MENJAGA KOTA SEBAGAI RUANG BERSAMA DALAM MEMBANGUN PALEMBANG BERDAYA
*(_Ki Edi Susilo_)*
Palembang, seperti kota besar lainnya, bukan sekadar ruang geografis, tetapi juga wadah kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya yang harus dijaga bersama. Sebuah kota tidak hanya dibangun dari kebanggaan warganya, tetapi juga dari bagaimana masyarakatnya mampu mempertahankan harmoni dan keseimbangan antara identitas lokal, keamanan sosial, serta stabilitas ekonomi.
Kasus viralnya video Willie Salim tidak bisa dilihat secara simplistis hanya dalam bingkai demokrasi dan kebebasan berekspresi. Ada kepentingan yang lebih besar, yaitu bagaimana citra kota dan perilaku warganya dapat berdampak terhadap keberlanjutan ekonomi, khususnya sektor jasa, UMKM, perhotelan, serta pariwisata. Kota bukan hanya milik individu, melainkan milik bersama yang harus dijaga demi kepentingan kolektif.
Kita bisa berkaca dari kota-kota lain yang telah berhasil membangun citra positif dengan kesadaran publik yang tinggi, seperti Yogyakarta. Kota ini tetap dikenal sebagai kota wisata dan kota pelajar, meskipun di bawah permukaannya terdapat berbagai dinamika sosial yang kompleks. Keberhasilan ini bukan hanya karena peran pemerintah, tetapi juga kesadaran masyarakat dalam menjaga keseimbangan antara realitas sosial dan wajah kota yang ingin mereka tunjukkan kepada dunia luar.
Palembang memiliki sejarah kejayaan Sriwijaya yang menjunjung tinggi nilai-nilai adab dan kearifan lokal. Jika masyarakatnya tidak mampu menjaga nilai-nilai ini dalam menghadapi era digital, maka citra kota akan mudah tergerus oleh narasi-narasi yang kurang menguntungkan. Demokrasi dan kebebasan berpikir memang hak setiap individu, tetapi kebebasan ini tidak boleh mengorbankan kepentingan yang lebih luas, yaitu kemaslahatan rakyat.
Lebih dari sekadar membangun kebanggaan terhadap kota, kita perlu membangun kesadaran bahwa setiap tindakan, baik di dunia nyata maupun digital, memiliki konsekuensi terhadap masyarakat secara keseluruhan. Kota yang kuat bukan hanya kota yang megah secara infrastruktur, tetapi juga kota yang masyarakatnya memiliki kesadaran untuk saling menjaga, melindungi, dan membangun demi masa depan yang lebih baik.
Dalam kehidupan, ada batas yang jelas antara urusan spiritual dan sosial. Agama telah mengajarkan konsep Hablum minallah (hubungan dengan Tuhan), Hablum minannas (hubungan dengan sesama manusia), dan Hablum minal ‘alam (hubungan dengan lingkungan). Ketiga aspek ini harus berjalan seimbang agar suatu masyarakat dapat berkembang dengan baik. Cinta terhadap tanah air dan cinta terhadap manusia tidak bisa disamakan dengan cinta kepada Tuhan, tetapi ketiganya memiliki keterkaitan dalam menciptakan keharmonisan sosial.
Dalam konteks ini, viralnya video Willie Salim di Palembang tidak bisa dilihat sebagai sekadar peristiwa hiburan atau kebebasan berekspresi dalam berdemokrasi. Ada dampak yang lebih besar, yaitu bagaimana peristiwa tersebut mencerminkan citra kota dan berpengaruh terhadap stabilitas sosial serta ekonomi masyarakat. Palembang bukan hanya kebanggaan warganya, tetapi juga kota yang menopang perekonomian rakyat melalui sektor jasa, UMKM, dan pariwisata. Keamanan, ketertiban, serta citra kota sangat menentukan keberlanjutan geliat ekonomi, terutama dalam menarik wisatawan lokal maupun internasional.
Oleh karena itu, bukan hanya soal membela kebebasan berpikir atau bersikap dalam demokrasi, tetapi juga bagaimana kita menjaga kepentingan masyarakat secara luas. Kejadian yang tampak sepele di media sosial bisa memiliki efek yang lebih dalam, merugikan banyak pihak jika tidak dikelola dengan baik. Kesadaran bersama untuk melindungi citra kota adalah bagian dari tanggung jawab sosial, bukan sekadar tuntutan kebanggaan lokal.
Masyarakat, pemerintah, dan pelaku ekonomi harus melihat kejadian ini sebagai refleksi bahwa kota bukan hanya tempat tinggal, tetapi juga sistem yang saling bergantung. Tidak cukup hanya mencintai dan berbangga dengan kota, tetapi harus ada kesadaran untuk menjaganya demi kepentingan bersama. Kemaslahatan rakyat harus menjadi prioritas, dan ini hanya bisa terwujud jika ada kebersamaan dalam membangun serta melindungi citra kota dari hal-hal yang bisa merusaknya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
terima kasih atas komentar anda