimpangan Dibiarkan

 


Oleh: Indria Febriansyah

Ketua Umum Kabeh Sedulur Tamansiswa Indonesia

Relawan Pemenangan Prabowo Presiden


Setiap 1 Juni, kita memperingati hari lahir Pancasila. Sebuah momen historis ketika Bung Karno, dengan jiwa kenegarawanannya, menyampaikan dasar negara yang menjadi titik temu dari keberagaman dan cita-cita luhur bangsa: keadilan, persatuan, dan kemanusiaan.

Namun, mari kita jujur: apa arti Pancasila hari ini jika ketimpangan ekonomi justru semakin nyata? Apa makna “Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia” jika akses terhadap tanah, pendidikan, pekerjaan, dan modal hanya bisa dinikmati oleh segelintir elite ekonomi-politik?

Sebagai ketua umum Kabeh Sedulur Tamansiswa Indonesia, saya dan ribuan relawan lainnya telah bekerja tanpa pamrih memenangkan Prabowo Subianto dalam kontestasi presiden 2024. Kami percaya, Prabowo bukan hanya simbol kekuatan militer atau nasionalisme, tapi juga harapan atas perubahan nyata bagi wong cilik — rakyat yang selama ini hanya dijadikan angka dalam statistik.

Tapi perjuangan kami tidak selesai di TPS. Justru setelah kemenangan itulah perjuangan relawan sejati dimulai: mengawal, mengingatkan, dan kadang harus bersuara keras agar pemerintahan tetap berada di jalan ideologis Pancasila.

Sayangnya, pola lama masih terlihat: ketika kekuasaan diraih, relawan dilupakan. Akar rumput yang dulu menjadi mesin perubahan malah ditinggalkan. Yang diangkat justru mereka yang punya modal, kedekatan elite, atau kepentingan pragmatis. Ini adalah luka sosial yang tak boleh dianggap biasa. Ini pengkhianatan terhadap semangat Pancasila itu sendiri.

Kami tidak anti pembangunan. Tapi pembangunan yang tidak memihak kepada petani, buruh, nelayan, UMKM, dan kaum miskin kota, hanya akan melanggengkan struktur kolonialisme ekonomi dalam wujud baru: ketimpangan yang dilembagakan.

Untuk itu, kami menyerukan agar pemerintahan Presiden Prabowo dan Wapres Gibran benar-benar berpihak kepada rakyat. Jangan hanya menggaungkan Pancasila dalam pidato, tapi melaksanakannya dalam kebijakan.

Kami, para relawan yang lahir dari keringat perjuangan dan semangat Tamansiswa, akan tetap konsisten mengawal pemerintah. Tapi jangan anggap diam kami sebagai setuju. Dan jangan paksa kami untuk membungkam nurani demi menjaga citra. Karena kesetiaan sejati adalah mengingatkan, bukan menjilat.


Selamat Hari Lahir Pancasila.

Jangan biarkan ia hanya jadi nyanyian,

sementara ketimpangan terus berjalan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

terima kasih atas komentar anda