Opini: Indria Febriansyah
Narasi yang menyebut bahwa negara sedang “meneror” konten kreator kritis perlu diuji secara logis dan politik. Dalam konteks negara demokrasi modern terlebih di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menyasar konten kreator dengan jutaan pengikut secara terbuka justru merupakan tindakan bunuh diri politik.
Negara tidak sebodoh itu.
Konten kreator hari ini bukan lagi individu biasa. Mereka adalah opinion maker, memiliki reach yang setara bahkan melampaui media arus utama. Menyentuh mereka secara represif hanya akan memicu ledakan solidaritas publik,bframing internasional soal kemunduran demokrasi, dan krisis legitimasi kekuasaan. Karena itu, tuduhan bahwa teror ini adalah kebijakan negara tidak berdiri di atas analisa kekuasaan yang sehat. Siapa yang Diuntungkan dari Narasi “Negara Menindas”....? Dalam politik, pertanyaan kunci selalu sama: cui bono? siapa yang diuntungkan..? Jika negara dirugikan secara citra, stabilitas, dan legitimasi, maka hampir pasti bukan negara pelakunya. Justru ada indikasi kuat bahwa yang bermain adalah:
1. Mafia Kekuasaan dan Oligarki Tersentuh
Banyak konten kreator hari ini mengkritik proyek tertentu, membongkar relasi bisnis–politik, atau menguliti kebijakan sektoral yang merugikan publik. Kritik semacam ini tidak selalu mengganggu negara, tetapi sangat mungkin mengganggu kepentingan oligarki, mafia proyek, rente ekonomi, dan aktor-aktor bayangan yang selama ini nyaman beroperasi di wilayah abu-abu kekuasaan. Ketika kepentingan mereka terusik, maka teror, intimidasi, doxing, kriminalisasi sosial menjadi alat murah dan efektif.
2. Politik Adu Domba: Negara vs Rakyat
Dengan membuat seolah-olah negara adalah pelaku teror, ada agenda yang lebih besar merusak kepercayaan publik terhadap pemerintah, menciptakan jarak antara rakyat dan negara, dan memantik konflik horizontal berbasis emosi, bukan data. Ini adalah politik kambing hitam klasik, ketika oligarki terpojok, negara dijadikan sasaran amarah publik.
Teror Bukan Sekadar Kriminal, tapi Sinyal Politik
Fenomena teror terhadap konten kreator bukan isu remeh. Ini adalah alarm serius bahwa ada kelompok yang merasa terancam oleh kebebasan informasi, ada aktor non-negara yang ingin mengendalikan narasi publik, dan ada upaya sistematis membungkam kritik tanpa harus muncul di panggung resmi. Justru di sinilah peran negara seharusnya diuji: bukan sebagai tertuduh, melainkan sebagai pelindung ruang sipil.
Kesimpulannya Jangan Salah Sasaran,
Menyalahkan negara secara membabi buta justru menguntungkan mereka yang bermain di balik layar. Kritik harus diarahkan dengan presisi:
Lawan oligarki, bukan negara
Bongkar mafia, bukan memelihara paranoia
Jaga akal sehat publik dari provokasi emosional
Karena ketika masyarakat terjebak dalam narasi bahwa “negara selalu musuh”, maka yang tertawa paling keras adalah mereka yang selama ini menghisap negara dan rakyat sekaligus. Ini bukan soal pro atau kontra pemerintah. Ini soal siapa yang sebenarnya takut pada suara rakyat yang makin cerdas.


















